• Rania Amina

    Selamat Datang di Coretan Kecil Rania Amina

  • Rania Amina

    Tak Perlu Bersusah Payah Mengingat Namaku, Sebab Kaubakal Mengingat dengan Sendirinya Suatu Hari Nanti

  • Rania Amina

    Anda Orang Indonesia? Cintai Bahasa dan Budayanya! Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?

  • Rania Amina

    Tanamkan Niat untuk Menjadi "Khoiru An-Nass Anfauhum Li An-Nass

  • Rania Amina

    Ikhlas, All Out, Lillahi Taala! Kunci Sukses Dunia Akhirat

  • Rania Amina

    Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Saturday, 17 October 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:23
Angin apa ini dinginnya melebihi rindu
Rantingranting pohonan jadi bersampur merah
Mengajakku menari gigil di bawah jembatan
Rahim tua yang melahirkan anakanak sungai

Mimpiku pun jatuh pada selembar daun
Dihempaskannya di atas batubatu kali
Sebelum terbawa arus deras lahar dingin
Hancur dan sampai muaranya: lautmu

Betapa mungkin angin tipis ini rutin
Mengurai rambut panjangmu menjadi gerimis
Sebelum hujan pecah di bingkai jendela
Dan kupukupu terbang ke dalam cermin kamarmu

Asef Saiful Anwar


Puisi tersebut pertama kali aku dengar dibawakan oleh grup musikalisasi puisi Ramu Rima saat acara Kampung Budaya FIB UGM. Sejujurnya saat awal mendengar aku kurang begitu tertarik dengan puisi yang dinyanyikan oleh grup tersebut. Alsannya simpel, karena aku tak bisa menangkap dengan jelas kalimat yang terlantun dari puisi karya Asef Saiful Anwar itu.
Kemudian, setelah beberapa bulan di FIB entah ada angin apa, tiba-tiba aku memiliki hasrat untuk mencari tahu puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu. Alhasil, aku pun mendapatkan syair utuh tersebut dari buku antologi dengan judul yang sama dari salah seorang teman dudukku. 
Lamat-lamat aku perhatikan bait demi bait puisi tersebut. Lalu aku mecoba menyanyikannya dengan nada yang tentunya tak sebaik penyanyi aslinya. Aku bukan seorang ahli perpuisian, namun boleh dibilang aku adalah penikmat puisi yang sok, sok ingin tahu apa maksud dari puisi yang aku dapatkan itu.
Aku tahu dan amat menyadari bahwa ada nilai romantisme dalam puisi angin tersebut, namun aku sendiri tak tahu mengapa jadi demikian. Padahal tak ada satupun kata cinta kutemukan dalam tiga bait puisi itu. Ya, romantisme cinta tanpa kata “cinta”. Setidaknya aku bisa membayangkan seorang yang amat cantik muncul dalam imajinasiku saat menghayati puisi tersebut. Perempuan yang tergerai ramputnya, perempuan yang mampu menggetarkan kehidupanku, perempuan yang melahirkan kerinduan pada hatiku. 

Rekan-rekan yang ingin mendengarkan bagaimana puisi ini dilantunkan atau dimusikalisasikan dapat mendownload lagunya di link bawah ini.



0 comments:

Kontak Rania

Tentang Rania

Rania Amina - Mahasiswa Sastra Indonesia yang jatuh cinta pada Free/Libre and Open Source Software. Sementara ini "numpang" tinggal di Yogyakarta. Inkscape, Gimp dan Scribus adalah aplikasi favoritnya saat ini.


Berbagi adalah hal terbaik yang pernah diajarkan oleh komunitas FLOSS