• Rania Amina

    Selamat Datang di Coretan Kecil Rania Amina

  • Rania Amina

    Tak Perlu Bersusah Payah Mengingat Namaku, Sebab Kaubakal Mengingat dengan Sendirinya Suatu Hari Nanti

  • Rania Amina

    Anda Orang Indonesia? Cintai Bahasa dan Budayanya! Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?

  • Rania Amina

    Tanamkan Niat untuk Menjadi "Khoiru An-Nass Anfauhum Li An-Nass

  • Rania Amina

    Ikhlas, All Out, Lillahi Taala! Kunci Sukses Dunia Akhirat

  • Rania Amina

    Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Tuesday, 8 September 2015

Posted by Rania Amina
5 comments | 17:04

Sejak pertama kali datang ke Jogja, aku telah memiliki niat untuk tetap mengembangkan dan menyebarkan “wabah” linux pada orang-orang di sekitarku nantinya. Atas hal ini, aku sangat bersemangat, lantaran asumsi bahwa di UGM pasti banyak yang paham soal linux. 

Hari pertama kuliah, saat ada sebuah kesempatan berkenalan, aku sengaja menyinggung istilah-istilah open source untuk memoles bicaraku. Misalnya, “Salam FOSS, Salam Merdeka!” dan lain-lain. Begitu pun saat aku mengungkapkan hobiku selain menulis, aku beranikan diriku untuk berucap, “Selain menulis, hobi saya adalah bermain sambil pacaran dengan Rafaela”. Atas ujaranku itu, akhirnya beberapa teman baruku banyak yang penasaran dan bertanya, “Siapa itu Rafaela?”. Aku tersenyum dan akhirnya pada sesi perkenalan yang singkat itu, aku sedikit demi sedikit memperkenalkan linux pada teman-teman baruku.

Beberapa memang tertarik, namun malangnya nasib tak dapat kutolak. Aku kalah promo dengan staf bagian sumber daya informasi yang memromosikan windows dan office “legal”nya yang merupakan buah dari MoU dengan Microsoft. 

Aku tak kehabisan akal. Aku dekati staff yang kemarin memresentasikan ihwal windows dan office kemarin, dan akhirnya aku tahu, bahwa mahasiswa hanya mendapatkan jatah Ms. Office saja, sedang Ms. Windows hanya diberikan pada Dosen dan staf-staf administrasi. Aku tertawa dalam hati, “Sama aja bohong”.

Kau tahu, mungkin seperti inilah rasanya Tenzin (anak dari Avatar Aang) atau mungkin Avatar Aang sendiri, saat mencari pengendali udara selain dirinya. Sedang di sisi lain, ia dihadapkan dengan serangan negara api yang begitu ambisius di masa itu. Ok, ini hanya joke.

Pencarianku tetap berlanjut. Hingga akhirnya aku mencoba untuk menghubungi KPLI Jogja yang sialnya tak lagi begitu aktif. Aku masih mencari, hingga pada suatu kesempatan, aku beranikan diri untuk menghubungi dosen-dosen yang pernah bersinggunag dengan proyek UGM Goes Open Source (UGOS). Alhasil, berkenalanlah aku dengan Pak Mardhani dan Pak Erwin. Mereka berdua inilah yang akhirnya memacu semangatku, karena ternyata Pak Erwin termasuk pegiat FOSS yang masih aktif sampai sekarang.

Tak puas sampai di situ, aku masih berusaha untuk mencari pengguna linux yang statusnya mahasiswa sepertiku. Tak lama kemudian, seorang mahasiswa dari Fakultas Teknik menguhubungiku via pesan Facebook. Dengan bahasa yang amat halus ia meminta bantuan tentang linux untuk dijadikan tugas akhir. Aku sempat merinding saat ia bilang, “Saya pakai CentOS mas.”

Masih juga belum puas, aku kembali bertanya-tanya pada diriku, “Bukankah dulu di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ini pernah ada proyek Budaya Goes Open Source (BUGOS) ya? Lalu, dimanakah sisa-sisa puing proyek tersebut?”. Aku kembali melakukan penelusuran. Satu-satunya sisa proyek BUGOS yang masih dapat kujumpai adalah di perpustakaan FIB yang masih menggunakan linux untuk komputer-komputernya.

Sejujurnya aku hampir putus asa. Namun Tuhan berkata lain. Tuhan memang sutradara paling hebat, pengatur cerita yang tak pernah bisa kutebak dengan pasti. Pemberi kejutan yang paling indah.

Kemarin sore (8 September 2015), usai kuliah, aku hendak menuju ke mushola Al-Adab FIB untuk menunaikan sholat Ashar. Setelah berwudlu, ketika akan masuk mushola, tiba-tiba mataku menangkap sebuah layar notebook axio yang sedang menjalankan libreoffice. Hatiku dag-dig-dug. Aku amati secara diam-diam, dan benarlah dugaanku. AKU MENEMUKAN PENGGUNA LINUX!!!

Kuberanikan diri untuk menyapa orang yang sedang serius bekerja tersebut, “Pakai linux ya, Mas?” tanyaku.

“Iya, mas paham linux juga?” Dan akhirnya perbincangan pun tak dapat dihindari. Perbincangan sempat terhenti saat aku mohon izin untuk menunaikan sholat, dan berlanjut lagi setelah itu.

Dari penuturan Adif, mahasiswa S2 semester akhir ini, masih lumayan banyak kok pengguna linux di FIB. Namun rata-rata mereka anak mushola dan Pak Erwin adalah orang di balik semua ini. Semangat dan gairahku pun kembali memerah. Pada Mas Adif ini, aku bertanya-tanya seputar kronologis perkembangan linux di mushola FIB.

Dari penjelasannya, linux di mushola FIB itu dimulai bertahun-tahun saat ada diskusi tentang pembajakan yang dikaitkan tentang problem hala-haram dari sudut pandang agama. Nah, pada saat itulah Pak Erwin untuk pertama kalinya memperkenalkan linux sebagai alternatif terbaik untuk menghindari pembajakn perangkat lunak. “Kalau kita bekerja menggunakan software bajakan, dan kita tahu akan keharaman melakukan hal itu, maka boleh jadi semua tugas yang kita buat juga bernilai haram. Mengapa? Karena hasil pekerjaan yang kita peroleh bersumber dari hal yang tidak halal” ucap Mas Adif menirukan argumen Pak Erwin.

Setelah diskusi tersebut, akhirnya muncullah kesadaran bersama untuk menggunakan linux dan meninggalkan windows. Dan lagi-lagi, Pak Erwin inilah yang dengan sabar membanti rekan-rekan di FIB untuk masalah instalasi, panduan teknis dan lain-lain.

Hal yang benar-benar aku kagumi dari pengguna linux di mushola FIB ini adalah kesinambungannya. Mereka semua mengakui bahwa pada tahap awal memang perlu sedikit adapatasi, namun pada akhirnya semua itu menjadi lebih mudah saat telah menjadi kebiasaan. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak terkendalanya tugas-tugas para pengguna linux di FIB yang selama ini mereka buat denga libreoffice. Yang paling manarik menarik lagi adalah kenyataan bahwa para pengguna linux di mushola FIB adalah sekedar pengguna, bukan tukang oprek seperti aku atau mungkin teman-teman di forum. Mereka mungkin tak paham apa itu sudo, terminal, grub, lingkungan desktop dan hal-hal teknis lainnya, namun kenyataannya mereka telah bertahun-tahun menggunakan linux mint yang bahkan sengaja tidak diupdate untuk keperluan sehari-hari. 

Jika kita mau jujur, kenyataan itu benar-benar menampar kedua pipi kita yang selama ini beranggapan bahwa linux itu sulit, ribet, harus pakai terminal, harus update ini itu dan segudang alasan yang sekarang menurutku merupakan konyol karena tidak mau belajar.
Sebagian dari kita mungkin masih menggugat, OS dan software memang legal, lalu bagaimana dengan MP3 atau film di dalamnya? Jika masih ada orang yang ngotot soal ini, aku hanya akan tertawa. Ya, tertawa untuk menertawakan orang yang hanya berujar tanpa punya tidakan nyata. Tahukah kau, tidak perlu mengejar kesempurnaan untuk sebuah perubahan, langkahkan saja kakimu dan buat perubahan semampumu.

Hari ini aku adalah orang paling bahagia, mungkin inilah rasanya ketika Tenzin atau ayahnya, Avatar Aang menemukan pengndali udara selain dirinya. Dan inilah saatnya untuk aku melanjutkan harapanku.

5 comments:

Sumarno Tn. said...

semangat gaaaaannnnnn.....

Kang Irul said...

Sama mbak..
Aku juga lagi cari teman pengguna Linux... di Undip Semarang
tapi masih belum nemu.
Mungkin aku yang kurang tenanan dalam mencari

Rania el-Amina said...

Ok, makasih . . .
@Kang Irul . . . Semangat mas, aku padamu!:-)

Nur Ichsan said...

hay rania..
tulisanmu sangat bagus...
saya pengguna linux dan dari UGM juga..

mampir blogku yah biar bisa kenalan lebih deket..

http://nurichsan.net

dzulfi fikar said...

Salam Satu Jiwa :D
mampir mang nk blog Q cyberurl.blogspot.com

Kontak Rania

Tentang Rania

Rania Amina - Mahasiswa Sastra Indonesia yang jatuh cinta pada Free/Libre and Open Source Software. Sementara ini "numpang" tinggal di Yogyakarta. Inkscape, Gimp dan Scribus adalah aplikasi favoritnya saat ini.


Berbagi adalah hal terbaik yang pernah diajarkan oleh komunitas FLOSS