• Rania Amina

    Selamat Datang di Coretan Kecil Rania Amina

  • Rania Amina

    Tak Perlu Bersusah Payah Mengingat Namaku, Sebab Kaubakal Mengingat dengan Sendirinya Suatu Hari Nanti

  • Rania Amina

    Anda Orang Indonesia? Cintai Bahasa dan Budayanya! Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?

  • Rania Amina

    Tanamkan Niat untuk Menjadi "Khoiru An-Nass Anfauhum Li An-Nass

  • Rania Amina

    Ikhlas, All Out, Lillahi Taala! Kunci Sukses Dunia Akhirat

  • Rania Amina

    Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Wednesday, 30 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 22:46

Tenang, mas . . Mbak. . Pembaca yang budiman. Pada tulisan ini aku nggak pengen membahas sekte-sekte agamis yang beberapa waktu marak memenggal kepala orang lain kok. Seperti biasanyanya, lewat tulisan ini aku mau sharing, ya sekedar sharing saja.
Sebagai pengguna baru Elementary Freya, timbul rasa ingin tahu apa sih arti Freya dan mengapa EOS memilih Freya sebagai code name salah satu rilisnya.
DAri hasil broswsing yang dibantu oleh Paman Google, aku beroleh sebuah informasi bahwa EOS sebelumnya memilih nama Isis untuk dijadikan code name pada rilis EOS. Namun dikarenakan dunia sedang digonjang-ganjingkan dengan tingkah polah ISIS (Islamic Satate of Iraq n Syiria) pada waktu itu, akhirnya nama Isis pun di ganti dengan Freya.
Berikut pernyataan yang aku kutip dari blog EOS .
 
While Isis worked well, there is currently an active militant group in Iraq and Syria commonly known as “ISIS” (Islamic State in Iraq and Syria). elementary obviously has no ties to that group—and we don’t think people will get us confused—but we want to both recognize the ongoing turmoil and choose a less controversial name.

Sepertinya EOS memang berencana untuk menggunakan nama-nama dewa dalam kisah-kisah mitologi untuk code name-nya. Coba perhatikan nama rilis pertama EOS yang menggunakan nama Jupiter, Raja dewa dalam mitologi Romawi, dan pada rilis berikutnya menggunakan nama Luna yang merupakan dewi dalam mitologi Romawi Luna. Dan nama Isis adalah dewi pernikahan kesehatan dan cinta. Namun sepertin yang aku singgung di atas tadi, nama Isis batal digunakan dan diganti dengan Freya yang juga merupakan nama seorang cinta, kecantikan, dan kematian. Berikut aku kutipkan sekalian informasi tentang Dewi Freya

 
Freya atau Freyja merupakan Dewi cinta, kecantikan, kesuburan, sihir, perang dan kematian. Freyja adalah seorang Vanir, yang kemudian menjadi seorang dewi utama Aesir. Freyja dikenal dengan julukannya, Vanadis, yang berarti dis of Vanir dimana kata dis adalah kata dalam bahasa Norwegia untuk dewi. Kata ini biasanya digunakan dalam bentuk jamak, disir. Informasi mengenai Freyja terkadang tercampur dengan informasi mengenai Frigg, istri Odin, yang mana nama mereka berdua, Freyja dan Frigg sama-sama berarti Lady. Dengan dewi yang lainpun, informasi mengenai Freyja terkadang tercampur, yaitu dengan Idun, sang penjaga apel awet muda. Freyja digambarkan luar biasa cantik, berambut pirang dan bermata biru. Diceritakan bahwa Freyja menikah dengan seorang dewa bernama Od atau Odur dan menjadi ibu dari dua orang anak perempuan, Nossa atau Hnossa dan Gersimi (Nama kedua anak tersebut sama2 berarti Permata). Bagaimanapun juga, Od secara misterius menghilang dan Freyja berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan suaminya itu sambil meneteskan air mata emas. Setelah suaminya menghilang (Od), dia menjadi “yang tidak pilih-pilih” diantara semua dewi yang ada. Freyja mungkin lebih tepat disebut sebagai dewi se.ks daripada dewi kesuburan. Dia memiliki banyak love affairs, dengan para dewa, manusia, Elf bahkan kurcaci. Freyja sering terlihat sebagai gundik Odin. Loki menuduh Freyja telah tidur dengan semua dewa yang ada di Asgard dan semua Elf di Alfheim (Lokasenna dari Poetic Edda). Loki bahkan menuduh Freyja telah tidur dengan saudaranya sendiri, Freyr. Tetapi baik Freyr maupun Freyja memang suami istri di kalangan Vanir. Freyja juga sangat dicari-carin oleh kalangan Raksasa. Dua raksasa, Hrimthurs dan Thrym ingin menikahi Freyja. Thor membunuh keduanya. Freyja juga sangat menyukai pertempuran dan peperangan. Dia turun ke medan perang dimana dia menerima setengah dari seluruh ksatria yang mati (setengahnya lagi masuk ke Valhalla) yang mana para ksatria ini tinggal di aula agungnya, Fólkvangar (”Battlefield”), didalam istananya Folkvang (”Field of Folk”). Aula Freyja yang lainnya adalah Sessrumnir. Freyja juga sangat menyukai emas dan dia memiliki kalung berharga yang disebut Brisingamen yang diperolehnya dengan tidur dengan 4 kurcaci yang dikenal dengan para Brising (Nama keempatnya kemungkinan adalah Alfrigg, Berling, Dvalin dan Grerr). Odin yang tidak senang dengan tingkah laku Freyja, mengirim Loki untuk mencuri Brisingamen. Penjaga Asgard, Heimdall yang punya penglihatan super, melihat si pencuri. Dia mengejar Loki dan mengembalikan Brisingamen kepada Freyja. Freyja juga mendapatkan hadiah lain berupa mantel dari bulu burung yang membuatnya dapat berubah bentuk menjadi elang. Kereta Freyja ditarik oleh dua ekor kucing (Jelas sudah, kenapa di Sea of Troll dikatakan bahwa kucing adalah hewan keramatnya Freyja). Hewan kesukaannya yang lain adalah babi atau babi hutan. Kekasih manusianya, Ottar, menyamarkan dirinya sendiri sebagai babi hutan perang dengan bulu emas yang bernama Hildesvini. Freyja terkadang disebut Sýr (sow), sebuah julukan(?). Freyja juga dikenal suka berjalan-jalan di pedesaan pada waktu malam dalam bentuk kambing betina. Tambahan, Freyja juga dewi ilmu sihir yang dikenal dengan nama seiðr (seið atau seior). Kecintaannya pada emas dan ilmu sihir membuatnya sering dikira sebagai dewi Vanir yang lain, Gullveig dan si penyhir wanita, Heid yang merupakan reinkarnasi dari Gullveig.
 
Wihi, mantep dah . . . .info ini mungkin sudah usang, namun adakah bukan hal yang salah kan untuk sekedar berbagi? Semoga bermanfaat.

#Diolah dari berbagai sumber

Monday, 28 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:01
Pagi agan-agan sekalian? Masih berbhagia hari ini? Yupz, semoga saja kebahagian tidak membuat agan-agan terlalu lama larut dalam kebungkaman (apa sih?? Nggak jelas!)

Pagi ini Rania ingin membagikan sebuah ebook keren berjudul GIMP BOOK FOR KIDS. Hehe, ini bukan aku lho yang buat. Tadi pagi tiba-tiba ada notif di beranda ada orang yang membagikan ini di grup KPLI. Yah, mumpung ada waktu. . . boleh donk aku bantu mereka buat share ebook ini.

Buat yang belum tahu apa itu GIMP, woh . . . monggo, silakan googling sebentar denga keyword "GIMP adalah", pasti dengan cekatan Pak Dhe Google akan menjawab dengan cukup akurat (kecuali inet agan lemot, Pak Dhe Google nggak bisa cekatan).

Buku ini telah terbit dua jilid. Jilid pertama pengenalan dasar, dan jilid keduanya tentang membuat animasi (format gif) sederhana. Dari segi bahasa dan pemaparan, buku ini cocok buat semua kalangan, tidak berbatas pada judul bukunya semata (for kids). 

Yups, untuk menghormati beliau sang creator buku ini, sengaja aku tidak lampirkan halaman download di sini. Hehehe, biar agan-agan juga mengunjungi webnya melalaui tautan ini. Mohon pengertiannya yah . . . hehe, kan seama penulis open source tidak boleh saling mendominasi (ini versi aku sendiri, hehe). Bukankah di dunia open source kita diajari untuk berbagi? 

Yups, semoga bermanfaat ya gan! Selamat berbahagia.

Saturday, 26 September 2015

Posted by Rania Amina
31 comments | 17:47
Kepada Yth. Presiden RI 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Presiden RI yang terhormat, sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan dan ketidaksopanan saya ini. Mohon maaf juga bila surat (yang mungkin dianggap tidak penting) ini mengganggu kesibukan njenengan. Sekali lagi saya mohon maaf.

Nama saya Rania, salah satu dari sekian juta rakyat njenengan yang tinggal dan hidup selama bertahun-tahun di Indonesia, negara yang njenengan pimpin saat ini. selain sebagai seorang rakyat, saya mengirim surat ini juga sebagai seorang pengguna Linux tanah air.

Mungkin njenengan tak peduli dan kurang begitu tertarik dengan barang yang namanya Linux, namun menurut pribadi saya, eksistensi Linux di negera ini cukup penting untuk menuju sebuah kemandirian teknologi bangsa.

Dari beberapa media, saya juga tahu keadaan Indonesia hari ini tak begitu baik (bila tidak mau dikatakan buruk). Permasalahan ekonomi, sosial dan segala tetek bengek lainnya selalu mewarnai negara yang Bapak pimpin. Sebagai rakyat yang masih bodoh, saya hanya mampu membantu lewat doa, semoga yang mimpin negara besar ini benar-benar mampu menjadi orang yang sabar, inovatif, ulet dan mampu menjadi pemberi solusi, dalam bahasa anehnya Problem Slover.

Kembali ke posisi saya sebagai pengguna Linux di Indonesia. Pak, saya tidak begitu tahu menahu soal investasi yang diberikan pihak Microsoft pada bangsa ini. Yang saya tahu, pihak Microsoft itu malah merupakan salah satu item yang yang membuat kita melarat. Setidaknya ada dua pilihan, antara melarat dan amoral.

Lha bagaimana ndak melarat coba, kalau semua komputer-komputer yang ada di pemerintahan yang jumlahnya seabrek menggunakan sistem operasi Windows sedangkan untuk satu komputer saja perlu biaya lisensi yang harganya melebihi penghasilan bapak saya perbulan. Belum lagi nanti kalau ada rilis terbaru pasti akan ada yang namanya upgrade dan pembaharuan perangkat untuk menyesuaikan kebutuhan dari perangkat lunak yang digunakan. Sekali lagi, biayanya itu mahal Pak, dan komputer itu tidak hanya di kantor-kantor pemerintahan. Rakyat-rakyat njenegan juga banyak yang menggunakan barang ajaib ini.

Di sisi lain, para pengguna komputer di Indonesia cenderung masih gemar dengan yang namanya barang bajakan. Kalau menggunakan barang bajakan memang sih tidak perlu membayar, namun saya yakin njengan adalah orang pinter yang tahu jelas mengenai hitam-putihnya barang bajakan serta dampak negatifnya sekalian. 

Di tengah kesibukan njenengan mengurus pelbagai permasalahan ini dan itu, saya mohon luangkanlah satu menit saja dari waktu yang Bapak punya untuk kembali melihat potensi Linux yang dapat membantu bangsa ini.

Bukanlah saya orang yang suka muluk-muluk. Saya punya banyak teman sesama pengguna Linux, lebih tepatnya penggiat Open Source. Kami hidup di dalam suatu komunitas yang mengedepankan kebersamaan, kebebasan berbagi pengetahuan dan kelegalan perangkat lunak. Meski kami bukan orang-orang politik, namun sering sekali kami merasa tersakiti karena beberapa kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Salah satu hal yang sampai saat ini masih menyakiti kami adalah ketika materi-materi pengajaran di bangku sekolah masih didominasi dengan materi dari perangkat lunak close source. Mungkin njenengan kurang begitu ngeh bagaimana rasa sakit yang kami maksudkan ini.

Jadi begini, Pak. Indonesia memiliki sebuah proyek bernama Indonesia Goes Open Source (IGOS). Proyek ini sejatinya adalah proyek yang diresmikan oleh lima menteri yang menjabat beberapa tahun silam. Secara garis besar, tujuan diadakannya proyek ini adalah sebagai bentuk nyata untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam bidang teknologi perangkat lunak. Namun sayang, beberapa tahun silam pula, ada menteri yang tiba-tiba mengadakan MoU dengan pihak Microsoft, naasnya meneteri tersebut adalah salah satu menteri yang dulunya ikut merilis proyek IGOS.

Bila keadaanya seperti ini terus, bagaimana mungkin produk lokal dapat berkembang bila tidak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak? Termasuk di dalamnya adalah dukungan dari pemerintah. Rekan-rekan sekolah saya sering sekali beranggapan Linux itu susah dan lebih memilih menggunakan perangkat lunak bajakan ketimbang peragkat lunak legal. Padahal Linux bukanlah momok yang patut ditakuti layaknya koruptor. Tentu saja ini adalah imbas daripada minimnya pembelajaran dan pengenalan Linux di sekolah-sekolah.

Bukan saya bermaksud membanding-bandingkan atau bagaimana, meski pada beberapa hal saya kurang suka, namun pada masalah ini saya salut dengan Tiongkok. Setidaknya mereka berani mengambil tindakan untuk memopulerkan produk teknologi mereka sendiri di negara mereka sendiri. Bahkan mereka menolak menggunakan mesin pencari Google dan lebih menekankan pada penggunanaan mesin pencari buatan mereka sendiri yang bernama Baidu. Sebuah tindakan berani, menurut saya.

Pak Jokowi, soal Linux, Indonesia bukanlah negara yang tertinggal. Sejatinya kita adalah negara yang cukup produktif (meskipun belum mendapat dukungan secara nyata dan signifikan). Indonesia punya produk Linux bernama Blankon yang telah diakui dunia. Hal tersebut terbukti dengan masuknya Blankon ke dalam jajaran distribusi Linux dunia di laman distrowatch.com. Selain itu kita juga punya IGOS Nusantara yang begitu getol mempromosikan Indonesia melalui desktopnya yang cantik nan indah. Ditingkat daerah ada Grombyang OS, Asril OS, Linux Biasawae dan ratusan karya lain yang sampai saat ini belum ter-list dan termanajemen dengan baik oleh pemerintah. Mereka hanya berkembang di komunitas dan sedang mencoba berkembang keluar dengan segala kemadirian dan keterbatasan.

Sampai pada bagian ini sejujurnya saya khawatir njenengan bingung dengan semua yang saya sampaikan ini. Pada intinya, saya dan tentunya teman-teman pengguna Linux di seluruh Indonesia, akan senantiasa siap dan berkenan untuk memajukan NKRI di bidang teknologi perangkat Lunak. Kami percaya dan kami yakin sekali bahwa dunia per-Linux-an Indonesia dapat memberikan kontribusi yang baik untuk negara ini.

Satu hal saja yang kami butuhkan, dukungan pemerintah. Ya, mungkin itu saja. Setidaknya dengan hal tersebut para pengguna komputer yang jumlahnya cukup banyak itu akan menjadi melek dan paham soal sisi buruk dari pembajakan perangkat Lunak. 

Oh iya, agar tidak salah paham. Saya menulis surat ini lantaran saya membaca sebuah berita yang mengatakan bahwa njenengan, pada sebuah acara, mengatakan agar kemajuan teknologi tidak hanya menguntungkan satu pihak dan seterusnya pada Selasa 22 Spetember 2015 lalu. Jawaban sementara dari saya dan rekan-rekan untuk permintaan Bapak sementara ini adalah Linux. 

Saya bukanlah programmer, hacker, atau ahli di bidang komputer. Saya hanya seorang yang mencoba menjadi orang yang pedulia. Saya sekedar sastrawan Linux, itu saja. Semoga Bapak Jokowi berkenan untuk membantu Indonesia menuju sebuah kemerdekaan. Merdeka! 

Terimakasih dan sekali lagi, maaf untuk kelancangan ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 27 September 2015
Seorang Pengguna Linux Tanah Air

Friday, 25 September 2015

Posted by Rania Amina
5 comments | 20:15
Pagi gan! Masih semangat ngoprek hari ini? Haha.

Pagi ini, aku ingin sharing ke agan-agan sekalian tentang slogan-slogan yang dipakai oleh disro-distro Linux. Awalnya sih aku iseng jalan-jalan ke beberapa website distro-distro Linux. Entah ada angin apa, secara mendadak aku tertarik dengan beberapa baris kata alias kalimat yang mengikuti nama distro di web tersebut.

Karena tertarik, akhirnya aku kumpulkan deh kalimat-kalimat keren itu ke dalam postingan ini. Setidaknya, aku mulai berpikir bahwa slogan atau jargon yang dipakai oleh distro-distro berikut ini telah cukup baik menggambarkan distro tersebut. Silakan disimak terlebih dahulu. . . 

- Debian
  The universal operating system

- Linux Mint
  From freedom came elegance.

- Ubuntu
  Linux for human beings.

- Elementary OS 
  A fast and open replacement for Windows and OS X.

- openSUSE 
  Linux for open minds.

- Backtrack
  The quieter you become, the more are able to hear...

- Kali 
  Our Most Advanced Penetration Testing Distribution, Ever.

- Fedora
  Freedom. Friends. Features. First.

- Red Hat
  The world's open source leader

- Mandriva 
  A better operating system.

- OpenMandriva
  A delicious linux recipe. Fun flavoured.

- Bodhi 
  The Enlightened Linux Distribution.

- PCLinuxOS
  So cool ide cube are jealous

- Arch
  A simple, lightweight distribution

- Mageia
  Change your perspective

- Manjaro
  Enjoy the simplicity

- LXLE
  Revive that old PC

- Tiny Core 
  Linux Fast. Easy. Modular. Extendable.

- Sabayon
  Open your source, open your mind.

- Vector
  Discover the difference
 
- CentOS
  The Community ENTerprise Operating System

- Pinguy OS
  Because using a computer is meant to be easy!


Satu lagi distro yang membuat aku tertarik untuk urusan jargon/slogan yaitu Slackware. Dari hasil googling-ku, distro Linux yang sudah cukup berumur ini memiliki beberapa jargon/slogan antara lain

- Slackware: Linux From Scratch, just not from scratch.
- Slackware: What the BOZOs use.
- Slackware: Have you ever actually needed PAM for anything?
- Slackware: ****s Less.
- Slackware: There really are real nerds left using Linux.
- Slackware: Elitists, and damn proud of it!

Entah yang mana yang digunakan, aku belum tahu pasti. By the way, aku juga googling jargon distro-distro lokal yang cukup terkenal seperti Blankon dan IGOS Nusantara, namun hasilnya nihil. Aku belum tahu slogan yang dipakai kedua distro ini. Ada yang tahu??
Posted by Rania Amina
No comments | 07:00
Bila agan membuka situs linuxmint.com, maka pada bagian atas akan terdapat kabar terbaru tentang generasi terakhir Linux Mint versi 17.x yang diberi nama Rosa. Mengapa namanya Rosa? Berikut aku kutipkan penjelasan dari laman web tersebut,

The third and last 17.x point release will be Linux Mint 17.3 codename ‘Rosa’.
Rosa is a classic vintage Italian, Spanish and Portuguese name.
The meaning of the name Rosa is: Rose. Used as a sign of love and compassion, the rose is also the symbol of England.
In 1545, Ronsard writes one of the most famous poems in France. In “Mignonne, allons voir si la rose”, youth is ephemeral, beautiful but short-lived, just like a rose.
Linux Mint 17, 17.1 and 17.2 users will have the choice to upgrade, and that upgrade will be both easy and safe.

Agan-agan yang sedang jadian dengan Rafaela namun ingin ingin berkenal dengan Rosa, cukup ketik pada terminal Rafaela,
"apt-get update
apt-get upgrade
apt-get dist-upgrade
".

Source: http://blog.linuxmint.com/?p=2920

Thursday, 24 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 21:14
Beberapa pagi yang lalu aku membaca sebuah berita yang mengabarkan bahwa pemerintah akan memberlakukan hukuman terhadap pendownload musik dan film ilegal. “Konon” salah satu hukuman yang akan diberlakukan oleh permerintah adalah pemutusan layanan internet bagi siapa pun yang melanggar. Kau tahu, aku hanya tersenyum simpul membaca hal tersebut.

Secara tujuan, aku sih setuju-setuju saja dengan tujuan pemerintah mengurangi (karena nggak mungkin rasanya kalau menghapus tuntas) nilai pembajakan yang terjadi di negeri ini. Namun jika kau tak keberatan, ayo ngobrol sejenak, ada beberapa hal yang rasanya mengganjal ihwal apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, Jumat (18/9/2015) lalu.

Kau tahu, sesuatu yang mengganjal ini muncul ketika ada seorang pengguna Linux dalam sebuah forum angkat bicara juga sola hal ini. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa tak ada gunanya kita memperjuangkan kelegalan software dan OS bila musik dan film di hardisk kita masih bajakan. “Sama aja omong kosong!”. Sekali lagi aku tertawa membaca sebuah komentar yang bernada demikian itu.

Memang aku akui, langkah yang diambil pemerintah itu cukup muluk-muluk dan seolah-olah tidak meyakinkan untuk direalisaikan bila melihat keadaan Indonesia saat ini. Bila yang dijadikan kiblat dan acuan adalah Korea dan Peransis, mari kita bercermin dulu, berapakah kecepatan dan bagaimana rata-rata kecepatan serta kestabilan koneksi kita. Lalu, soal memutuskan koneksi pengunduh musik dan film ilegal, aku sendiri kurang yakin hal tersebut akan benar-benar dapat terealisasi.

Namun kembali lagi, aku tak ingin membahas berlebihan soal teknis yang akan dilakukan pemerintah itu. Aku hanya ingin mengatakan pada orang-orang “berisik”di luar sana, bahwasanya seorang pengguna Linux bukanlah petugas yang multitasking soal mengurangi pembajakan. Mereka adalah spesialis, aktivis spesialis pembajakan masalah perangkat lunak. Kan sama-sama pembajakan?

Hah, bodoh sekali rasanya ketika kita meminta seorang guru matematika menyelesaikan permasalahan sastra Indonesia, meskipun mereka sama-sama guru, tapi mereka punya spesialisasi yang berbeda.

Lewat tulisan ini, aku ingin bicara sebagai pengguna Linux. Pertama kepada pemerintah, silakan berjuang melawan pembajakan tapi jangan cuma anget-anget tai ayam. Jangan lupa dengan menteri-menteri yang dulu pernah mendeklarasikan akan memajukan dunia Open Source Indonesia namun kenayataannya malah melakukan MoU diam-diam dengan Microsoft. Aku akan bertepuk tangan dan memberi apresiasi setinggi-tingginya bila pemerintah berhasil.

Lalu buat pengguna komputer, dimana pun kalian berada. Merdekakanlah diri kalian! Jangan lupa, kita punya banyak SDM yang cukup mumpuni untuk sekedar membangun software guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari. Jangan terus-menerus bangga dan terbodohi dengan bisik rayu software. Aku jahat, ya . . . Tapi aku tak sejahat orang yang dengan bangga memamerkan software bajakan yang ia pakai! MERDEKA!!!

Wednesday, 23 September 2015

Posted by Rania Amina
4 comments | 22:55

Pada kumandang takbir Idul Adha semalam, aku akhirnya memutuskan untuk menduakan Rafaela. Ya, setelah cukup lama berpikir dan menimbang ini itu, aku pun mempersiapkan mental untuk membagi hati (baca: partisi) untuk menginstall Freya. 

Mengapa Freya dan bukan yang lain? Cukup panjang sih ceritanya, namun tak apalah sambil berbagi cerita dengan rekan-rekan pengguna Linux yang lain.

Jadi gini, aku pribadi adalah pengguna lama Linux Mint. Setidaknya aku sudah mengenal Mint sejak Julia dilahirkan (rilis). Julia adalah pendamping hidup (distro) yang mendampingiku selama beberapa waktu. Dari Julia inilah aku mendapatkan banyak pengalaman berharga, termasuk juga pengalaman remastering distro.

Aku memang sering bergonta-ganti distro awalnya, namun entah mengapa hatiku mengatakan bahwa Julia dan saudara-saudaranya, Katya, Lisa, Maya, Nadia hingga Rafaela adalah pendamping hidupku yang terbaik. Selain karena kecantikan dan ketidak-rewelannya, dukungan komunitas yang ada juga cukup membantuku untuk bertahan dan nggak pernah move on dari Mint.

Namun belakangan ini aku merasa Rafaela agak kurang vit. Aku sebenarnya maklum, karena aku adalah pacar yang selalu memforsir kehidupannya. Bagaimana tidak, aku memaksa Rafaela untuk menuruti semua nafsu dan egoku, dan ia tak pernah menolak keinginanku itu. Ah, tidak. . .  Ia pernah sekali menolak saat aku ingin mendandaninya dengan Pantheon. Ia bilang, “Baju itu tak cocok buatku, Ram. Maaf. . .”. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena kenyataannya Rafaela malah sakit (crash) ketika aku paksakan berdandan dengan Pantheon.

Rafaela-ku memiliki banyak fitur tambahan. Ia adalah pacar yang hebat dan tangguh. Bagaimana tidak, ia memiliki berbagai macam jenis desktop. Mulai dari Cinnamon (aslinya), Mate, Xfce, KDE, LXDE, Openbox, Fluxbox, dan Enlightenment. Selain itu, aku juga sering bermain-main dengan terminalnya, mengaktifkan fungsi-fungsi efeknya, hingga coba-coba bermain dengan metasplot, nmap, wireshark dkk, yah. . .meskipun hanya sekedar coba-coba, tapi aku harus mengakui bahwa Rafaela adalah pasangan paling pengertian yang pernah kumiliki.

Ah iya, beberapa waktu yang lalu, karena aku terobsesi dengan film Bloody Monday, aku pun akhirnya mendandani Rafaela sehingga mirip dengan komputer si Falcon. Sekali lagi thanks, ya Rafaela kamu udah mau ngertiin kemauanku.

Namun, di sisi lain, aku merasa Rafaela tak segesit dulu saat pertama kali kami berjumpa. Semua ini memang salahku, namun aku juga tak bisa terus-terusan menyalahkan keadaan dan diriku. Apalagi sekarang tugas mulai banyak. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk mengulangi semua hubungan ini dari awal, namun aku takut. Aku takut Rafaela tak setuju. Aku takut kalau dia beranggapan cintaku padanya mulai luntur, padahal tidak. Aku masih menyayanginya.

Diam-diam aku melakukan uji coba beberapa distro. Mulai dari Ubuntu, Kali, Fedora, OpenSuse, hingga akhirnya EOS Freya. Entah mengapa tiba-tiba hatiku tertaut begitu saja saat menjalankan Freya melalui USB. Ia begitu memesona, pikirku. Setelah cukup lama aku berkenalan dan jalan-jalan (mencoba fitur-fitur bawaannya), kuberanikan diri untuk bilang pada Rafaela, “Ela, aku ingin mencarikanmu teman. Kenalkan, namanya Freya. Ia yang akan membantumu mendampingi hidupku”.

Airmata Rafaella menetes perlahan. Ia hanya terdiam, dan aku kikuk dengan segala yang terjadi ini. Maafkan aku Rafaela, aku tak ingin terus-terusan menyakitimu, aku tak ingin terus-terusan memaksamu untuk menuruti egoku. Percayalah, aku akan senantiasa bersamamu.

Usai instalasi, aku nyalakan ulang komputer. Dan ternyata Rafaela benar-benar ngambek, merajuk plus cemburu. Dia tidak mau meload GRUB milik Freya. Akhirnya aku bicara padanya secara baik-baik melalui terminal. Melalui terminal tersebut, aku katakan padanya, “sudo update-grub” dan dia memintaku untuk membisikkan password root dan akhirnya ikhlas juga Rafaela meload GRUB Freya. Thanks Rafaela. I love you!

Kau tahu, Freya memang cantik. Namun, dia agak sedikit manja. Ia tak seperti Rafaela yang sekali install langsung dapat digunakan kerja secara normal. Usai jadian dengan Freya aku harus membayar sekian ratus MB untuk membuatnya dapat bekerja maksimal.

Beberapa hal yang aku lakukan pasca jadia dengan Freya adalah menghidangkakan browser lain padanya, menambahkan codec, SMPlayer, synaptic (karena aku nyaman kalo pakai synaptic), WPS, XDM, Gedit, men-tweak beberapa fiturnya dan tak lupa menyapa terminalanya dengan sapaan, “sudo apt-get dist-upgrade”.

Tapi tak apalah. Toh sekarang aku sudah punya jadwal khusus dalam berkencan. Untuk urusan tugas-tugas kuliah aku serahkan pada Freya, karena dia masih gesit. Kalau untuk keseharian, dan belajar lain-lain aku tetap akan menggenggap jemari kekasih terbaikku, Rafaela.

Tuesday, 22 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 04:24
Rusman tetap kukuh pada pendiriannya. Ia ingin tetap menjadi penulis. Meskipun dirinya tahu kualitas tulisannya tak mampu bersaing di media masa mana pun. Baginya menulis adalah panggilan hidup yang tak semua orang mampu menjalaninya. “Ini adalah takdirku!” tandasnya dalam hati.

Ia memang gemar menulis sejak kali pertama jatuh cinta pada Rusmini, teman sebangkunya semasa SMA. Di sela-sela kegiatan belajar mengajar, Rusman tak pernah absen menuliskan sekian bait puisi untuk memikat hati Rusmini. Tak jarang pula, ia diam-diam menyelipkan sepucuk surat cinta ke dalam buku tugas Rusmini saat jam istirahat.
Perbuatan Rusman yang dilakukan secara diam-diam itu tak selamanya mulus. Pernah suatu ketika, surat yang diselipkan di buku tugas Rusmini ketahuan Bu Leli, guru Bahasa Inggris yang tengah mengajar saat itu. 

Rusman dan Rusmini pun dibuat malu bukan kepalang. Karena surat yang ditulis Rusman itu dengan cukup lantang dinarasikan Bu Leli di depan anak-anak. Akibatnya, hampir seisi SMA menjadikan kejadian Selasa siang itu buah bibir di lingkungan sekolah.

Akibat kejadian itu pula, Rusmini yang awalnya mulai tertarik pada Rusman seketika balik kanan membenci Rusman. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Namun Rusman tak pernah menyerah. Dan barangkali itu pula yang akhirnya membuat Rusmini mau menikah dengan Rusman.

Mereka menikah setahun setelah lulus kuliah. Meski berbeda jurusan, Rusman mengambil konsentrasi sastra sedang Rusmini mengambil akutansi, kebiasaan Rusman menulis surat cinta tetap berlanjut. Jika dikatakan lulus, sebenarnya kurang tepat. Karena yang lulus kuliah hanyalah Rusmini, sedang Rusman tak melanjutkan kuliahnya karena harus merawat ibunya yang mulai sakit-sakitan sebelum akhirnya meniggal dunia.

Kehidupan lelaki berkumis tipis itu pun boleh dibilang sederhana. Kesehariannya hanya diisi dengan menulis dan berjualan buku di toko milik temannya. Penghasilannya yang tak seberapa itulah yang digunakan untuk menyambung hidupnya hari demi hari sampai akhirnya ia menikah dengan Rusmini.

Berbeda dengan Rusman, Rusmini memiliki latar keluarga yang cukup mapan. Alamarhum ayahnya adalah pengusaha kayu Kalimantan yang cukup terkemuka di Jawa. Dan setelah lulus dari bangku perkuliahan, Rusmini bekerja sebagai teller sebuah bank swasta di Semarang. Kehidupan mapan yang jauh berbeda dengan Rusman, rupanya tak mengahalangi perasaan cinta untuk tetap tumbuh di hati Rusmini. Akhirnya, bulan pertengahan bulan Juli pun jadi saksi dua sejoli itu mengikat janji suji di pelaminan.

Kehidupan rumah tangga Rusman berjalan biasa-biasa saja. Semua kebutuhan hidup tercukupi oleh gaji yang diterima Rusmini sebagai seorang teller. Sayang, hingga pernikahan mereka menginjak lima tahun, perut Rusmini belum juga ada isinya.

“Apa sayangmu akan berkurang karena aku tak bisa memberimu keturunan?” tanya Rusmini penuh iba.

Rusman tersenyum sambil membelai rambut panjang Rusmini. Ia tatap dalam mata istrinya dengan penuh kasih.

“Kamu adalah pelengkap hidupku. Asal kamu masih di sisiku, aku tak pernah merasa kekurangan suatu apapun”

“Apa kamu tak rindu kehadiran seorang anak?”

“Apa arti rindu pada anak bila istriku bersedih dan aku tak bisa berbuat apa-apa. . .”

Mereka pun akhirnya larut dalam buaian mesra sepasang suami istri. Cumbuan, lenguh dan keringat adalah hal yang selalu mengeringi perjalanan panjang mereka dalam menemukan suara tangis bayi. 

***

Kabar tentang dollar yang menembus Rp. 14.000 menjadi kabar buruk bagi keluarga Rusman. Akibat dari melemahnya nilai rupiah itu bank tempat Rusmini bekerja terpaksa harus mem-PHK puluhan karyawannya, dan nama Seta Rusmini termasuk ke dalam daftar karyawan yang di-PHK.

Satu-satunya sumber pemasukan keluarga pun lenyap. Sementara ini hanya sisa gaji bulan kemarin dan uang pesangon dengan jumlahnya tak seberapa itu yang Rusmini andalkan untuk mengepulkan asap di dapur.

“Kita tak lagi punya apa-apa. . .” 

“Kita masih memiliki satu sama lain, aku milikmu dan aku memiliki dirimu, Rusmini.”

“Tapi uang kita mungkin tak cukup hingga bulan depan.”

“Kebahagian kita tidak bergantung pada jumlah uang di kantong. Lihat sisi baiknya, sayang.”

“Aku tak tahu sisi baik mana yang kau maksud, Mas.”

“Kita jadi punya banyak waktu untuk terus bersama. Kamu tak perlu lagi terburu-buru bangun pagi untuk pergi ke kantor yang kini telah membuangmu. Dan kita semakin punya banyak waktu untuk menghadirkan suara bayi di ruangan ini.”

Rusmini tersenyum. Ia selalu merasa begitu tenang bila mendengar Rusman menghibur dirinya. Ia akui bahwa Rusman memang lihai dalam mengatur kata dan mengambil hatinya melalui tulisan-tulisannya.

“Mengapa kau tak coba mengirim karya-karyamu ke media?”

“Mereka tak akan mau menerima karyaku.”

“Mengapa, kan belum dicoba. . .”

“Media itu kejam, mengirim karya ke mereka tak ubahnya dengan berjudi, yang mereka butuhkan bukan keindahan namun penghasilan.”

“Kita pun perlu penghasilan. Coba saja . . .”

Rusman tak lagi punya pilihan. Apa yang dikatakan istrinya ada benarnya. Ia memang tak pernah sekali mengirimkan karya-karyanya ke media masa sebagaimana yang sering dilakukan oleh rekan-rekannya. Dalam hatinya selalu terbesit ketakutan bahwa karyanya hanya akan menjadi sampah di meja redaksi.

***

Keadaan benar-benar memaksa Rusman untuk mencari uang. Terlebih saat istrinya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dari keterangan dokter, Rusmini harus menjalani operasi pada bagian paru-parunya. Celakanya ongkos rumah sakit tidaklah murah apalagi gratis. Prinsipnya tentang karya yang menjadi sampah di meja redaksi benar-benar di uji. Kali ini mau tidak mau ia harus bermain judi dengan redaktur media untuk mengembalikan kesehatan istrinya. Mengorbankan prinsip yang selama ini digenggam terlalu kuat. Demi satu-satunya orang tercinta dalam hidupnya, Rusmini.

Rusman pun segera bergegas mengumpulkan semua karya-karya yang dibuatnya sejak SMA. Ia pilih karya-karya yang menurutnya terbaik untuk dikirim ke berbagai media masa. Ada sekitar tujuh puluh cerpen yang ia kirim ke lima belas media masa berbeda. Mulai dari koran lokal, koran nasional, majalh hingga tabloid. Kali ini Rusman benar-benar menggantungkan harapannya pada karya-karya yang pernah dibuatnya, sebab Rusman tak memiliki keahlian lain selain menulis.

Tiga hari setelah pengiriman karyanya, beberapa surat penolakan mulai berdatangan mengiris hati Rusman. Untuk pertama kalinya Rusman merasa tercabik-cabik hatinya. 

“Redaktur kampret! Apa mereka tak mengerti sastra! Mengapa semua karyaku ditolak semudah ini!” umpat Rusman saat membaca surat penolakan yang di terimanya pagi itu.

Pikiran Rusman benar-benar kalut. Di telinganya terngiang ucapan dokter yang mengatakan bahwa bila Rusmini tak segera dioperasi maka nyawanya tak akan dapat diselamatkan. Beberapa barang di rumah telah terjual, termasuk alat-alat elektronik yang dimiliki Rusman untuk biaya rumah sakit. Satu-satunya harapan yang dimiliki Rusman adalah setumpuk karya-karyanya yang rapi disimpan di almari.

Karena terlalu kalut, Rustam pun tak dapat berpikir jernih lagi. Kali ini ia berjudi lagi dengan karya-karyanya. Ya, semua karya yang dimilikinya di kirimkan ke semua media masa yang ia ketahui. Berbeda dengan yang pengiriman karya beberapa hari yang lalu, Rusman menambahkan kalimat ancaman di bagian akhir surat pengiriman karyanya.

“. . . Kalau karya-karyaku tak dimuat dalam tiga hari, aku bersumpah akan bunuh diri. Dan itu semua karena KAU!”

Rusman kian terpukul dan kehilangan akal sehat saat dokter mengabarkan bahwa nyawa istrinya tak dapat tertolong. Padahal rumah seisinya telah tergadaikan untuk biaya operasi. Lelaki berbadan kurus itu shock berat karena ditinggal mati orang yang dicintainya. Akal sehatnya benar-benar hilang, dan akhirnya ia pun nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri setelah membakar semua karya-karyanya.

Jasad Rusman yang tergantung di tali pertama kali ditemukan oleh seorang tukang pos yang hendang mengantar surat-surat untuk Rusman. Surat-surat yang isinya tawaran kontrak kerja dan penerbitan karya-karya yang telah dibakarnya. 

Yogyakarta, 27 Agustus 2015

Rania el-Amina

Thursday, 17 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 17:15

Kamu pengguna gadget? Sepertinya kamu harus sedikit berhati-hati dengan alat canggih yang sering menemani dan membantu hidupmu tersebut. Diakui atau tidak, penggunaan gadget yang terlalu lama, akan memengaruhi kesehatan dan kejiwaan pada diri penggunanya. Dan berikut adalah beberapa dampak penggunaan gadget yang terlalu sering dan terlalu lama.

1.Mengurangi Kesehatan
Dampak penurunan kesehatan karena gadget bukanlah hal baru lagi. Telah banyak dijelaskan bahwa gadget dapat secara langsung merusak beberapa bagian tubuh kita, semisal mata, karena radiasi yang dimilikinya. 
Selain itu terlalu lama menggenggan dan memainkan layar sentuh pada gadget juga dapat memberikan dampak pada tulang khususnya persendian tulang pergelangan. 

2.Apatis
Karena terlalu lama memandangi layar gadget, kamu biasanya akan mudah lalai dengan sekitar. Ini akan menjadi berbahaya bila kamu berada di keramaian apalagi jalan raya.
Dan lagi, terlalu lama bermain dengan gadget akan berdampak pada kehidupan sosial kamu. Hal ini mungkin terjadi bila kamu terlanjur lebih nyaman berinteraksi di dunia maya dibanding dunia nyata. Akibatnya, gadget akan menjauhkan kamu dari orang-orang terdekat dan mendekatkan kamu pada orang-orang yang berada jauh di sana.

3.Nomophobia
Nomophobia adalah istilah dari gangguan kejiwaan yang berupa keresahan pada hati dan perasaan saat tidak menggenggam gadget. Hal ini terjadi karena fungsionalitas gadget yang sudah dianggap menjadi kebutuhan primer tak tergantikan sehingga orang akan merasa kehilangan satu bagian tubuh bila tidak memegang gadgetnya

Coba sekarang kita timbang-timbang, sebenarnya lebih baik mana sih smartphone yang kamu pakai saat ini, atau malah phone biasa (bukan stupid-phone lho ya!) yang udah kamu tinggalkan?

Sepintas, fungsionalitas gadget/smartphone memang menggiurkan. Apalagi dengan satu alat, kamu bisa mendapatkan banyak hal menyenangkan untuk menemani hari-harimu. Namun pada realitanya, ada beberapa hal yang tidak dapat kamu dapatkan di smartphone-mu saat ini. Benarkah?

Ya, dengan smartphone kamu akan cenderung sulit untuk melakukan penghematan. Apa lagi kebutuhan smartphone akan internet adalah sebuah keniscayaan. Berbeda dengan phone yang dapat membantu berhemat, karena dengan ponsel biasa tersebut, kamu nggak perlu repot mikir kuota dan sejenisnya. Selain itu, kamu akui atau tidak, ponsel jadul itu lebih hemat baterei, jadi tidak memerlukan biaya tambahan untuk membeli power bank, berbeda sekali bukan dengan smarthone yang perlu nancap terus di power bank?

Ah, iya satu hal juga yang sulit kamu dapatkan saat menggunakan smarthpone dan cuma ada di ponsel jadul, kehangatan kebersamaan. Tak bisa dipungkiri, sebagian besar pengguna smartphone pasti akan lebih sibuk menatap layar gadgetnya dan cenderung mengabaikan orang-orang di sekitarnya, bahkan keluarga pun terkadang dicuekin. Uh, kalo yang itu udah kebangetan sih. 

Pada intinya. Smatphone/gadget adalah hal modern yang baik dan dapat membantu produktifitas dalam kesharian kita. Namun, apapun itu, kalau berlebihan akan menjadi berbalik menjadi hal yang kurang baik. Sebagai makhluk sosial, kita memang dituntut untuk melakukan interaksi dengan orang lain. Namun akan lebih baik pula, bila interaksi di dunia nyata lebih dipertahankan dan dijaga kelanggengannya dibanding interaksi virtual. Setuju?

Tuesday, 15 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:43
Sejak zaman dahulu sampai sekarang, pelajaran matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi momok di bangku sekolah. Alasannya, beragam. Ada yang bilang matematika itu sulit, banyak rumus yang harus dihapal, ribet dan segudang alasan lain yang memojokkan pelajaran matematika. Wah, wah andai aja matematika itu manusia, pasti protes tuh.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses jaringan internet, kamu nggak perlu lagi takut dengan pelajaran matematika. Jika di era serba sentuh seperti sekarang kamu masih kesulitan dalam mengerjakan soal matematika, pasti deh kamu belum berkenalan dengan situs bernama Mathway.

Ya, Mathway yang dapat diakses melalui mathway.com ini adalah pembantu cerdas kamu dalam mengerjakan PR matematika yang diberikan oleh bapak ibu guru di sekolah. Caranya?

Gampang banget kok, cukup tulis soal yang kamu dapatkan di sekolah di halaman awal mathway.com dan dalam hitungan detik, mathway akan memberi tahumu jawaban dari soal yang kamu tanyakan. Bukan hanya jawaban lho, kamu juga bisa melihat step by step penjelsan mengenai soal tersebut. Menyenangkan bukan?

Lebih nyaman lagi, mathway kini juga hadir dalam bentuk aplikasi smartphone Android, jadi lebih praktis dan efisien untuk membantumu.

Beberapa keuntungan yang akan kamu dapatkan dengan mathway antara lain,

1.Efisiensi dalam belajar, baik dari segi waktu maupun materi.
2.Hemat, mengapa? Karena kamu tak perlu menyewa jasa untuk pengajar matematika profesional.
3.Kemudahan dalam belajar matematika, kapan pun dan dimana pun kamu suka.
Perlu diketahui, bahwa mathway bukan saja mampu mengerjakan soal-soal matematika dasar saja, melainkan juga jenis-jenis lain seperti aljabar, geometri, trigonometri, kalkulus, statistika dan masih banyak lagi.

Eits, tapi ingat ya, mathway bukanlah jalan pintas bagi kamu yang benar-benar ingin pandai matematika. Karena eh karena, pada akhirnya kamu tetap harus belajar dan memahami matematika secara baik khususnya saat ujian. Kan nggak boleh bawa hp atau alat hitung, iya kan?

Namun, kalau sekedar ingin tampil smart di depan rekan-rekan belajar sih . . . ? Boleh nggak ya? 
Posted by Rania Amina
No comments | 06:08
terkoyak sepi mencari arti
berjalan tapi kemana lagi
tujuan telah terlewati
tapi kenyataan memungkiri
apa diam artinya mati?




bergerak dengan merangkak
pada masa yang mengerak
mengendap paksa di otak
menyiksa dengan telak
bisa bantu aku bilang tidak?

kau masihlah dermaga
tapi angin jahat menyiksa
ia tiup keangkuhan rasa
hengkanglah semua
biduk pun tak bisa ke sana


15 Sepetember 2015

Sunday, 13 September 2015

Posted by Rania Amina
2 comments | 08:54


Mungkin ini terdengar aneh bagi sebagian orang. Bahkan aku tak begitu yakin ada penulis yang pernah melakukan hal ini. Baiklah, bismillah.

Permisi agan-agan dan para mastah linux, jadi ceritanya nih, aku mau pura-pura menjadi penulis linux. Nah untuk merealisasikan keinginanku tersebut, tentunya aku harus menulis dan (meskipun belum jadi) inilah hasilnya.
Aku belum tahu, The LINUX User akan benar-benar aku jadikan judul atau tidak, itu bisa diaturlah nanti. Namun, mengingat keterbatasan pengetahuan yang aku miliki, dengan segala kerendahan hati, aku memohon review berupa masukan yang sekiranya dapat aku jadikan pijakan melangkah ke arah yang lebih.
Selanjutnya, (calon) buku tersebut telah aku upload dan dapat agan unduh melalui tautan yang telah aku sediakan di bawah tulisan ini. (Calon) buku tersebut belum aku edit sedikit pun, usai merampungkan bagian awalnya.

Jika agan-agan bertanya, mengapa aku membagikan ini? Sebenarnya begini, karena buku ini sedikit banyak menyinggung tentang linux, aku jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sering dilakukan oleh para pengembang open source, yaitu membagikan tulisannya (baca: source code) untuk memperoleh review dan perbaikan. Memang sih aku nggak tahu apakah itu berlaku di dunia penulis buku atau nggak. Tapi, siapa peduli, toh aku ingin membuat sebuah teknik baru dalam dunia sastra (mulai gedhe nih omongnya).

Hal yang mungkin perlu menjadi catatan, aku bukan orang yang pandai membuat program, bukan pula ahli coding, bukan seorang hacker, apalagi seorang yang WOW di bidang linux. Aku hanya seorang sastrawan FOSS, itu saja.

Saturday, 12 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 17:33

AKAN AKU RAPALKAN SEMUA MANTRA RINDUKU
AKAN AKU PAKSA SELURUH ALAM MEMANGGILMU
AKAN AKU TERIAKKAN PADA SEMESTA NAMAMU
AKAN AKU PENJARAKAN LANGIT MALAM INI
AKAN AKU BUNUH PAGI BILA IA DATANG
AKAN AKU . . .
AKAN KU. . .
AKANKAH AKU . . .
AKANKAH AKU KUAT MENAHAN 
AKANKAH AKU BERKEPING DALAM KEHANCURAN
AKANKAH AKU MATI
KASIH
AKAN KUTUNGGU
AKANKAH KAUTAHU
KASIH

12 SEPTEMBER 2015
Sebuah Akhir  yang Tak Pernah Aku Mengerti

Thursday, 10 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 16:10
Ini adalah dunia kami sekarang, dunianya elektron dan switch, keindahan sebuah baud. Kami
mendayagunakan sebuah system yang telah ada tanpa membayar, yang bisa jadi biaya tersebut
sangatlah murah jika tidak dijalankan dengan nafsu tamak mencari keuntungan, dan kalian sebut
kami kriminal.
Kami menjelajah, dan kalian sebut kami kriminal.
Kami mengejar pengetahuan, dan kalian sebut kami kriminal.
Kami hadir tanpa perbedaan warna kulit, kebangsaan, ataupun prasangka keagamaan, dan kalian
sebut kami kriminal.
Kalian membuat bom atom, kalian mengejar peperangan, kalian membunuh, berlaku curang,
membohongi kami dan mencoba menyakinkan kami bahwa semua itu demi kebaikan kami, tetap saja
kami yang disebut kriminal.
Ya, aku memang kriminal.
Kejahatanku adalah rasa keingintahuanku.
Kejahatanku adalah menilai orang lain dari apa yang mereka katakan dan pikirkan, bukan pada
penampilan mereka.
Kejahatanku adalah menjadi lebih pintar dari kalian, sesuatu yang tak kalian maafkan.
Aku memang seorang hacker, dan inilah manifesto saya.
Kalian bisa saja menghentikanku, tetapi kalian tak mungkin menghentikan kami semua.
Bagaimanapun juga, kami semua senasib seperjuangan.

Source : https://id.wikisource.org/wiki/Manifesto_Hacker
Posted by Rania Amina
No comments | 07:17

Resensi adalah penilaian, ulasan atau pertimbangan  baik buruknya sebuah karya sastra, baik buku, film atau yang lain.. 

Manfaat menulis resensi                               

1. Menambah wawasan dan pengetahuan
2. Mengetahui keunggulan dan kelemahan sebuah buku
3. Meningkatkan kemampuan tulis menulis
4. Melatih berpikir kritis
5. Mendapat imbalan dari penerbit maupun media massa 

Prinsip-prinsip Penulisan resensi

1.      Memilih objek resensi
2.      Mengenal dan menguasai objek resensi
3.      Mengulas dan menimbang objek resensi
4.      Menulis hasil resensi

Struktur resensi

1.      Judul resensi
2.      Pendahuluan
3.      Isi 
4.      Penutup

Unsur-unsur resensi buku nonfiksi

1.      Judul resensi   
2.      Identitas buku
         A. Judul buku 
         B. Penulis       
         C. Penerbit     
         D. Tahun terbit
         E. Kota terbit  
         F. Tebal buku  
         G. Jenis buku      : Nonfiksi
3.      Kepengarangan
4.      Tujuan penulisan buku
5.      Ikhtisar
6.      Keunggulan dan kelemahan buku
7.      Kesimpulan

Unsur-unsur resensi buku fiksi (novel/kumpulan cerpen)/ film

1.     Judul resensi     
2.     Identitas buku
         A. judul buku  
         B. Penulis       
         C. Penerbit     
         D. Tahun terbit
         E. Kota terbit
         F. Tebal buku
         G. Jenis buku : Buku fiksi
3.     Kepengarangan
4.     Sinopsis
5.      Unsur intrinsik (tema, tokoh/penokohan, alur, sudut pandang, setting, amanat)
6.      Keunggulan dan kelemahan buku
7.      Kesimpulan

Langkah-langkah menulis resensi

1.      Membaca buku yang akan diresensi.
2.      Menulis data/ identitas buku 
3.      Membuat ikhtisar buku/sinopsis
4.      Memberi penilaian terhadap buku tersebut.
5.      Membuat judul resensi.


Semoga Bermanfaat. . . .

Kontak Rania

Tentang Rania

Rania Amina - Mahasiswa Sastra Indonesia yang jatuh cinta pada Free/Libre and Open Source Software. Sementara ini "numpang" tinggal di Yogyakarta. Inkscape, Gimp dan Scribus adalah aplikasi favoritnya saat ini.


Berbagi adalah hal terbaik yang pernah diajarkan oleh komunitas FLOSS