• Rania Amina

    Selamat Datang di Coretan Kecil Rania Amina

  • Rania Amina

    Tak Perlu Bersusah Payah Mengingat Namaku, Sebab Kaubakal Mengingat dengan Sendirinya Suatu Hari Nanti

  • Rania Amina

    Anda Orang Indonesia? Cintai Bahasa dan Budayanya! Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?

  • Rania Amina

    Tanamkan Niat untuk Menjadi "Khoiru An-Nass Anfauhum Li An-Nass

  • Rania Amina

    Ikhlas, All Out, Lillahi Taala! Kunci Sukses Dunia Akhirat

  • Rania Amina

    Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Thursday, 28 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:16
Beberapa waktu yang lalu saat saya berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, berbagai pengalaman menghampiri dan silih berganti mengisi pikiran. Kota dengan berbagai budaya di dalamnya itu memang tak dapat dipungkiri lagi pluralitas keharmonisannya. Budaya saling menghormati masih cukup terasa mewarnai sendi-sendi kehidupan di sana.
Saat itu saya sedang berada di dalam sebuah bus ekonomi jurusan Jogja-Magelang. Di tengah-tengah perjalanan, masuklah dua orang pengamen dengan gitar dan ketipungnya ke bus yang saya tumpangi. Saya memang lebih menyukai bus ekonomi dari pada bus patas, bukan karena biayanya yang miring namun karena alasan hiburan. Ya, hanya di bus-bus ekonomi kita bisa menjumpai pengamen dan segala kreatifitas dari kalangan orang-orang—yang merasa—terpinggirkan.
Dua orang pengamen itu—setelah mengucapkan prolog singkat—mulai memetik gitar dan menampar ketipung yang digantung di bahunya. Mereka menyanyikan sebuah lagu beraliran reggae berjudul Ceng Ceng Po kara Sukir Genk.
Awalnya saya tek tahu lagu tersebut, namun mendengar bait-demi bait terlantun dengan vokal yang pas, membuat saya tertarik untuk mencarinya di Youtube melalui smartphone putih yang saya bawa. Beberapa recehan pun saya berikan pada dua pengamen itu, sejurus kemudian mata saya sudah fokus tertuju pada layar ponsel dengan earphone yang tersambung ke telinga.
Ketertarikan itu mendorong saya untuk mencari lirik lagu Ceng Ceng Po di internet yang rupanya telah cukup masyhur, jika dilihat dari jumlah blog/website yang telah memostingnya. Berikut adalah salah satu lirik yang saya copas dari sebuah blog,

CENG CENG PO
Sukir Genk

sepiro lawase aku kenal karo kuwe
wong ayu anake guru marakne ra iso turu
aku sadar wong tuamu ora bakalan setuju
nduwe mantu mlarat bondo pengangguran koyo aku
aku niat nekat mangkat dolan neng omahmu
rencanaku kui among jalok dongo lan pangestu
karo bapak ibumu tau omongne opo enekku
jare bapakmu kabeh wong lanang kui koyo a*u a*u a*u a*u a*u
ceng ceng po kui jare wong tuamu ceng ceng po kui jare wong tuamu
ceng ceng po kui jare wong tuamu ceng ceng po kui jare wong tuamu
nganti tekane patiku ora mungken lali
opo seng wes di ucapne karo wong tuamu kui
mbok nganti kejegor sumor aku ora bakal mundur
tak terosne paleng ujung ujunge atiku ajor ajor ajor ajor muwor
golek utangan tonggo nggo mangkat neng jakarta
idep idep ngedu nasib mugo kabol cita cita
durong ngasi entok hasil aku wes kok tinggal mlayu
kowe ninggal aku mergo dijodohne wong tuamu kae seng rupane koyo
jiwa seniman kui ora iso di atur
padahal bandane seniman ora iso di ukor
wong tuamu mripate nyawang aku kui mong nganggur 
otak buyar jane pikiranmu iseh mambu kencor kencor kencor kencor kencor
sak ben dinane yen kelingan mataku mbrebes
awak ku tambah kuru rambutku rontok mergo stres
paito roso atiku ngulii pait godong kates
wong tuamu mrenges njodokne kowe karo PNS kae seng rupane koyo

Lirik yang cukup simpel bukan? Dari beberapa data yang tertulis di internet, Sukir Genk memang sering mengangkat kisah-kisah  dalam kehidupan nyata sebagai ide dalam lagu-lagu mereka, dan Ceng Ceng Po adalah salah satunya.
Secara arti, sebenarnya saya belum tahu pasti apa itu Ceng Ceng Po. Namun melihat dari koherensinya dengan lirik lagu di atas, mungkin Ceng Ceng Po adalah istilah baru berupa akronim untuk menyebut orang-orang yang tidak kita sukai alias nama sindiran.
Dalam lagu tersebut juga terdapat sensor kecil dengan palafalan agak diselewengkan dari kata aslinya yang memang sebenarnya memiliki arti kasar, lihat lirik “A#u”.
Lirik yang baik biasanya membangun makna utuh dalah sebuah syair atau lagu. Namun pada lirik lagu Ceng Ceng Po ada bebrapa bait yang menggelitik bagi saya. Sebuah pertentangan yang entah disadari atau memang disengaja oleh penulis lirik tersebut.
Perhatikan potongan iriik berikut

aku sadar wong tuamu ora bakalan setuju
nduwe mantu mlarat bondo pengangguran koyo aku


Dalam lirik tersebut si penulis menyatakan bahwa dirinya adalah seorang pengangguran yang kemungkinan besar akan ditolak sebagai menantu oleh calon mertuanya, namun perhatikan lirik berikutnya,

jiwa seniman kui ora iso di atur
padahal bandane seniman ora iso di ukor
wong tuamu mripate nyawang aku kui mong nganggur otak buyar
jane pikiranmu iseh mambu kencor kencor kencor kencor kencor

pada lirik di atas si penulis lirik menyatakan penolaknnya terhadap pendapat calon mertuanya yang beranggapan bahwa “tokoh aku” seorang pengangguran. Secara tak langsung, penulis juga menyatakan bahwa dirinya adalah seorang seniman dan seniman sendiri itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak dapat disamakan dengan pengangguran.
Dari kedua potongan lirik tersebut jika dicermati seolah-olah memang bertentangan atau tidak koheren, tentang status pengangguran yang dilabelkan pada diri “aku”. Namun secara keseluruhan lirik lagunya memang asik dan menghibur sekali.
Untuk yang penasaran denga lagu ini, silakan tonton di Youtube.
(Sebuah Review Sastra Amatir)




0 comments:

Kontak Rania

Tentang Rania

Rania Amina - Mahasiswa Sastra Indonesia yang jatuh cinta pada Free/Libre and Open Source Software. Sementara ini "numpang" tinggal di Yogyakarta. Inkscape, Gimp dan Scribus adalah aplikasi favoritnya saat ini.


Berbagi adalah hal terbaik yang pernah diajarkan oleh komunitas FLOSS