• Rania Amina

    Selamat Datang di Coretan Kecil Rania Amina

  • Rania Amina

    Tak Perlu Bersusah Payah Mengingat Namaku, Sebab Kaubakal Mengingat dengan Sendirinya Suatu Hari Nanti

  • Rania Amina

    Anda Orang Indonesia? Cintai Bahasa dan Budayanya! Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?

  • Rania Amina

    Tanamkan Niat untuk Menjadi "Khoiru An-Nass Anfauhum Li An-Nass

  • Rania Amina

    Ikhlas, All Out, Lillahi Taala! Kunci Sukses Dunia Akhirat

  • Rania Amina

    Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Thursday, 28 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:16
Beberapa waktu yang lalu saat saya berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, berbagai pengalaman menghampiri dan silih berganti mengisi pikiran. Kota dengan berbagai budaya di dalamnya itu memang tak dapat dipungkiri lagi pluralitas keharmonisannya. Budaya saling menghormati masih cukup terasa mewarnai sendi-sendi kehidupan di sana.
Saat itu saya sedang berada di dalam sebuah bus ekonomi jurusan Jogja-Magelang. Di tengah-tengah perjalanan, masuklah dua orang pengamen dengan gitar dan ketipungnya ke bus yang saya tumpangi. Saya memang lebih menyukai bus ekonomi dari pada bus patas, bukan karena biayanya yang miring namun karena alasan hiburan. Ya, hanya di bus-bus ekonomi kita bisa menjumpai pengamen dan segala kreatifitas dari kalangan orang-orang—yang merasa—terpinggirkan.
Dua orang pengamen itu—setelah mengucapkan prolog singkat—mulai memetik gitar dan menampar ketipung yang digantung di bahunya. Mereka menyanyikan sebuah lagu beraliran reggae berjudul Ceng Ceng Po kara Sukir Genk.
Awalnya saya tek tahu lagu tersebut, namun mendengar bait-demi bait terlantun dengan vokal yang pas, membuat saya tertarik untuk mencarinya di Youtube melalui smartphone putih yang saya bawa. Beberapa recehan pun saya berikan pada dua pengamen itu, sejurus kemudian mata saya sudah fokus tertuju pada layar ponsel dengan earphone yang tersambung ke telinga.
Ketertarikan itu mendorong saya untuk mencari lirik lagu Ceng Ceng Po di internet yang rupanya telah cukup masyhur, jika dilihat dari jumlah blog/website yang telah memostingnya. Berikut adalah salah satu lirik yang saya copas dari sebuah blog,

CENG CENG PO
Sukir Genk

sepiro lawase aku kenal karo kuwe
wong ayu anake guru marakne ra iso turu
aku sadar wong tuamu ora bakalan setuju
nduwe mantu mlarat bondo pengangguran koyo aku
aku niat nekat mangkat dolan neng omahmu
rencanaku kui among jalok dongo lan pangestu
karo bapak ibumu tau omongne opo enekku
jare bapakmu kabeh wong lanang kui koyo a*u a*u a*u a*u a*u
ceng ceng po kui jare wong tuamu ceng ceng po kui jare wong tuamu
ceng ceng po kui jare wong tuamu ceng ceng po kui jare wong tuamu
nganti tekane patiku ora mungken lali
opo seng wes di ucapne karo wong tuamu kui
mbok nganti kejegor sumor aku ora bakal mundur
tak terosne paleng ujung ujunge atiku ajor ajor ajor ajor muwor
golek utangan tonggo nggo mangkat neng jakarta
idep idep ngedu nasib mugo kabol cita cita
durong ngasi entok hasil aku wes kok tinggal mlayu
kowe ninggal aku mergo dijodohne wong tuamu kae seng rupane koyo
jiwa seniman kui ora iso di atur
padahal bandane seniman ora iso di ukor
wong tuamu mripate nyawang aku kui mong nganggur 
otak buyar jane pikiranmu iseh mambu kencor kencor kencor kencor kencor
sak ben dinane yen kelingan mataku mbrebes
awak ku tambah kuru rambutku rontok mergo stres
paito roso atiku ngulii pait godong kates
wong tuamu mrenges njodokne kowe karo PNS kae seng rupane koyo

Lirik yang cukup simpel bukan? Dari beberapa data yang tertulis di internet, Sukir Genk memang sering mengangkat kisah-kisah  dalam kehidupan nyata sebagai ide dalam lagu-lagu mereka, dan Ceng Ceng Po adalah salah satunya.
Secara arti, sebenarnya saya belum tahu pasti apa itu Ceng Ceng Po. Namun melihat dari koherensinya dengan lirik lagu di atas, mungkin Ceng Ceng Po adalah istilah baru berupa akronim untuk menyebut orang-orang yang tidak kita sukai alias nama sindiran.
Dalam lagu tersebut juga terdapat sensor kecil dengan palafalan agak diselewengkan dari kata aslinya yang memang sebenarnya memiliki arti kasar, lihat lirik “A#u”.
Lirik yang baik biasanya membangun makna utuh dalah sebuah syair atau lagu. Namun pada lirik lagu Ceng Ceng Po ada bebrapa bait yang menggelitik bagi saya. Sebuah pertentangan yang entah disadari atau memang disengaja oleh penulis lirik tersebut.
Perhatikan potongan iriik berikut

aku sadar wong tuamu ora bakalan setuju
nduwe mantu mlarat bondo pengangguran koyo aku


Dalam lirik tersebut si penulis menyatakan bahwa dirinya adalah seorang pengangguran yang kemungkinan besar akan ditolak sebagai menantu oleh calon mertuanya, namun perhatikan lirik berikutnya,

jiwa seniman kui ora iso di atur
padahal bandane seniman ora iso di ukor
wong tuamu mripate nyawang aku kui mong nganggur otak buyar
jane pikiranmu iseh mambu kencor kencor kencor kencor kencor

pada lirik di atas si penulis lirik menyatakan penolaknnya terhadap pendapat calon mertuanya yang beranggapan bahwa “tokoh aku” seorang pengangguran. Secara tak langsung, penulis juga menyatakan bahwa dirinya adalah seorang seniman dan seniman sendiri itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak dapat disamakan dengan pengangguran.
Dari kedua potongan lirik tersebut jika dicermati seolah-olah memang bertentangan atau tidak koheren, tentang status pengangguran yang dilabelkan pada diri “aku”. Namun secara keseluruhan lirik lagunya memang asik dan menghibur sekali.
Untuk yang penasaran denga lagu ini, silakan tonton di Youtube.
(Sebuah Review Sastra Amatir)




Wednesday, 27 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 20:52
Terlalu asik memperhatikan permainan gitar akustiknya, membuatku terlena dan lagu yang ia nyanyikan kandas sebelum reff yang kedua. Agaknya Rania menyadari kehadiran diriku.reflek aku buru-buru menghadap ke bawah, menoleh ke kiri, kanan sambil menundukkan kepala seolah mencari barangku yang -tak- hilang.
“Nayla, sedang apa? Mencari sesuatu?” selidik Rania.
“Ah, tidak Ran. Kukira tadi ada barangku yang jatuh, mungkin cuma perasaanku aja, maklum lagi banyak tugas.”
“Benar...?”
“Hmm...” aku mengangguk. “Kamu suka lagu barusan?” ucapku mengalihkan perhatian.
“Oh, lagu tadi... Kamu dengerin aku ya?” jawab Rania sambil membuat senyuman, namun tak selang berapa lama wajahnya pasi.
“Iya, tadi dari luar, samar-samar aku dengar suaramu Ran” kudekati Rania, “gitarmu bagus.” sambungku.
Rania terdiam, ia malah tertunduk lesu sambil mengelus tabung resonansi gitar abu-abu yang masih di pangkuannya itu.
“Kenapa Ran? Kok jadi masam gitu wajahnya?”
“Kamu tahu Nay, ini adalah satu-satunya benda paling berharga yang masih kumiliki.”
Aku kurang mengerti dengan maksud Rania, alhasil aku hanya mengeryitkan dahi sebagai isyarat ketidak pahamanku.
“Iya Nay... aku punya kenangan tersendiri dengan gitar ini, sebuah kenangan kelam yang memberiku sebuah pelajaran berharga tentang arti sebuah persahabatan. Satu kenangan yang membuatku berani melangkah sampai hari ini.” Tuturnya sambil meneteskan bening air mata.
Agaknya peristiwa yang dialaminya begitu dalam dan menyedihkan. Aku jadi tak tega untuk melanjutkan.
“Ma... maafkan aku Ran, aku tak bermaksud mengungkit masa lalumu, aku tak ingin kau sedih”
“Nggak apa-apa Nay, suatu hari nanti kau pasti tahu, dan semoga kau masih mau berteman denganku pada hari itu”
“Iya! Pasti! Kita akan berteman selamanya. Jika butuh teman, datang saja padaku. Ada aku untukmu Ran.”
Aku berusaha menghiburnya, namun Rania justru malah langsung mendekapku, sebuah dekapan hangat dari seorang sahabat.
“Makasih Nay.” Bisiknya lirih.
Aku senang Ram, Rania mau mempercayaiku, tapi....
Rama,
Sebenarnya ada satu alasan lain yang membvuatku mengirim surat ini padamu. Aku ingin kau tahu apa yang tengah berkecamuk di batin sahabatmu ini. Mungkin aku bisa menebak pendapatmu, namun aku mohon Ram, berikan aku sebuah solusi,beri aku jalan keluar.
Rama, aku bingung sekali dengan apa yang sedang berlaku pada diriku. Aku tak ingin menjalani perasaan terlarang ini. Ya Ram, aku terlanjur mencintai Rania,menyayanginya lebih dari sekedar sahabat. Aku yakin engkau pasti tahu bagaimana perasaan-perasaan membingungkan yang menderaku saat ini. Tolonglah Ram, berikan aku titik terang agar aku terhindar dari dosa ini. Aku bahkan tak pernah berpikir bagaimana aku bisa mencintai sesama jenisku sendiri. Aku ingin tahu pendapatmu soal ini, dan tolonglah... Tolong bantu aku  keluar dari kegelapan ini.
Sobat,
Aku rasa cukup ini dulu cerita lepasku. Sebenarnya masih belum tuntas cerita yang ingin kusampaikan, namun tak apa, setidaknya lekaslah kau balas surat ini. Aku butuh saran darimu.

Sekian
Sahabat kecilmu
Nayla Prasilia.

Rama kembali melipat kertas merah jambu yang kini berpindah ke tangan kirinya dengan wajah penuh kerisauan. Bibirnya tampak bergetar mencoba untuk bertutur, namun tak ada sedikit pun suara yang mengapung di udara terdengar.
“Nayla, haruskah aku jujur bahwa Rania adalah diriku? Haruskah aku mengatakan, bahwa aku mengikutimu ke kota beberapa hari setelah keberangkatanmu? Aku mencintaimu Nay.” bisik Rama lirih.
Debur ombak masih saling bersahutan. Rama berdiri meninggalkan bibir pantai yang kini diselimuti kain malam. Tak tampak lagi pasir yang ditempatinya tadi, hanya jejak langkah tak beraturan yang pergi menjauh meninggalkan pantai dalam nyanyian ombaknya. Jejak yang mewakilkan kerinduan pada seorang sahabat masa lalu.


*Lirik lagu peterpan, “Jauh Mimpiku.”

Tuesday, 26 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 19:30
Matahari mulai merapat ke pangkuan senja, perlahan sinarnya mulai memudar. Dari balik rimbun pohon, sedikit cahaya masih berbias agak menyilaukan. Hingga akhirnya samar-samar oranye kemerahan menyeruak, mewarnai batas lautan nun di sana.
Rama masih tampak duduk terkapar di bibir Pantai Harapan. Berkali-kali gelombang laut berusaha menggapainya, namun sekalipun tidak pernah berhasil. Dengus ombak sore itu hampir seirama dengan desir kesedihan yang menggelombang di hatinya. Dengan segunung kerinduan yang menjulang, mata sembabnya masih meraba kertas merah jambu yang sedari tadi digenggam dengan tangan kanannya. Sepucuk surat dari sahabat masa lalunya, Nayla Prasilia.
Rama dan Nayla adalah sepasang sahabat sejak masih dalam bualan bunda. Kebersamaan mereka terjalin dengan baik karena rumah mereka hanya berjarak sepuluh langkah orang dewasa, begitu dekat. Tujuh hari dalam seminggu, tiada sehari pun berlalu tanpa kebersamaan Rama dan Nayla. Kebanyakan orang yang baru mengenal Rama atau Nayla, selalu beranggapan bahwa mereka berdua adalah saudara -kakak beradik-. Dimana ada Rama di situ ada Nayla. Meski umur mereka hanya selisih sebelas hari, namun badan Rama terlihat tumbuh lebih besar dari Nayla, jadi wajar saja jika orang-orang berpikir Rama adalah kakak dari Nayla.
Selain karena rumah mereka yang berdekatan, kebersamaan mereka berdua terjalin begitu baik lantaran sejak TK bahkan hingga SMA, Rama dan Nayla selalu duduk sebangku. Pernah suatu hari ketika Nayla diminta oleh guru kelas empat SD-nya untuk bertukar tempat duduk dengan Dewi -teman sekelas Rama dan Nayla- Ia malah langsung menangis histeris. Rama pun sebenarnya juga sempat meneteskan air mata ketika itu, hanya saja ia tak sampai menangis layaknya Nayla, gengsi barangkali. Melihat itu, akhirnya sang guru pun membiarkan Rama dan Nayla tetap duduk sebangku, dan tersenumlah mereka berdua.
Kebersamaan iyu terus berlanjut hingga masa remaja menghampiri mereka berdua. Sungguh keindahan persahabatan yang begitu indah dari Tuhan. Sebuah jalan yang seolah sangat terencana.
Sebenarnya, dalam hati Rama, sedikit demi sedikit telah mulai tumbuh benih-benih cinta pada Nayla, namun ia selalu saja mencoba untuk memalingkan dirinya dari perasaan yang menyesakan dada itu. Rama selalu berusaha untuk tetap menganggap Nayla sebagai adik sendiri walaupun pada akhirnya selalu saja gagal.
Tiada hari tanpa kebersamaan Rama dan Nayla. Persahabatan yang mereka jalin begitu sempurna, dan barangkali itulah yang membuat hati serta perasaan Rama begitu terpukul ketika harus berpisah dengan Nayla.
Ya, selepas SMA, Naylapergi meninggalkan tanah kelahirannya. Ia hendak melanjutkan studinya ke sebuah universitas di kota sana. Sebuah perpisahanyang tak pernah mereka rencanakan, terbayang pun tidak.
Rasa pilu kembali datang, menerpa bersama angin yang terlahirdari gulungan ombak, dengan agak terbata-bata Rama mulai mengeja kembali surat yang dikirim oleh sahabat karibnya, dari Nayla.



2 November 2011
Rama Edo 6
di Pantai Harapan

Salam sobat, salam tasbih pantai harapan yang selalu riang bergembira menggelorakan ketenangan.
Tak akan berhenti aku berdo’a untuk kesehatan dirimu. Aku selalu berharap semoga setiap langkahmu, serta hembus nafasmu selalu disertai oleh ridha-Nya, juga rekah senyum bibirmu tak pernah kuncup sekalipun badai pilu menghantam pikiran dan sinar mentari yang menjelma rindu, amat menyengat kalbu, melahirkan perasaan yang membebah dalam rasa yang belum bisa tersatukan.
Sobat,
Bersama selaut rindu yang bergelayut, aku mencoba menggoreskan pena yang akan berkabar tentang jauh jarak yang membentang di antara kita berdua, tentang keadaanku di kota baru yang aku singgahi ini. Sebuah kota yang mempertemukanku dengan seorang perempuan yang amat baik padaku. Seseorang yang begitu dalam menyayangiku, selayaknya dirimu. Namanya Rania, Rania inilah yang memperhatikan aku selalu, orang yang selalu ada untuk menemaniku. Rama, aku sempat berfikir bahwa Rania adalah seorang Rama yang lain, Rama dalam wujud seorang perempuan. Namun tentu saja tidak, karena Rama adalah sahabatku yang tiada duanya di dunia ini.
Tentang Rania, dia adalah satu-satunya teman baru yang cepat akrab denganku. Aku sendiri sempat merasa heran, sebab semenjak  pertama jumpa ketika OSPEK, ia selalu memperhatikan diriku, aku sering sekali menangkap basah dirinya ketika sedang memandangku. Alhasil, memerahlah wajahnya.
Rama, kupikir pertemuanku dengannya bukanlah sebuah kebetulan , garis tuhan menurutku. Sebab entah bagaimana, hari ini Rania menjadi teman satu fakultasku, teman satu kelas dan teman ketika pulang-pergi kuliah. Ya, rumah Rania tak jauh jaraknya dengan rumah yang aku tinggali, jadi kami berdua selalu menghabiskan waktu bersama.
Rania juga memiliki hobi yang sama denganmu, memetik gitar dan bernyanyi. Dan kau tahu lagu kesukaan Rania? Yaps, lagu yang sering kau nyanyikan bersamaku ketika kita masih bersama adalah lagu favoritnya. Dia itu mirip sekali denganmu, mungkin itulah sebabnya aku lekas akrab dengan Rania. Ia membuatku merasa nyaman ketika bersamanya. Aku sering bercerita tentangmu padanya, namun Rania selalu saja tak percaya dan menganggapku mengada-ada. Ah, ingin rasanya kupertemukan kalian berdua, supaya Rania percaya bahwa di dunia ini ada seseorang seperti dirinya, hanya saja seorang lelaki.
Belakangan ini aku sering bercerita pada Rania, saat aku bersedih atau dalam masalah, ialah muaraku dalam meluapkan keluh kesah. Hampir semua posisimu terwakilkan oleh kehadirannya.
Bukan, bukan maksudku hendak menggantikan kau dengan orang lain, sebab tak akan ada seorangpun yang mampu menggantikan posisimudi hatiku tidak akan Ram. Kaulah sahabat terbaik yang kumiliki di dunia ini. Hanya kau, Rama.
Sobat,
Pernah suatu ketika aku tanpa sengaja melihatnya sedang memetik senar gitarnya sambil mendendangkan sebuah lagu. Meskipun agak samar terdengar, aku kenal benar lagu yang sedang ia nyanyikan. Itu lagu kesukaanmu.
Pernah kusimpan jauh rasa ini
Berdua jalani cerita
Kau ciptakan mimpiku
Dan itu hanya sesalkan diriku
Kau ciptakan mimpiku
Jujur ku hanya sesalkan diriku
Kuharus lepaskanmu
Melupakan senyummu
Semua tentangmu tentangku
Hanya harap jauhku
Jauh mimpiku

Monday, 25 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 15:40
Pernahkah kau merasa menjadi sesorang yang seolah tak ada artinya bagi seseorang yang kaucintai? Pernahkah kau merasa seolah-olah kehadiranmu tak memberikan perbedaan sama sekali untuk orang yang kaukasihi?
Jika kau terlanjur menjadi seperti itu, apa yang akan kaulakukan selanjutnya? Mengutuki dirimu sendirikah, atau malah pergi menjauh dari orang yang mungkin juga mencintaimu?
Sejujurnya aku tak begitu tahu tentang apa yang akan kutulis ini, namun perasaan yang kuungkapkan di atas itulah yang saat ini aku rasakan. Aku memang sulit untuk berbohong pada diriku sendiri, terlebih soal perasaan.
Beberapa bulan silam, saat aturan sistem amat kuat mengikatku. Sehingga pada akhirnya aku menjumpai berbagai kesulitan untuk menjalin komunikasi dengan orang yang aku sayangi. Namun pada kenyataanya, kesulitan itu justru membuatku terus termotivasi dan berusaha yang berujung pada kegiatan berkirim-terima surat melalui kantor pos selayaknya zaman-zaman sebelum gadget atau hp banyak dikenal seperti sekarang ini.
Ya, setidaknya. . . satu bulan sekali aku akan mengirim surat yang berkisah tentang keadaanku di tempatku belajar itu. Dan setidaknya pula, dalam satu bulan aku akan menerima balasan yang berisi kisah dan kabar tentang orang yang aku cintai sejak SMP nun di sana.
Surat terakhir yang aku terima adalah saat aku pulang dari kegiatan perkemahan usai wisuda purnaku di tanah rantau. Kauyahu, saat rindu amat membelenggu, lembaran-lembaran surat yang ditulis dengan jemarinya itulah obat paling mujarab yang kupunya.
Namun sekarang, saat semuanya sudah boleh kulakukan—tak lagi terikat sistem—aku malah jarang sekali menghubunginya. Bukan karena aku tak mau sebenarnya, namun karena kesibukan pasca kelulusankulah salah satu penyebabnya.
Aku menyadari, belakangan ini sikapnya cukup manja padaku. Seringkali ia mencoba untuk mencari perhatian dengan pesan-pesan singkat yang ia kirimkan. Sayangnya, aku benar-benar tak lagi punya waktu untuk sedikit saja bersantai. Bahkan untuk diriku sendiri pun, aku tak punya.
Harus kuakui, ia memang amat perhatian denganku. Meskipun pada kenyataannya aku belum bisa membalas perhatian itu secara penuh. Andai kau mengalami seperti yang kualami ini, apa yang akan kaulakukan?

Ah, iya . . . nama orang yang amat kusayangi itu adalah Nining.

Sunday, 24 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 15:59
Yel-yel ini adalah yel-yel yang tiga tahun lalu bergema saat PPSN 2012 di Batam.

1.       Di dalam tugas kami tak pernah memalukan
Soalnya dalam tugas itu terdapat amanah
Komando baret coklat pramuka Jawa Tengah
Ayolah . . . ayo maju . . .
Sampai  . . . titik darah penghabisan
Minggir dong 3x
Pramuka Jawa Tengah mau lewat
Kosongkan semua jalan
Berikan penghormatan
Minggir dong 3x

2.       Mari kawan galanglah sebuah tekad
Tekad membara di dalam pramuka
Bersama kawan kita pergi berkelana
Jangan lupa membawa peta
Di pramuka nggak ada botol AO
Di pramuka nggak ada botol mensen
Di pramuka nggak ada botol topi miring
Yang ada cuma jagung bakar
Mari kawan kita bersukaria
Bergembira bersama Jawa Tengah
Jangan lupa mengamalkan Dasa Dharma
Dan juga bersama Tri Satya
Jawa Tengah nggak ada kata kalah
Jawa Tengah nggak ada kata nyerah
Jawa Tengah nggak ada kata putus asa
Yang ada tekad yang membara

3.       Anak pramuka tekad membara
Membangun bangsa
Untuk bersama
Kita satukan persahabatan
Dengan senyuman
Dengan s’mangat berkibar 3x
Ohohoho. . . 4x

4.       Hey arek-arek iki pramukane
Jawa Tengah maju pramukane
Aduh-aduh nganthi tekan kene
Udan panas wis tak rasakake
. . . hoho Jateng nan jaya 2x
Berjuanglah demi kontingen kita

5.       Was awas kami datang
Pramuka dari Jawa Tengah
Kalo nggak awas nanti was-was
Kalo dah was-was awas tewas

6.       Sudah kubilang jangan lawan Jawa Tengah
Sekarang kamu merasakan akibatnya
Lebih baik kamu pulang ke rumah saja
Duduk manis nonton di layar kaca
Siapa suruh . . . lawan Jawa Tengah 2x

7.       Di arena pramuka
Kita galang persatuan kita
Adakan kekompakan
maju mundur kita sama-sama
bila panas kita kepanasan
bila hujan kita kehujanan
tak peduli semua apa yang terjadi
ohoho apa yang terjadi

8.       Hey yang di sana bagaimana kabarnya
Hey yang di sini bagaimana kabarnya
Hey kau Nusantara bagaimana kabarnya
Hey kau Jawa Tengah bagaimana kabarnya
Rencong marincong 3x
We are scouting 2x
We are member of
The best of Jateng

9.       Pramuka raja rimba (raja rimba)
Nir marinir raja laut (raja laut)
Dirgantara dirgantara raja di udara
Bhayangkara raja jalan raya
Pergi peperangan tak pernah masuk koran
Kalah peperangan negara diambil orang
Caca marica hehey 2x
Caca marica ada di Banjarmasin
Mari kemari ayo kita kemah
Marilah berkemah di buper Tanah laut
Mana suaranya hehey 2x
Ini suara kontingen Jawa Tengah

10.   Holong maholong dipatile-tile 2x
Sonde-sonde ala sonde-sonde
Ala sonde-sonde paule
Pong-pong-pong


(*)
Ini adalah yel-yel yang harus dikuasai oleh setiap peserta PPSN Jawa Tengah, sampai jumpa di Semarang besok!

Berikut Adalah Link Download Yel-yel di Atas. Usahakan Besok Saat di Semarang Agar Dibawa Ya...

Yel-Yel Versi PDF

Yel-yel Versi RTF

SUKSES!!!

Saturday, 23 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:16
Posted by Rania Amina
No comments | 08:05
Hari pernikahanku kian dekat namun sikap ayda masih dingin padaku. Beberapa kali kucoba menyapa, mengajak makan atau sekedar mengajak keluar dari kamar untuk jalan–jalan. Tapi, ia selalu menolak tanpa berucap satu pun kata. Hanya menggeleng lalu pergi meninggalkanku begitu saja.
Tentang Ruwayda ini aku belum berani bercerita pada siaapa pun, termasuk pada ayah–ibu apalagi Mas dani. Aku khawatir keresahan akan menghampiri mereka. Jadi, aku lebih memilih diam dan menyimpan rapat permasalahan ini.
Sayangnya kelihaianku menutupi masalah ini tak berlangsung lama. Sebab tak selang berapa lama, ibu mulai curiga terhadap kami. Apalagi kesehatan ayda yang secara drastic menurun, kian menguatkan kecurigaan ibu. Pun tahu demikian, tampaknya ibu juga memilih untuk diam terlebih dahulu sembari membawa Ayda ke rumah sakit untuk diperiksa keadaannya.
Keadaan kian memburuk saat dokter memberikan keterangan tentang penyakit Ayda. Menurut dokter infeksi saluran pernafasan akut yang di idap Ayda sejak kecil mulai kambuh lagi dan cukup parah. Ditambah lagi infeksi pada lambungnya akibat makan tak teratur menjadikan tubuh ramping Ayda terbaring tak berdaya.
Kabar itu membuat ayah dan ibu tersentak. Keadaan Ayda yang memburuk ini, bisa jadi akan menghambat rencana pernikahanku, bahkan mungkin terancam gagal! Karena tak mungkin aku berbahagia di atas kepedihan adikku.
* * *
Kalender bulan Januari telah menunjuk angka ke–17. Tepat sehari sebelum acara pernikahan sebagaimana yang tercantum di undangan yang telah disebar. Namun kepastian akan hari esok masih jadi mesteri bagiku.
Sejak sore kamarin Mas Dani menemaniku menginap di rumah sakit. Karena keadaan kian rumit seperti ini, mau tidak mau aku terpaksa menceritakan semua tentang Ayda pada Mas Dani, termasuk keadaannya.
Adikku sendiri masih belum sadar sejak tiga hari kemarin. Di hidungnya masih tertempel selang oksigen untuk membantunya bernapas. Sejujurnya aku amat prihatin melihat keadaan adikku. Ia begitu teriksa karena cinta pertamanya.
“Ada yang bernama Dani ?” Tanya seorang suster mengagetkan aku, ayah, ibu serta Mas Dani yang duduk di bangku koridor.
“ Saya, sus…” ucapan Mas Dani.
Suster tersebut memberi isyarat pada kami untuk masuk ke ruangan Ayda. Sebenarnya syarat itu lebih khusus ditujukan pada Mas Dani. Namun rasa khawatir telah menutup jalan pikir kami.
“Mas Dani…Mas Dani…” setengah sadar Ayda menyebut nama kekasihku berulang – ulang.
 “Iya Ayda, Mas ada di sampingmu.” ucap Mas dani sambil menggenggam telapak tangan Ayda yang tersambung dengan selang infus.
“Maafkan Ayda … Ayda jatuh cinta pada Mas Dani …” ucap Ayda lemas dan terbata–bata.
Mas Dani melempar pandangannya ke arahku. Semua yang ada di ruangan terdiam. Aku sendiri tak tahu harus bagaimana. Yang mampu kulakukan hanya menahan tangis dan memundukkan kepalaku, mencoba menyembunyikan kegelisahanku.
“Ayah, ibu, Ayda ingin pulang sekarang. Ayda ingin melihat Mbak Rindi menikah dengan Mas Dani.”
“Tapi Ayda belum sembuh …” ucap ayah lembut.
“Percayalah. Ayda tak apa–apa. Ini permintaan Ayda...”
Aku tetap dalam diamku. Akhirnya ayah meminta pertimbangan dokter yang bertugas saat itu. Dan dengan segala pertimbangan, dokter pun mengijinkan Ayda pulang malam itu juga. Dan menjalani rawat jalan.
* * *
Adzan Isya' telah berkumandang. Bersamaan dengan kepulangan kami dari rumah sakit. Dengan amat hati–hati aku dan Mas Dani membantu Ayda berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Rupanya segala acara pernikahan telah dipersiapakan dengan baik oleh keluarga Mas Dani. Tinggal menghitung jam saja aku akan mendengar lafal ijab–Kabul diucapkan. Sayangnya bukan bahagia yang kurasa malah kebimbangan dan kegusaran yang kudera.
“ Ayah, ibu… Mas Dani ..” kebimbanganku angkat bicara, seketika semuanya menoleh namun terpatung diam.
“ Ijinkan Rindi … menyerahakan hari bahagia besok untuk Ayda…”
“ Maksud kamu apa Nduk?” Tanya ayah
“Mas Dani nikahilah Ayda…”
Senyap menyelimuti ruangan kami berbincang
“Adik bercanda kan ?”
“Adik serius Mas!, Bahagiakanlah Ayda! Demi aku, Mas.”
“Tapi Dik …
“Rindi yakin …?” Tanya ibu
“Insyaallah, ini pilihan Rindi … dan Mas, kumohon kabulkanlah permintaan ini, demi cintaku pada Mas…”
Mas Dani tampak linglung. Ia tamapak belum dapat percaya apalagi menerima tentang apa yang baru saja aku ucapkan.
“Rindi tahu ini berat. Tapi, ini untuk kebaikan kita semua. Biarkan saat Ayda bangun nanti ia menjadi pengantin untuk Mas Dani.”
Kekasihku itu pun tertunduk diam sebelum akhirnya berkata dengan suara yang cukup lirih, “Baiklah.”
“Kamu yakin, Nak ?” ayah memastikan. Dan Mas Dani cukup menjawab dengan sekali anggukan kepala.
* * *
Di rumah Mas Dani, segala persiapan telah sempurna. Di pagi yang masih hangat itu merdu terdengar lagu “Pengantin Baru” yang diputar berkali–kali.
Dengan wajah sedikit pasi, Ayda nampak begitu anggun dengan pakaian putih khas mempelai wanita. Jilbab dengan warna senada dengan pakainya turut mempercantik wajah oval manisnya.
Meski hatiku masih sesak dengan semua ini, namun kucoba untuk tetap tersenyum sambil membantu adikku berjalan menuju tempat dilaksanakannya ijab–kabul.
Beberapa tamu undangan nampak bingung mendapati kejadian ini. Tentu saja hal itu wajar, karena yang tertulis di undangan adalah namaku dan Mas Dani, bukan Ruwayda Anjani, adikku. Namun, hal itu tak sedikit pun berpengaruh pada keteguhanku.
“Dik, maafkan aku …” undang Mas Dani sambil menatap mataku cukup dalam.
“Sudahlah, mungkin semua ini memang jalan dari Allah mulai sekarang panggil aku “Mbak” bukan “Dik” lagi …”
“…”
“Sudahlah… Dani, ikhlaskan hatimu, bukankah kamu yang dulu mengajariku tentang keikhlasan menerima takdir?” kuhela napasku panjang.
“Iya dik… eh … Mbak Rindi … Insyaallah, do’akan aku.”
Aku bersyukur, orang tua Mas Dani dapat dengan legawa menerima semua ini. mereka adalah orangtua yang amat baik.
“ Sudah siap, Pak ?” Tanya Kiai Yusuf, teman Ayah Mas Dani yang akan menjadi penghulu pernikahan adikku hari ini.
“Iya Kiai, silakan dimulai.“ ucap pak Harun, Ayah, Mas Dani.
Mas Dani dan Ayda duduk berdampingan menghadap sebuah meja kecil yang tepat menghadap ke arah Kiai Yusuf.
“ Sudah siap, Mas …?” Tanya Kiai
“ Insyaallah Kiai”.
“ Baiklah …”. Semua hadirin terdiam dan memakukan pandangan mereka pada Mas Dani dan Kiai Yusuf yang saling berjbat tangan.
“ Bismillahirrohmanirrohim…”
“Tunggu sebentar Kyai…” suara Ayda yang lemah itu memontong ucapan Kyai Yusuf.
“Maaf, belum selayaknya saya duduk di sini, silahkan Mbak Rindi …” Ayda mencoba berdiri dan seolah mempersilahkan diriku untuk mengantikan posisinya di sebelah Mas Dani.
Semua tamu terdiam memandangi kami
“Ayo Mbak …” ucap Ayda menyakinknku dengan seyuman manisnya.
“Tidak Ayda, Mbak sudah ikhlas kamu menikah dengan Mas Dani …”
“Sudahlah … Ayda lebih ikhlas lagi menerima Mas Dani sebagai kakak, bukan suami Ayda.”
Baiklah, sekarang aku lebih canggung dan bingung. Sejenak aku terdiam, termangu dengan segala yang berlaku belakangan ini. 
“Ayolah mbak... “ tangan Ayda meraih lalu menggenggam tanganku.
“Ayda keluar dari rumah sakit bukan untuk menikah, tapi Ayda ingin melihat mbak menikah dengan orang yang mbak cintai selama ini.”
Aku masih terdiam. Airmataku menetes hangat di kedua belah pipiku. Spontan kupeluk tubuh ringkih Ruwayda erat-erat. Beberapa tamu yang melihat kami tampak mengusap kedua matanya yang berlinang airmata pula.
“Mas Dani, ajak Mbak Rindi duduk.. ayo...” ucap Ayda sambil melepas pelukanku lalu tersenyum.
Tanpa menunggu lagi, aku langsung duduk di sebelah kiri Mas Dani. Sejurus kemudian, Kyai Yusuf kembali menggenggam tangan Mas Dani lalu mengucapkan lafadz ijab yang disambung dengan lafadz qobul yang diucapkan dengan lancar oleh Mas Dani.
“Bagaimana saksi, sah?” tanya Kiai Yusuf pada para saksi pernikahan.
Dan semuanya serempak menjawab “sah”. Terima kasih Ya Allah, aku tak tahu harus dengan apa kuungkapkan kebahagianku ini.
Kiai Yusuf kemudian melantunkan do'a yang cukup panjang usai aku mengecup tangan Mas Dani. Semua hadirin ikut mengucapkan, “amin” dan mengangkat kedua tangannya. Termasuk Ayda. Namun....
Usai berdo'a keperhatikan tangan Ayda tak ia usapkan pada wajahnya sebagaimana lazimnya orang berdo'a.
Kedua tangannya masih mengatup menjadi satu di pangkuannya. Ayda tak bergerak, matanya juga masih terpejam. Oh, Ya Allah....!

                                                                                                            Rania el-Amina

                                                                                                            3 September 2014

Friday, 22 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 10:20
Informasi buat rekan-rekan alumni MA Raudlatul Ulum Tahun 2015 yang berminat buat melanjutkan keperguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui jalur apapun silakan untuk tidak sungkan-sungkan menghubungi kakak-kakak IKAMARU JOGJA ISTIMEWA baik melalui Fb maupun langsung melalui CP masing-masing.
Mengingat sebentar lagi akan diadakannya tes SBMPTN serta verifikasi berkas dan segala kegiatan yang berkaitan dengan administrasi dan registrasi (sekalai lagi) silakan untuk menghubungi kakak yang ada di sana jika memerlukan bantuan terkait informasi, tempat tinggal atau bahkan jika memang membutuhkan, teman-teman IKAMARU JOGJA ISTIMEWA siap untuk memberikan bimbingan pra-ujian SBMPTN/ujian yang lain.
untuk info kontak silakan lihat di grup IKAMARU 2015 yang telah saya posting di sana.

Rania el-Amina

Sunday, 17 May 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 17:37


Pada ini, aku tak bisa mengurai dan menjelaskan apa yang kurasakan. Hatiku terasa sesak. Segala rasa benar–benar telah membelengguku. Senang bimbang, sedu, sedih, dan rasa tak percaya melebur lalu mengusik hatiku. Bahkan aku tak tahu apa nama perasaan ini, aku juga tak sanggup membendung airmata yang kini meleleh di pipiku. Ini airmata bahagia atau duka, aku pun tak mengerti.
            Dia kini sedang duduk di pelaminan, bersamaku. Bersanding sebagai sepasang pengantin yang ditaburi aneka warna bunga dan ucapan selamat dari semua orang yang dating memandang.
            Perkenalkan, lelaki dengan kumis tipis yang menggenggam jemariku ini adalah Mas Dani. Tiga belas tahun lalu ia adalah teman SMP-ku. Walau usianya beberapa bulan lebih muda dariku namun semenjak kita jadian ketika kelas VIII SMP aku telah terbiasa memanggilnya dengan sebutan “Mas” sebaliknya, ia memanggilku dengan sapaan “Dik”.
            “Apa kamu tak merasa geli dengan sapaan itu?” tanyanya suatu ketika.
            Aku hanya menggeleng dan tersenyum untuk menjawab pertanyaannya itu jujur saja kali pertama aku jatuh hati pada Mas Dani, entah mengapa hatiku seketika yakin bahwa ialah jodoh dari Tuhan untuku. Dan sekarang, harapanku di masa sekolah itu terbukti benarnya, setidaknya sekarang ia telah menjadi suamiku, imam dalam hidupku.
            Meski sempat berpisah namun perasaanku pada mas Dani tak pernah berubah. Ya tamat dari SMP, ia melanjutkan studinya di sebuah pondok pesantren di daerah Jawa Tengah, sedangkan aku menetap dan bersekolah di pinggiran kota Surabaya.
            Sesekali kami berkomunikasi melalui sepucuk surat yang saling berkabar tentang keadaan. Biasanya Mas Dni mengirim surat padaku di awal tiap–tiap bulan hijriyah dan itu adalah momen yang selalu kutunggu.
            Di pondok tempat Mas Dani belajar memang ada larangan keras membawa handphone jadi kami berkomunikasi dengan berkirim surat. Awalnya cukup merepotkan menurutku, namun lama–kelamaan, aku malah senang dengan cara ini. Lebih berkesan pikirku.
            Selama berpacaran Mas Dani tak pernah mengajakku jalan Bahkan menyentuh tanganku hanya sekali dua kali, itu pun juga ketika masih SMP dulu.
            “Aku tak mau menyentuhmu, karena aku mencintaimu, Dik. Mas mencoba menghargai Adik sebagai seorang wanita”. Jelasnya padaku saat ia bertandang ke rumah. Jawaban yang amat lugu, namun kian membuatku jatuh hati pada lelaki berkecamata itu.
            Mas Dani memang tak pernah mengajakku jalan sebagaimana lazimnya muda–mudi yang berpacaran, namun sebagai gantinya. Ia akan bertamu ke rumahku ketika ia punya cukup waktu di masa liburannya yang relatif singkat. Aku sendiri tak pernah mempersalahkan ihwal pertemuan yang jarang itu. Aku percaya meskipun Mas Dani berada nun di sana, ia akan tetap menjaga hatinya buatku, sebagaimana halnya yang kulakukan ini.
            Selama bertahun–tahun menjalani LDR--hubungan jarak jauh--kami tak pernah mendapat masalah yang menggangu hubungan kami. Justru hubungan kami malah mendapat ujian ketika suatu sore Mas Dani bertamu ke rumahku.
            Pada itu, langit mulai menguning. Burung di angkasa juga mulai beranjak pulang ke sarangnya. Suara nyaring kicaunya cukup ampuh untuk menentramkan jiwa–jiwa yang lelah carai bekerja.
            Sepulang dari berziarah di makam nenek, aku terkejutkan dengan sepeda motor biru yang parkir di depan rumahku sepeda, motor yang tentunya tak asing lagi bagiku. Tapi tumben sekali Mas Dani tak mengabariku kalau ia akan ke rumah. Diburu rasa penasaran, kukayuh sepeda onthelku lebih cepat dan …
            “Mas Dani …eh, assalamu’alaikum” ucapku gugup
            “Walaikumum salam”. Balasanya sambil terseyum ke arahku, “baru pulang. Dik?” lanjutanya.
            “Iya, Mas. Rindi tadi dari makam” jawabku sambil mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan Mas Dani.
            Dari ruang tengah, Ayda–adik perempuanku–datang dengan sepiring cemilan dan segelas es jeruk.
            “ Silahkan, Mas” ucapan Ayda lirih.” Mbak kok lama sekali kasihan kan Mas Dani nunggunnya …" sambung Ayda. Di sore yang cerah itu ibu juga ikut ngobrol dengan Mas Dani. Suasana amat cair, apalagi tampaknya ibu sudah tahu tentang hubunganku dengan Mas Dani yang selama ini aku sembunyikan dari beliau.
            Namun, ada hal yang tak biasa dan cukup membuatku merasa heran ketika melihat Ayda begitu terbuka apalagi bicara lepas. Baru kali ini aku melihat Ayda secerah ini. Perlu diketahui, usia Ayda dengan usiaku selisih dua tahun. Karena bersekolah di SMP yang sama, ia pun cukup mengenal Mas Dani, namun sikapnya amat acuh.
            Pernah suatu ketika saat aku hendak curhat pada Ayda tentang Mas Dani, eh dengan entengnya ia maleh berdiri lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkanku.
            “Ayda ndak mau dengar cerita tentang Mas Dani, pasti intinya nanti juga sama.” ucapanya lirih dan sukses membuatku jengkel.
            Penasaran dengan “sifat barunya” ini aku pun langsung bertanya padanya usai Mas Dani berpamitan.
            “Tumben Ayda ramah banget kenapa?”
            “Ramah? Nggak ah biasa aja kok mbak.”
            “Hem … biasanya saja kalau dengar kata, Mas Dani langsung ngacir pergi.”
        “Ayda kan Cuma berusaha menerima calon kakak  ipar Ayda.” Ujarnya lalu tertawa dan menggalkanku masuk ke rumah.
            Semenjak kejadian itu sikap Ayda benar–benar berubah bahkan tak jarang ia bertanya padaku tentang mas Dani, ia juga sering bertanya kapan kekasihku itu akan mampir lagi ke rumah.
            Sejujurnya, aku merasa sedikit curiga pada Ayda, lebih tepat lagi khawatir kalau ia jatuh cinta pada Mas Dani. Ah, apa ini …aku cemburu pada adikku sendiri? Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada diriku ini.
            Kucurigaanku pada Ayda rupanya benar terbukti walau ia tak mengatakan secara langsung dari gerak–geriknya aku tahu kalau ia sedang kasmaran, dan yang merisaukan hatiku, cinta pertama Ayda adalah kekasihku, Mas Dani.
            Saat sedang melamun, tanpa sadar jari telanjuknya bergerak seolah menulis kata “ Dani & ayda’ yang dilingkupi sekitarnya dengan garis berbentuk hati.
            “ Kamu ngapain Ay” tanyaku mengagetkannya
            “ Eh, Mbak Rindi. Nggak kok … nggak apa–apa ?”
             “ Jujur sama mbah, Ayda sedang jatuh cinta kan ?” terlaku spontan.
            Ia hanya menggeleng kepala lalu pergi ke kamarnya.
            Ah, Tuhan … kenapa ini ? aku tak mengerti mengapa aku begitu khawatir Ayda akau merebut Mas dani dariku? Bukankah selama bertahun–tahun ini hubungan kami baik–baik saja. Bahkan saat kuliah pun Mas dani mampu pula untuk menjaga hatinya untuku. Lalu, mengapa harus Ayda yang merenggangkan hubungan antara kami berdua?
            Hatiku kian bergejolak saat kutahu bahwa ayda sering menelfon Mas Dani sebelum ini, akau tak pernah menaruh sedikitpun rasa curiga pada Mas dani namun akhir – akhir ini hatiku tak bisa tenang. Setiap detik adalah ke khawatiran, kegelisahan serta kecungaan pada adikku sendiri, pada Ruwayda Anjani.
*  * *
            Dalam belenggu kecemburuan, aku mencoba meminta kejelasan dari Mas Dani memastikan ihwal hatinya kuteleponlah ia segera
            “ Tut …
“Iya Assalamu’alaiku ada apa dik?”
“ Mas …” suaraku tiba – tiba memberat dan menjadi sesak karena menahan tangis.
“ Dik … kok menangis kenapa? ada masalah?
“ … adik takut kehilangan Mas”
“Dik Rindi …adik tak percaya sama aku? Bukankah selama ini hatinya Mas sampean yang menjaga?
“Adik percaya, tapi …adik takut. Ini soal Ayda Mas!
“ Ayda kenap ?
“ Ayda jatuh cinta pada Mas Dani.”
“ Ha … ha… yang benar saja. Jangan ngomong yang tidak–tidak ….” Mas Dani terdengar tak percaya dengan ucapanku .
“Rindi serius Mas!”
“Dik, percayalah … cinta mas Cuma buat Rindi seorang bukan yang lain, termasuk Ayda.” Ucapanya tegas.
Mendengar hal itu, hatiku menjadi agak lega. Setidaknya aku bisa kembali membangun keyakinan bahwa Mas dani benar – benar tak punya perasaan khusus pada Ayda.
“Mas Dani …” ucapan lirih
“Iya dik …”
“ Nikahi aku, Mas”
Pernikahan ya, mungkin itulah satu–satunya jalan yang mampu membuat hatiku tenang. Dan tentunya dengan langkah itu aku akan dapat memiliki Mas dani seutuhnya Toh usia kami juga sudah cukup matang untuk mulai membangun rumah tangga, jadi tiada salahnya aku meminta Mas dani agar segera menikahiku.
Atas permintaanku itu perlu tiga hati bagi Mas dani untuk menyetujuinya. Aku memaklumnya tentang pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah, dan ibadah itulah boleh dilakukan asal–asalan, apalagi latarbelakang pesantren yang dimiliki Mas dani, tentunya akan membuatnya berpikir matang sebelum akhirnya berkata “ setuju”
* * *
Tepat seminggu setelah Mas Dani menyetujui permintaanku, bersama kedua orang tuanya, ia berkunjung ke rumahku dan melamarku. Duhai Tuhan betapa senangnya hati ini sebab orang yang aku cintai telah datang bertatap muka dengan orang tuaku dan tak lama lagi aku akan menikah dengannya.
Meskipun singkat dengan segala basa – basi dan babibu-nya, akhirnya ayah sepakat pernikahan kami akan dilangsungkan tanggal 18 Januari itu artinya tiga minggu lagi sejak hari ini. Mestinya menurutku terlalu lama, namun tak apalah, toh semua jga perlu persiapan.
Tak perlu menunggu lagi, undangan pernikahan telah disebar dengan pencantuman hari yang telah ditentukan. Hampir semua keluargaku, baik dari ayah maupun ibu memberiku selamat kecuali satu …Adik kandungku Ruwayda.
Semenjak Mas Dani datang melamarku, wajahnya tampak selalu masam. Awalnya aku tak ingin terlalu memikirkannya, namun lama kelamaan kelakuannya membuat hatiku tak tenang.
Lima hari sudah Ayda tak keluar dari kamarnya. Selain untuk berwudlu, bahkan untuk makan pun aku jarang melihatnya keluar aku jadi merasa berdosa padanya.
“Ayda, kamu kenapa ?”
Ia hanya menggeleng lalu memaligkan mukanya dariku aku ikut terdiam, kuperhatikan perlahan – lahan pipinya basah oleh airmata yang jatuh dari katupan kelopak matanya. Ia sodorkan padaku secarik kertas yang terlipat harisontal.
Tuhan, aku belum pernah jatuh cinta pada selain orang tuaku dan utusan-Mu dan kini, aku telah mendapati persaan indah itu menghiasi hatiku, namun mengapa harus Mas Dani yang menghadirkan perasaan itu padaku Tuhan?

Aku takut menyakiti kak Rindi namun aku tak sanggup menyembunyikan persaan cinta ini, dan kemarin Mas Dani telah melamar kak Rindi, itu artinya tertutup sudah kesempatan bagiku untuk memperjuangkan cintaku. Tuhan, berilah aku kekuatan, Engkau yang Maha Bijaksana, bahagiakanlah kami semua.
  Lidahku terasa kaku dan tak mampu berucap kata. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan apalagi kini aku telah benar–benar tahu bahwa Ruwayda juga mencntai Mas Dani. Apa aku harus mengalah untuknya, dan itu artinya aku harus merelakan penantianku demi perasaan adikku. Atau aku harus tetap kukuh pada pendirianku dan aitu artinya akau akan melukai adikku. Tuhan sungguh berat cobaan yang kau berikan ini …
* * *
Bersambung....
Lanjutkan Membaca Cerepen Cinta Pertama Ayda (end)

Kontak Rania

Tentang Rania

Rania Amina - Mahasiswa Sastra Indonesia yang jatuh cinta pada Free/Libre and Open Source Software. Sementara ini "numpang" tinggal di Yogyakarta. Inkscape, Gimp dan Scribus adalah aplikasi favoritnya saat ini.


Berbagi adalah hal terbaik yang pernah diajarkan oleh komunitas FLOSS