• Rania Amina

    Selamat Datang di Coretan Kecil Rania Amina

  • Rania Amina

    Tak Perlu Bersusah Payah Mengingat Namaku, Sebab Kaubakal Mengingat dengan Sendirinya Suatu Hari Nanti

  • Rania Amina

    Anda Orang Indonesia? Cintai Bahasa dan Budayanya! Kalau Bukan Kita Siapa Lagi?

  • Rania Amina

    Tanamkan Niat untuk Menjadi "Khoiru An-Nass Anfauhum Li An-Nass

  • Rania Amina

    Ikhlas, All Out, Lillahi Taala! Kunci Sukses Dunia Akhirat

  • Rania Amina

    Terima Kasih Atas Kunjungan Anda

Wednesday, 30 December 2015

Posted by Rania Amina
4 comments | 23:42
Pagi ini kabar mengagetkan tentang Ian Murdock menggemparkan khalayak, khususnya para penggiat open source di seluruh dunia. Dunia memberitakan bahwa pria kelahiran 1973 itu telah meninggal. Tidak! Ia belum meninggal.

Saya pribadi memang sekedar mengenal beliau melalui beberapa tulisan biografi tentangnya. Seketika itu, saya pun terkagum dengan ciptaanya berupa apt-get yang masih saya gunakan sampai detik ini. Kau tahu, apt-get adalah tool canggih yang benar-benar mempermudah saya dalam melakukan manajemen pemaketan pada distro linux, khususnya linux yang merupakan turunan Debian.

Baiklah, saat ini dunia memang mengabarkan tentang berita duka itu dan segala seluk beluk penyebabnya yang masih simpang siur, namun saya ingin sekedar berbagi angan tentang hal ini. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, makhluk ciptaan Ian Murdock bernama Debian bukanlah makhluk biasa. Ia adalah sistem yang terkenal dengan kestabilan dan kehandalan sistemnya. Selanjutnya, mari kita tengok. . . apakah Debian hanya sekedar berwujud Debian. Ah, saya rasa tidak. Debian telah beranak pinak dengan menjadi inspirasi bagi kelahiran distro-distro besar lainnya, termasuk Ubuntu. Bahkan Blankon pun juga menggunakan Debian sebagai inspirasinya, bahasa terbaik bagi saya untuk basis.

Saya tidak bisa memaksa anda untuk mempercayai pernyataan bahwa Ian Murdock masih hidup. Tapi, entahlah. Karena kematian hanya berlaku bagi orang yang tidak pernah melakukan hal berguna bagi orang lain selama hidupnya. Dan Ian Murdock bukanlah orang yang demikian. Jiwa boleh terbenam dalam tanah. Tapi spirit, sumbangsih, pengaruh dan semangat juang adalah matahari yang membenci arah barat. Apa anda juga akan seperti itu?
Posted by Rania Amina
No comments | 21:45


Sebagaimana yang sempat aku singgung di tulisanku sebelumnya, pada kesempatan ini aku akan mencoba untuk berbagai tentang sebuah artikel mengenai tweaking cinnamon desktop. Secara subjektif, aku ingin mengatakan bahwa artikel yang hendak aku coba alih bahasa-kan ini cukup menarik. Mengapa? Tidak ada alasan yang benar-benar kuat sebenarnya, namun satu hal yang aku tangkap, sebagai pengguna setia linux mint, bahwa sampai saat aku menulis coretan ini, linux mint masih menjadi salah satu distro yang cukup populer dan itu juga juga berimbas pada familiarnya desktop cinnamon yang dimilikinya.
Bagi yang belum tahu, cinnamon merupakan salah satu desktop andalan yang dimiliki oleh linux mint selain mate dkk. Bagi sebagian orang yang pernah menggunakan beberapa macam desktop, tak sedikit yang berargumen bahwa cinnamon termasuk desktop cantik yang “agak rakus” dan cenderung berat. 
Berangkat dari hal itu, maka aku rasa argumen tersebut merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk “mencoba” melakukan tweaking pada desktop ini. Ah iya, sebagaimana “ketololan” yang sering aku lakukan, dalam pengalih-bahasaan ini aku akan menggunakan gaya ujar seperti biasanya. Jadi, semoga pembaca sekalian tidak bingung dan berujung pada tindakan bunuh diri di awal tahun 2016. Ok, lupakan.
Tweaking ini, akan dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, 10 bagian yang (jika tidak berlebihan boleh dibilang) cukup penting, dengan kata lain wajib. Kedua, hal-hal yang direkomendasikan alias sunnah untuk dilakukan dan yang terakhir adalah bagian yang mungkin diperlukan alias mubah untuk dilakukan.
Baiklah, sebelum coretan ini kulanjutkan, ada baiknya cantumkan terlebih dahulu daftar tindakan yang akan dilakukan. Setidaknya, bila agan serius untuk melakukan ini, daftar ini akan mempermudah agan. Maksudnya? Ya, anggap saja ini sebagi list itndakan yang dapat agan pilih dan centang usai dilakukan. Sehingga jelaslah nantinya apa yang akan ada lakukan pada linux mint agan.
Khusus untuk daftar ini aku sengaja tidak menerjemahkannya. Karena aku pikir istilah semacam ini akan menjadi sedikit rancu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apalagi oleh orang yang kemampuan berbahasa inggrisnya pas-pasan macam aku, hehe.
    1. TEN ESSENTIAL ACTIONS:
        1.1 Apply all available updates
        1.2 Better settings for the terminal, Update Manager and the mechanism for installing software
            1.2.1 Improve a terminal setting
            1.2.2 Consider changing the settings of Update Manager
            1.2.3 Improve the settings of the mechanism for installing software
        1.3 Install missing drivers
            1.3.1 Preferred order for the non-free video drivers
        1.4 Optimize your Solid State Drive (SSD)
        1.5 Install a better Flash Player and some useful tools for system management
        1.6 Decrease the swap use (important)
        1.7 Solve some known bugs
        1.8 Avoid 10 fatal mistakes!
        1.9 Turn on the firewall
        1.10 Improve multimedia and font support
    2. NINE RECOMMENDED ACTIONS (NOT ESSENTIAL):
        2.1 Remove Mono and Orca
        2.2 Optimize Firefox
        2.3 Tweak Libre Office
        2.4 Disable hibernation (suspend-to-disk)
            2.4.1 How to undo
        2.5 Install an extra web browser
        2.6 Speed up your Linux Mint
        2.7 Improve Power Manager for a laptop
        2.8 Install a better DVD burning application
        2.9 Extra visual effects: the fewer, the better
    3. TEN NEUTRAL TWEAKS (MAYBE USEFUL):
        3.1 Add a weather report to the panel
        3.2 Change the wallpaper
        3.3 Access your network disk (NAS) with Gigolo
        3.4 Migrate your e-mail from Outlook (Express) in Windows, to Linux Mint
        3.5 Install some simple games
        3.6 Make the Grub boot menu pretty
        3.7 Turn NumLock turn on automatically
        3.8 Make available updates more prominent
        3.9 Disable window tiling and the HUD
        3.10 Disable window thumbnails on hover
    4. Want more tips?
5. Get help

Semua tindakan yang disebutkan diatas merupakan tindakan aman dan tidak menimbulkan crash pada sistem linux agan. Dari keterangan diartikel tersebut, si penulis memang seorang spesialis di linux mint dan tindakan-tindakan tersebut telah teruji secara konservatif. Untuk penjelasan detailnya, tunggu artikel selanjutnya . . .

Source : https://sites.google.com/site/easylinuxtipsproject/mint-cinnamon-first

Sunday, 27 December 2015

Posted by Rania Amina
3 comments | 22:15

Beberapa waktu yang lalu, seseorang teman yang baru saya kenal menemui saya di kampus. Ia datang dengan membawa sebuah laptop berwarna hitam yang ia kabarkan rusak. Dalam hal ini saya ingin menyebutnya sedang bermasalah. Ya, bukan rusak. Haha, alasan subjektif sebenarnya, karena di otak saya sebuah perangkat dikatakan rusak jika tidak dapat digunakan sama sekali. Orang Jawa biasanya mengistilahkannya dengan, “mati pletes!”.

Kehadiran laptop yang sedang bermasalah tersebut sedikit banyak melengkapi perumpamaan yang sempat terngiang di kepala saya, “Pucuk dicinta, ulam pun tiba”. Mengapa? Karena sehari sebelum teman saya itu datang, saya telah mengunduh distro favorit yang selalu menjadi favorit saya dan baru saja dirilis, apa lagi kalau bukan Linux Mint 17.3 Rosa.

Maka, setelah memeriksa permasalahan yang terjadi pada laptop teman saya tadi, saya mengindikasikan bahwa sistem operasi yang terpasang telah mengalami corrupt file system. Sok tahu? Ya, saya memang sok tahu. Apa salahnya? Toh yang terjadi memang demikian. 
 
“Bagaimana Ram, bisa?” tanya teman saya dengan wajah mulai cemas.
 
“Kamu butuhnya kapan?”
 
“Nanti sore, Ram. Aku harus presentasi tugas nanti, dan file-nya ada di situ”.
Aku tangkap wajahnya makin cemas. Dari kecemasannya itu, aku mengira bahwa file ada di laptop ini memang cukup penting dan harus segera diselamatkan.
 
“Ok, gini aja. Ini file-nya bisa aku ambi. Namun untuk memperbaiki laptop ini seperti semula, aku sedikit butuh waktu. Karena kalau mau install Windows yang ori harus nunggu bapak yang di DSDI datang”.
 
“Harus yang dari DSDI ya, Ram?”
 
“Setidaknya, kalau mau yang legal. . . maka jawabnya, iya!”
 
“Nggak ada alternatif lain yang lebih cepet?”
 
“Ada sih, tapi aku nggak yakin kamu setuju?”
 
“Apa?”
 
“Pakai Linux, seperti laptopku.” 
 
Ah, iya . . . panggil saja temanku dengan sebutan Putri (bukan nama sebenarnya, karena dia malu kalo namanya ditulis). Putri pun sejenak memperhatikan laptopku dan beberapa kali melakukan aktivitas kecil seperti membuka web browser, smplayer, writer, dan beberapa hal lainnya.
 
“Ini Linux . . . ,” belum sempat aku menjawabnya, ia menyambung ujarannya, “bagus kok, emang kenapa kalau Linux?” aku sempat tersentak dengan responnya tersebut. 
 
“Ya. . . , barangkali saja kamu nggak suka atau gimana gitu.”
 
“Nggak beda jauh sama Windows kan?”
 
“Sebenernya nggak sih.”
 
“Ok, pasang itu aja deh. Yang penting bisa dipakai, ntar kalo nggak bia aku kontak kamu ya!”
 
“Sip!”
 
Alhasil, aku pun memasang Rosa yang kemarin aku unduh ke laptop hitam tersebut. Secera tidak langsung sebenarnya aku juga ingin mereview performa Rosa pada laptop celeron dengan RAM 1 GB, dan frekuensi 1,4 GHz itu.
 
Sesekali aku perlihatkan tampilan awal Rosa pada Putri saat berjalan pada mode Live USB. Ia menggut-manggut melihat apa yang terjadi pada laptopnya. Dan spontan, wajahnya terlihat ceria ketika kutunjukkan file presentasinya dalam keadaan sehat wal afiyat dan siap ditampilkan nanti sore.
 
“Ram, misalnya nih . . . Tampilannya kamu ganti kaya Windows, bisa? Kalau nggak ngrepotin sih.”
 
Aku hanya mengangguk. Meskipun aku belum pernah mengubah tampilan Linux ke tampilan Windows, karena alasan selera dan apa ya . . . kupikir bahwa Linux punya sejuta tampilan yang lebih menarik, lagi pula tampilan Windows bukanlah standar untuk tampilan desktop, menurutku. Pun demikian, karena ini permintaan, aku cukup bermodal yakin dapat melakukan apa yang ia minta, itu saja.
 
Singkat cerita, penginstalan selesai dan berjalan dengan lancar. Rosa yang kupasang tersebut menggunakan Cinnamon sebagai default desktop-nya. Sementara aku jalankan dan aku cek, alhamdulillah lancar. Beberapa update telah aku lakukan dengan bantuan UGM-Hotspot. Selain update, aku juga menambahkan beberapa aplikasi khusus, semisal WPS untuk menggantikan Libreoffice, smplayer dan audacious untuk pemutar medianya, XDM untuk download manager yang aku integrasikan dengan firefox, Wine untuk sekedar berjaga-jaga kalau dia membutuhkan dan sentuhan terakhir adalah mengubah wajah default Rosa ke wajah Windows 10.
 
Ah iya, aku sengaja mengganti Libreoffice dengan WPS karena aku pikir si Putri akan lebih familiar dengan interface WPS yang mendekati MSOffice dibandingkan Libreoffice. 
 
Sekali lagi, semua telah berjalan dengan lancar. Dan untuk tampilan Windows aku dapatkan dari gnoome-look.org. Lebih detailnya, melalui tautan http://gnome-look.org/content/show.php/Windows+10+Transformation+Pack?content=171327.
 
Sekitar satu jam setengah, semua sudah beres, aku pun menunjukkan hal-hal dasar padanya. Tentang password root, pengelola berkas, pengelola paket, serta cara shutdown tentunya, hehe.
 
Senyum pun mengembang dengan manisnya dari kedua belah bibir Putri. Ah, hampir lupa kuceritaan, sebelum ia pergi aku memasang pada laptopnya aplikasi teamviewer agar dapat me-remote deksktop-nya jika sewaktu-waktu diperlukan.
 
Saat browsing tentang tampilan Windows 10 untuk Linux, aku menemukan sebuah artikel yang menarik berbahasa Inggris tentang tweak desktop cinnamon. Sepertinya, aku harus kembali keduniaku. Ya, berbagi dan belajar open source, setelah beberapa bulan vacum lantaran pentas yang jadwalnya beruntun nan bertubi.
 
Ketika melihat begitu nyamannya laptop Putri berjalan dengan Rosa, tiba-tiba aku jadi ingin memasangnya di laptopku. Haha, iya, laptopku saat ini masih berjalan dengan Freya dan Rafaela. Pada mulanya, aku menggunakan Rafaela saja. Namun karena sering dioprek, Rafaela jadi agak berat dan aku menemukan Freya yang ternyata jauh lebih ringan. Didorong kebutuhan untuk segera menyelesaikan tugas kuliah yang mulai menumpuk, akhirnya aku pasanglah Freya bersandingan dengan Rafaela. Kau tahu, mungkin itulah yang selayaknya kusebut sebagai cinta. Meski aku tahu bahwa Rafaela tak sesempurna dulu, dan aku telah menemukan yang lebih baik (lebih ringan dan responsif), hatiku tetap tak mampu berpaling dari keluarga Mint. Dan sekarang, perasaan itu tumbuh lagi. Apakah aku harus memungkasi tahun ini dengan kembali ke pelukan linuxmint?

Wednesday, 18 November 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 02:12

Sunday, 8 November 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:42

Sunday, 1 November 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 02:51

Friday, 30 October 2015

Posted by Rania Amina
3 comments | 17:18
Beberapa hari belakangan ini, di beberapa forum yang aku ikuti terdengar begitu riuh soal Pak Onno "yang menggugat" presiden RI. Beberapa media mengabarkan berita tersebut dan berujung pada debat kusir pada kolom komentarnya. Jika melihat cara mereka berkomentar, boleh aku katakan sebagian besar dari mereka yang berdebat tidak begitu paham apa yang merek kritiki dan apa yang mereka persalahkan.

Beberapa komentator yang moderat seringkali mengucapkan, “Semua hal kan ada positif dan negatifnya”. Untuk kali ini aku tidak terlalu tertarik untuk ikut berdebat mana yang salah mana yang benar. Semua bisa saja benar, tapi bisa juga salah. Anggap saja kita sedang berjudi tentang nasib masa depan yang akan terjadi pasca terjadinya MoU RI dengan Microsoft.

Aku memang pernah menulis soal surat tentang pengguna open source yang meminta perhatian dari pemimpin negeri. Namun, apalah arti surat bodoh itu. Usai mengikuti pesta rilis Ubuntu Wily kemarin, aku jadi terngiang-ngiang soal dukungan open source di Indonesia.

Sekarang, persetan dengan apa yang mau dilakukan oleh para petinggi negara. Jika itu dianggap yang terbaik, maka biarkanlah. Namun tetap saja, sebagai pengguna open source, aku merasa perlu adanya sedikit perubahan dalam tubuh komunitas yang telah berkembang cukup pesat.

Aku sempat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh tim GrombyangOS. Ya, mereka benar-benar terjun ke lapangan untuk memberikan sosialisasi tentang FOSS dan Linux. Anggaplah itu adalah contoh yang sederhana dan langkah pertama yang cukup baik dan perlu dilanjutkan serta di kembangkan.

Soal biaya? Untuk sebuah harapan kemerdekaan, tentu saja sedikit banyak ada biaya yang harus dikeluarkan. Orang Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea”. Tapi entah mengapa aku merasa nggak ikhlas kalau uang negara dilarikan keluar negeri untuk membeli perangat lunak dan embel-embel dukungan yang akan diberikan.  Aku lebih senang kalau duit negara itu dipakai untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam negeri ini, di bidang apapun lah . . . asal bukan bidang suap dan korup lho!

Mereka lebih baik, ya tentu saja. Kacamata mereka adalah kacamata bisnis. Tapi ayolah, sampai kapan kita akan jadi konsumen. Seperti yang sudah pernah aku bilang sebelumnya, meski tak sebaik produk yang komersial, namun setidaknya kita mampu mengembangkan produk yang sepadan dan cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan perkomputeran sehari-hari. Jangan pernah lupa, ketika negara ini dibentuk, negara ini cuma punya modal semangat dan tindakan-tindakan pasti secara pelahan hingga terwujud keadaan seperti sekarang ini. Nah, lalu kenapa kita takut untuk membuat perubahan?

Maaf, maaf . . . Aku mulai nglantur, intinya ada atau tidak adanya dukungan pemerintah, bukanlah alasan bagi pengguna open source untuk berhenti berkarya. Menjadi pengguna fanatik, sesekali bukanlah masalah, asal fanatik yang memberikan solusi. Kita sudah memiliki lumayan banyak SDM dan karya-karya open source. Tinggal bagaimana mengemasnya saja. Ini bukan soal pemasaran melulu, ilmu dan pengetahuan tidak melulu harus menjadi barang dagangan. Pada suatu posisi, pengetahuan harus menjadi barang yang dapat dibagikan secara cuma-cuma. Dan terakhir, untuk Anda, Pak Presiden RI, tolong jawab pertanyaan ini--bila Anda sempat membaca tulisan ini tentunya--, “Adakah yang salah dari sebuah harapan untuk terbebas dari belenggu produk asing? Adakah yang slaah dari keinginan untuk memerdekaan Indonesia? Adakah yang salah dengan membangkan produk dalam negeri yang meskipun masih ala kadarnya ini? Apakah kami salah bila kami berujar seperti ini?”. Saya yakin Anda orang cerdas dan hebat, namun mungkin belum kenal dengan barang yang namanya Open Source, jadi tentu saja aku tidak bisa menyalahkan orang yang tidak tahu.
Posted by Rania Amina
No comments | 09:47
Seseorang yang "lupa" aku tanyakan namanya memintaku untuk memosting puisi yang aku bawakan dalam Pesta Rilis Ubuntu di Fakultas Teknik siang-sore tadi. Jujur saja aku akui, bahwa jika dikoreksi dari sudut pandang sastra, puisi yang aku bawakan bukanlah termasuk puisi yang bagus karena ada beberapa unsur puisi yang "sengaja" aku abaikan. Hal itu aku lakukan bukan tanpa sebab, setidaknya aku hanya ingin menyesuaikan dengan hadirin yang mendengarkan,. Tentu saja aku dapat mengatakan bahwa hadirin yang ada di tempat tersebut belum tentu paham ihwal sastra, maka dari itu goal yang aku harap dari puisi yang aku buat lebih condong ke pehaman dan pesan yang ingin aku sampaikan, dan semoga berhasil.

By the way, thanks banget buat arek-arek panitia dari Fakultas Teknik yang telah memberikan aku kesempatan buat membawakan puisiku, thanks juga buat Mas Dedy dkk, keren dah pokoknya!

Oh, iya ini puisi yang aku bawakan tadi. Semoga bermanfaat!

Sebuah Pertemuan Penguin Garuda

telah terbit matahari pagi ini
untuk jadi saksi kita berkumpul di sini
tak lain sekedar menyatukan visi hati
berharap sebuah kesepakatan akan lahir

mengapa niat baik jarang terlihat
mengapa niat baik selalu jadi barang teracuhkan
mereka sebut kita bagian dari hacker (sedikit penjelasan)
dimana salahnya?

bukankah kita berdiri dengan kaki yang kita miliki
kita ambil bagian soal perkembangan teknologi
kita coba tak sekedar jadi pengikut ketidakpastian
kitalah simbol dari kebhinekaan yang telah lama terkonsep

berbagi bagian dari kehidupan
pengetahuan tak ubahnya bom waktu yang harus segera dilempar
bagai makanan jutaan orang lapar
tak mau berbagi adalah tanda kematian hidup

kita bukan pengemis bukan peminta-minta
bukan saatnya bergantung pada yang duduk di kursi
untuk apa sebuah harapan
bila akhirnya dikecewakan

maka kawinkanlah kegagahan garuda dengan kedermawanan penguin
sudah tiba masa kita bungkam segala suara
yang tak pernah lelah pandang sebelah mata cita-cita kita
apa yang salah dari keinginan merdeka?

tapi kenapa mereka asingkan kita
kita bukan pejabat yang naik pangkat jadi koruptor
kita bukan teroris yang rajin membenihkan teror
kita hanya ingin berbagi mengapa sulit sekali

matahari masih saksikan pertemuan kita
saudaraku, kita berjuang tanpa mengenal nama
kita membantu tanpa pandang sara
tak ada pamrih diantara kita, dan semoga itu berlaku selamanya

sekarang tiba saatnya sebuah pertanyaan
apa penguin yang kita piara, akan terbiarkan mendekam
atau kita terbangkan dengan sayap garuda raya?
itu sebuah pilihan


Yogyakarta 2015
Rania el-Amina
Puisi ini terinspirasi dari Sajak Pertemuan Mahasiswa karya Si Burung Merak

Sunday, 25 October 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 09:30
Kalu boleh aku katakan, aku tak begitu paham motifku dalam menulis tulisan ini. Aku rasa tulisan kali ini benar-benar berangkat dari kegersangan hatiku yang berlarut-larut. Secara sederhana, aku sedang mengalami kerinduan yang tak jelas. Ya, tak jelas pada siapa, dan tak jelas mengapa aku merasa rindu. Namun, yang sementara ini kusadari adalah kerinduanku pada sesuatu yang kesebut rasa.
Sudah sebulan lebih sandaran yang selama ini menegakkan hatiku pergi. Sesuatu yang rumit membuatnya lenyap begitu mudahnya. Menyisakan lembab dan basah di kedua pipi. Entahlah, apakah hidup yang dijalaninya saat ini mengalami perubahan dengan ada atau tidak adanya diriku, aku tak tahu. Lagi-lagi aku sekedar tahu, bahwa kalimat dalam puisi Chairil Anwar benar-benar berlaku pada diriku. Ya, batinku terasa mampus karena dikoyak sepi.
Ketika kembali kupndangi foto-fotonya yang tersenyum, kubaca kembali surat demi surat yang pernah ia kirimkan untukku, seketika sesak sekali dadaku. Aku tak mampu mengatur naik-turun napasku. Aku ingin menyapanya kembali, namun rupanya kehangatan yang dulu telah benar-benar marah padaku dan mungkin hengkang karena alasan itu.
Ya, sadar atau tidak, ini tulisan memang nglantur. Aku tak tahu harus dengan kalimat apa kurepresentasikan perasaanku ini. Puisi tak lagi cukup untuk mengobati kerinduanku pada rasa. Jika aku trus berdiam diri seperti ini, aku seolah merasakan perih Zainuddin ketika ditinggal oleh Hayati. Seperti Rendra yang kehilangan intuisi kebahasaannya, atau seperti Sujiwo Tejo yang kehilangan republiknya.
Kekacauan ini mungkin saja simbol dari kekacauan dalam diriku yang sebagian memang aku biarkan keluar. Kekecewaan pada diriku pasca acara dimalam Jumat kemarin jelas masih tergambar detail di kepalaku. Dalam nuraniku pun aku sedang terjadi kecamuk antara aku dan seseorang yang mengaku-aku diriku. Arg! Aku tak bisa menjelaskan, sialan! Kali ini, aku benar-benar ingin airmata basahi wajahku, aku ingin airmata melegakan semua yang kusebalkan ini, bagai awan yang menyatu sebagai air dalam hujan.

Rania dalam Ombangambing Hati

Saturday, 17 October 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:23
Angin apa ini dinginnya melebihi rindu
Rantingranting pohonan jadi bersampur merah
Mengajakku menari gigil di bawah jembatan
Rahim tua yang melahirkan anakanak sungai

Mimpiku pun jatuh pada selembar daun
Dihempaskannya di atas batubatu kali
Sebelum terbawa arus deras lahar dingin
Hancur dan sampai muaranya: lautmu

Betapa mungkin angin tipis ini rutin
Mengurai rambut panjangmu menjadi gerimis
Sebelum hujan pecah di bingkai jendela
Dan kupukupu terbang ke dalam cermin kamarmu

Asef Saiful Anwar


Puisi tersebut pertama kali aku dengar dibawakan oleh grup musikalisasi puisi Ramu Rima saat acara Kampung Budaya FIB UGM. Sejujurnya saat awal mendengar aku kurang begitu tertarik dengan puisi yang dinyanyikan oleh grup tersebut. Alsannya simpel, karena aku tak bisa menangkap dengan jelas kalimat yang terlantun dari puisi karya Asef Saiful Anwar itu.
Kemudian, setelah beberapa bulan di FIB entah ada angin apa, tiba-tiba aku memiliki hasrat untuk mencari tahu puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu. Alhasil, aku pun mendapatkan syair utuh tersebut dari buku antologi dengan judul yang sama dari salah seorang teman dudukku. 
Lamat-lamat aku perhatikan bait demi bait puisi tersebut. Lalu aku mecoba menyanyikannya dengan nada yang tentunya tak sebaik penyanyi aslinya. Aku bukan seorang ahli perpuisian, namun boleh dibilang aku adalah penikmat puisi yang sok, sok ingin tahu apa maksud dari puisi yang aku dapatkan itu.
Aku tahu dan amat menyadari bahwa ada nilai romantisme dalam puisi angin tersebut, namun aku sendiri tak tahu mengapa jadi demikian. Padahal tak ada satupun kata cinta kutemukan dalam tiga bait puisi itu. Ya, romantisme cinta tanpa kata “cinta”. Setidaknya aku bisa membayangkan seorang yang amat cantik muncul dalam imajinasiku saat menghayati puisi tersebut. Perempuan yang tergerai ramputnya, perempuan yang mampu menggetarkan kehidupanku, perempuan yang melahirkan kerinduan pada hatiku. 

Rekan-rekan yang ingin mendengarkan bagaimana puisi ini dilantunkan atau dimusikalisasikan dapat mendownload lagunya di link bawah ini.



Saturday, 10 October 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:40
Proyek sistem operasi terbuka berbasis Linux, IGOS Nusantara (IGN) yang dikembangkan Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama dengan komunitas belum lama ini merilis IGOS Nusantara Server 2.0 dengan kode rilis Bromo sebagai solusi sistem operasi untuk server di lingkungan enterprise.
Selama dua tahun sejak 2013 lalu, IGOS Nusantara Server mulai dikembangkan oleh tim pengembang IGN. Pengembangan dilakukan dengan memakai kode IGN X9 lalu berubah menjadi IGN S9 inilah cikal bakal untuk IGN Server 1.0 yang diberi kode rilis (Gunung) Argopuro.
Basis pengembangan IGN Bromo ini sendiri dikembangkan dari seri Redhat Enterprise Linux 7 (RHEL7) dan Centos 7 sehingga membuat IGN Server 2.0 memiliki karakteristik yang sama sebagai distro untuk enterprise.
Pengembang IGN Server 2.0 Bromo dilakukan melalui proses kompilasi ulang kode sumber dari RHEL dan CentOS. Penyesuaian dari merek dagang yang tertera menjadi IGOS Nusantara dan perubahan yang dilakukan ini mengacu pada aturan GPL yang dianut oleh RHEL.
Dirilis sebagai sistem operasi server, IGN Server 2.0 diklaim mampu menawarkan tingkat keamanan yang lebih baik, update teknologi terbaru dan jaminan kestabilan sistem yang telah diuji serta kompatibilitas IGN Server 2.0 dengan RHEL akan dapat diperoleh dengan baik.
Dipilihnya RHEL 7 karena memberikan dukungan update ke pengguna dalam waktu yang lama, sehingga IGN Server 2.0 akan memberi dukungan update yang mirip.
IGN Server 2.0 memungkinkan berbagai service dapat berjalan diatasnya antara lain lain Web Server, Mail Server, Proxy Server, OpenGeo, OpenStack, CloudStack, Virtualisasi dan sebagainya.
Fitur keamanan yang ada pada IGN Server ini menggunakan Security-Enhanced Linux (SELinux). SELinux telah sejak lama dikembangkan, penyempurnaan ekstensi keamanan untuk membatasi hak aplikasi-aplikasi sesuai dengan aksi yang dibutuhkan. IGN Server 2.0 juga memiliki fitur untuk melakukan kontrol sejumlah layanan sistem.
Sedangkan untuk penggunaan virtualisasi tersedia sVirt. sVirt memakai sejumlah aturan yang digunakan oleh SELinux yang dapat mengisolasi mesin virtual dari kemungkinan pembobolan. Pencegahan dilakukan dengan mengamankan celah keamanan di Hypervisor via sistem tamu (guest system) dan menutup kemungkinan mengakses sistem Host atau mesin-mesin virtual lainnya. Seperti pada sistem Firewall yang ketat dan restriktif, administrator sistem diharapkan memahami cara kerja dan solusi keamanan yang ditawarkan SELinux.
IGN Server 2.0 saat ini telah tersedia dalam bentuk CD instalasi. IGN Server 2.0 versi LIVE akan disediakan pada bulan berikutnya. Pengguna yang akan memakai melakukan instalasi ke harddisk harus membakar ISO image IGN Server 2.0 CD instalasi ke CD kosong, selanjutnya melakukan booting dari CD dan instalasi ke harddisk.
Saat ini IGN Server 2.0 Bromo telah tersedia melalui repositori Igos Nusatara dan repositoriLIPI.

Source : HarianTI.com
Posted by Rania Amina
No comments | 17:25
Pagi agan-agan semua . . . .
Yang merasa masih sanggup untuk mendukung gerakan Open Source di Indonesia . . .
Yang masih memiliki semangat Garuda feat. Penguin di dalam dada
Yang masih ingin belajar dan terus belajar seputar Linux
AYO. . . 
--bentar, aku ngomong apa sih, kaya orasi nggak jelas . . . Peace!

Ok, Rania ada info buat agan-agan sekalian, khususnya yang tinggal di wilayah Jogja, jangan sampai terewatkan yah . . .Wily Release Party di WRP UGM yang akan digelar pada 30 Oktober nanti . . . .




Acara ini wajib banget buat kamu yang juga ingin update perkembangan Digital Forensic dan perkembangan Mobile App Development yang lagi hits ini.
atau yang mau tahu apa aja update versi ubuntu ini dan ilmu yang lagi hits ini? Reserve a ticket now!
Pendaftaran: Ugm.id/DaftarWRP
For more info: Ugm.id/WRPJogja
Aku udah daftar lho . . .Sampai ketemu di pesta nanti . . .


Posted by Rania Amina
No comments | 05:35
Suatu masa, tepatnya beberapa tahun yang lalu, rupanya aku pernah memparafrasekan sebuah syair lagu Jepang berjudul Kimi Ga Ireba. Lagu ini tiba-tiba menjadi lagu Jepang pertama kali yang aku suka lantaran ia menjadi theme song film kesukaanku, Detective Conan.

Entah hanya perasaanku (yang baper) atau apa, kupikir ada sedikit unsur romantisme yang terselip dalam hasil parafrase terjemah syair lagu tersebut. Dan silakan mengapresiasi. . . .

-Parafrase Kimi Ga Ireba (Andai Kau di Sini)

Rintik hujan yang jatuh seakan menggores luka lama,
luka yang bahkan tak bisa kulupa usai berdo'a saat memandangmu.

Rania,
andaikan di dunia ini hanya ada satu payung untuk bernanung,
aku akan mencarimu dan memberikan naungan itu padamu,
karena hanya itu yang aku punya.

Biarlah.
Tak apa, biar saja hujan mengguyur hatiku,
setidaknya, semua itu kulakukan untuk sebuah alasan.

Rania,
beritahukanlah padaku,
apa yang mengganggumu,
petang pasti kan pulang,
selayaknya pagi kan datang,
selalu ada cerita bahagia diujung nestapa,
karena tak mungkin hujan tuun selamanya.

Percayalah,
pada suatu masa ia bakal reda,
jadi percayakanlah aku pada hatimu.

Rania,
jika kau memintaku untuk memilih antara bulan dan matahari,
pada bulanlah aku memilih,
karena aku akan dapat bersinar jika bersamamu.

Jangan kau merasa sendiri memikul beban itu,
ingatlah, ada aku di sini,
seseorang yang akan melukis pelangi di hatimu,
membenamkan lara dan menerbitkan bahagia


Pati, 2013

(*).. Harusnya aku mengirim surat ini untukmu sejak dulu, namun aku tak punya keberanian, jadi aku simpan di almari kayuku selama berwaktu-waktu. 

Tuesday, 6 October 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 00:02
Preminger dkk. (1974: 981) mengungkapkan bahwa kebahasaan dan kesastraan tidak lepas dari tindakan sebagai parole (laku tuturan) dari suatu langue (bahasa : sistem linguistik) yang mendasari “tata bahasanya” harus dianalisis. Penelitian harus menandakan satuan-satuan minimal yang digunakan oleh sistem tersebut; penelitian harus menentukan kontras-kontras di antara satuan-satuan yang menghasilkan arti, (hubungan-hubungan paradigmatik) dan aturan-aturan kombinasi yang memungkinkan satuan-satuan itu untuk dikelompokkan bersama-sama sebagai pembentuk-pembentuk struktur yang lebih luas (hubungan-hubungan sintagmatik). Dikatakan selanjutnya oleh Preminger bahwa studi wacana sosiologis sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem wacana kebahasaan dan kesasteraan yang melibatkan analisis mikro sampai analisis makro dalam perspektif wacana sosiologis. Telaah yang demikian dimulai dari telaah teks kebahasaan dan kesatraan yang dapat menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti  secara gramatikal dan selanjutnya diperoleh makna (intended Message) yang lebih mengakar dengan  kontes sosiologis sebuah wacana (discourse is cultutal bound), karena karya sastra merupakan ‘memetic’ atau refleksi dari wacana social (Supratno, 2005)
Karya sastra merupakan sebuah sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri. Dalam sastra ada jenis sastra (genre) dan ragam-ragam, jenis sastra prosa dan puisi, prosa mempunyai ragam : puisi lirik, syair, pantun, soneta, balada dan sebagainya. Tiap ragam itu merupakan sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri
Pemaknaan tersebut semestinya memerlukan konteks ungkapan wacana kesasteraan . Dalam menganalisis karya sasta, peneliti harus menganalisis sistem tanda itu dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan tanda-tanda atau struktur tanda-tanda dalam rangka sastra itu mempunyai maknam sebagai perwujudan bahwa karya sastra secara substansial diramu dengan bahan dasar ‘bahasa’ yang dirancang dari konstruksi dengan ‘linguistic enginering’, sehingga melahirkan bahasa yang memiliki estetika tinggi (bahasa sastram / bahasa rinenggo), sebagai contohnya, genre novel merupakan sistem tanda, yang mempunyai satuan-satuan tanda (yang minimal) seperti kosa kata, bahasa kiasan yang sensual, diantaranya : personifikasi, simile, metafora, dan metonimi. Tanda-tanda itu mempunyai makna  berdasarkan konvensi-konvensi (dalam) sastra, yang dapat berupa ungkapan-unkapan perbandingan kias, perbandingan dan disampaikan secara elegan, mataporik, dan estetik, sehingga melahirkan efek kompetensi estetika yaaang menimbulkan rasa haru, senang, bahagia, tegang, celamas, iba dan bahkan menjadikan pembaca hanyut dalam perangkap pikiran, idiologi, dan persaan pencipta karya sastra.yang berprinsip pada ketidaklangsungan and ambiguitas. Hal ini, sejalan dengan pandangan Robert Frost yang mengatakan bahwa karya sastra memiliki prinsip ‘saying one thing meaning another’ artinya mengatakan sesuatu, tetapi bermakna lain. Oleh karena itu. Untuk memperoleh pemaknaan yang diharapkan (intended meaning) secara tektual dan kontekstual sebuah wacana kesastran sangat diperlukan aspek-aspek budaya, ideologi, religi, politik dan bahkan aspek psikologi (Cummings, 2005:42).
Arti atau makna satuan itu tidak lepas dari konvensi-konvensi sastra pada umumnya ataupun konvensi-konvensi tanda-tanda kebahasaan. Seperti telah diterangkan, tanda-tanda itu mempunyai arti atau makna disebabkan oleh konvensi-konvensi tersebut. Konvensi itu merupakan perjanjian masyarakat, baik masyarakat bahasa maupun masyarakat sastra, perjanjian tersebut adalah perjanjian tak tertulis, disampaikan secara turun temurun, bahkan kemudian sudah menjadi hakekat sastra sendiri. Sastrawan dalam menulis karya sastranya terikat oleh hakikat sastra dan konvensi-konvensi tersebut. Tanpa demikian, karya sastra tidak dapat dibumikan maknanya secara optimal sampai ke akar-akarnya, seiring dengan paradigm posmoderen.
Pandangan wacana diatas, mengilhami peneliti untuk melakukan analisis wacana sosiologis karya sastra yang menggunakan pendekatan integral telaah kesastra dan kebahasaan, dengan maksud agar dapat dimaknahi secara tekstual maupun kontekstual, sehingga memperoleh  pemaknaan secara terpadu yang tercermin dalam fenomena karya sastra, terutama karya sastra sebagai wahana / kendaraan penulis untuk menghantarkan pikiran, perasaan dan imiginasi pengarang yang terkait dengan fenomena sosial secara dal perspektif sosiologi sastra.

Monday, 5 October 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:14
Pagi . . .pagi . . .ayo sudah pada bangun belum? 

Rania ada kabar gembira nih buat rekan-rekan semua. 

Dalam rangka merayakan peringatan Bulan Bahasa 2015, Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada mengadakan beragam kegiatan yang WOW! pastinya menarik. Beberapa diantaranya adalah kegiatan lomba yang berhadiah total uang senilai 13,8 Juta. 


Lombanya apa aja sih? 

Dalam perayaan Bulan bahasa tahun ini, Sastra Indonesia mengadakan berbagai cabang lomba diantaranya lomba cipta cerpen, cipta puisi, esai dan foto esai. 

Lomba-lomba ini dibuka untuk tingkat pelajar dan umum. Ayo tunggu apa lagi? Jangan biarkan karya terbaikmu hanya jadi file belaka di hardisk komputermu, kirimkan segara dan jadilah sang juara! 

Untuk info lebih lanjut silakan klik link berikut

Kami tunggu karya terbaikmu!
Posted by Rania Amina
No comments | 06:51

STRUKTURALISME GENETIK  GOLDMANN

1. Fokus teori sosiologi sastra diarahkan pada sastra yang dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu. 

2. Hubungan antara sastra dan masyarakat diteliti dengan berbagai cara : (i) hal-hal yang diteliti adalah faktor-faktor di luar teks itu sendiri, gejala konteks sastra. Misalnya, yang diteliti antara lain kedudukan pengarang dalam masyarakat, sidang pembaca, dunia penerbitan, (ii) hubungan antara aspek-aspek (teks) sastra dan susunan masyarakat. Sejauh mana sistem masyarakat serta perubahannya tercermin di dalam sastra. Dalam hal ini, sastra dipergunakan sebagai sumber untuk menganalisis sistem masyarakat (Luxemburg, 1986:23-24). 

3.Untuk membahas hubungan sastra dengan masyarakat, strukturalisme genetik merupakan teori penting dari sosiologi sastra yang membedah hubungan kedua entitas itu. Dalam hal ini, Goldmann menyatakan bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Akan tetapi, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destruktusasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan (Faruk, 1999:12). Menurut Goldmann, struktur itu mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak sebagai individu, tetapi sebagai wakil golongan masyarakatnya (Teeuw, 1984:153). Dalam arti, karya sastra dapat dipahami dari sisi asalnya dan dari sisi terjadinya (genetic) dari latar belakang struktur sosial tertentu (Teeuw, 1984:153). 

untuk selengkapnya silakan download di sini

Wednesday, 30 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 22:46

Tenang, mas . . Mbak. . Pembaca yang budiman. Pada tulisan ini aku nggak pengen membahas sekte-sekte agamis yang beberapa waktu marak memenggal kepala orang lain kok. Seperti biasanyanya, lewat tulisan ini aku mau sharing, ya sekedar sharing saja.
Sebagai pengguna baru Elementary Freya, timbul rasa ingin tahu apa sih arti Freya dan mengapa EOS memilih Freya sebagai code name salah satu rilisnya.
DAri hasil broswsing yang dibantu oleh Paman Google, aku beroleh sebuah informasi bahwa EOS sebelumnya memilih nama Isis untuk dijadikan code name pada rilis EOS. Namun dikarenakan dunia sedang digonjang-ganjingkan dengan tingkah polah ISIS (Islamic Satate of Iraq n Syiria) pada waktu itu, akhirnya nama Isis pun di ganti dengan Freya.
Berikut pernyataan yang aku kutip dari blog EOS .
 
While Isis worked well, there is currently an active militant group in Iraq and Syria commonly known as “ISIS” (Islamic State in Iraq and Syria). elementary obviously has no ties to that group—and we don’t think people will get us confused—but we want to both recognize the ongoing turmoil and choose a less controversial name.

Sepertinya EOS memang berencana untuk menggunakan nama-nama dewa dalam kisah-kisah mitologi untuk code name-nya. Coba perhatikan nama rilis pertama EOS yang menggunakan nama Jupiter, Raja dewa dalam mitologi Romawi, dan pada rilis berikutnya menggunakan nama Luna yang merupakan dewi dalam mitologi Romawi Luna. Dan nama Isis adalah dewi pernikahan kesehatan dan cinta. Namun sepertin yang aku singgung di atas tadi, nama Isis batal digunakan dan diganti dengan Freya yang juga merupakan nama seorang cinta, kecantikan, dan kematian. Berikut aku kutipkan sekalian informasi tentang Dewi Freya

 
Freya atau Freyja merupakan Dewi cinta, kecantikan, kesuburan, sihir, perang dan kematian. Freyja adalah seorang Vanir, yang kemudian menjadi seorang dewi utama Aesir. Freyja dikenal dengan julukannya, Vanadis, yang berarti dis of Vanir dimana kata dis adalah kata dalam bahasa Norwegia untuk dewi. Kata ini biasanya digunakan dalam bentuk jamak, disir. Informasi mengenai Freyja terkadang tercampur dengan informasi mengenai Frigg, istri Odin, yang mana nama mereka berdua, Freyja dan Frigg sama-sama berarti Lady. Dengan dewi yang lainpun, informasi mengenai Freyja terkadang tercampur, yaitu dengan Idun, sang penjaga apel awet muda. Freyja digambarkan luar biasa cantik, berambut pirang dan bermata biru. Diceritakan bahwa Freyja menikah dengan seorang dewa bernama Od atau Odur dan menjadi ibu dari dua orang anak perempuan, Nossa atau Hnossa dan Gersimi (Nama kedua anak tersebut sama2 berarti Permata). Bagaimanapun juga, Od secara misterius menghilang dan Freyja berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan suaminya itu sambil meneteskan air mata emas. Setelah suaminya menghilang (Od), dia menjadi “yang tidak pilih-pilih” diantara semua dewi yang ada. Freyja mungkin lebih tepat disebut sebagai dewi se.ks daripada dewi kesuburan. Dia memiliki banyak love affairs, dengan para dewa, manusia, Elf bahkan kurcaci. Freyja sering terlihat sebagai gundik Odin. Loki menuduh Freyja telah tidur dengan semua dewa yang ada di Asgard dan semua Elf di Alfheim (Lokasenna dari Poetic Edda). Loki bahkan menuduh Freyja telah tidur dengan saudaranya sendiri, Freyr. Tetapi baik Freyr maupun Freyja memang suami istri di kalangan Vanir. Freyja juga sangat dicari-carin oleh kalangan Raksasa. Dua raksasa, Hrimthurs dan Thrym ingin menikahi Freyja. Thor membunuh keduanya. Freyja juga sangat menyukai pertempuran dan peperangan. Dia turun ke medan perang dimana dia menerima setengah dari seluruh ksatria yang mati (setengahnya lagi masuk ke Valhalla) yang mana para ksatria ini tinggal di aula agungnya, Fólkvangar (”Battlefield”), didalam istananya Folkvang (”Field of Folk”). Aula Freyja yang lainnya adalah Sessrumnir. Freyja juga sangat menyukai emas dan dia memiliki kalung berharga yang disebut Brisingamen yang diperolehnya dengan tidur dengan 4 kurcaci yang dikenal dengan para Brising (Nama keempatnya kemungkinan adalah Alfrigg, Berling, Dvalin dan Grerr). Odin yang tidak senang dengan tingkah laku Freyja, mengirim Loki untuk mencuri Brisingamen. Penjaga Asgard, Heimdall yang punya penglihatan super, melihat si pencuri. Dia mengejar Loki dan mengembalikan Brisingamen kepada Freyja. Freyja juga mendapatkan hadiah lain berupa mantel dari bulu burung yang membuatnya dapat berubah bentuk menjadi elang. Kereta Freyja ditarik oleh dua ekor kucing (Jelas sudah, kenapa di Sea of Troll dikatakan bahwa kucing adalah hewan keramatnya Freyja). Hewan kesukaannya yang lain adalah babi atau babi hutan. Kekasih manusianya, Ottar, menyamarkan dirinya sendiri sebagai babi hutan perang dengan bulu emas yang bernama Hildesvini. Freyja terkadang disebut Sýr (sow), sebuah julukan(?). Freyja juga dikenal suka berjalan-jalan di pedesaan pada waktu malam dalam bentuk kambing betina. Tambahan, Freyja juga dewi ilmu sihir yang dikenal dengan nama seiðr (seið atau seior). Kecintaannya pada emas dan ilmu sihir membuatnya sering dikira sebagai dewi Vanir yang lain, Gullveig dan si penyhir wanita, Heid yang merupakan reinkarnasi dari Gullveig.
 
Wihi, mantep dah . . . .info ini mungkin sudah usang, namun adakah bukan hal yang salah kan untuk sekedar berbagi? Semoga bermanfaat.

#Diolah dari berbagai sumber

Monday, 28 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:01
Pagi agan-agan sekalian? Masih berbhagia hari ini? Yupz, semoga saja kebahagian tidak membuat agan-agan terlalu lama larut dalam kebungkaman (apa sih?? Nggak jelas!)

Pagi ini Rania ingin membagikan sebuah ebook keren berjudul GIMP BOOK FOR KIDS. Hehe, ini bukan aku lho yang buat. Tadi pagi tiba-tiba ada notif di beranda ada orang yang membagikan ini di grup KPLI. Yah, mumpung ada waktu. . . boleh donk aku bantu mereka buat share ebook ini.

Buat yang belum tahu apa itu GIMP, woh . . . monggo, silakan googling sebentar denga keyword "GIMP adalah", pasti dengan cekatan Pak Dhe Google akan menjawab dengan cukup akurat (kecuali inet agan lemot, Pak Dhe Google nggak bisa cekatan).

Buku ini telah terbit dua jilid. Jilid pertama pengenalan dasar, dan jilid keduanya tentang membuat animasi (format gif) sederhana. Dari segi bahasa dan pemaparan, buku ini cocok buat semua kalangan, tidak berbatas pada judul bukunya semata (for kids). 

Yups, untuk menghormati beliau sang creator buku ini, sengaja aku tidak lampirkan halaman download di sini. Hehehe, biar agan-agan juga mengunjungi webnya melalaui tautan ini. Mohon pengertiannya yah . . . hehe, kan seama penulis open source tidak boleh saling mendominasi (ini versi aku sendiri, hehe). Bukankah di dunia open source kita diajari untuk berbagi? 

Yups, semoga bermanfaat ya gan! Selamat berbahagia.

Saturday, 26 September 2015

Posted by Rania Amina
31 comments | 17:47
Kepada Yth. Presiden RI 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Presiden RI yang terhormat, sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan dan ketidaksopanan saya ini. Mohon maaf juga bila surat (yang mungkin dianggap tidak penting) ini mengganggu kesibukan njenengan. Sekali lagi saya mohon maaf.

Nama saya Rania, salah satu dari sekian juta rakyat njenengan yang tinggal dan hidup selama bertahun-tahun di Indonesia, negara yang njenengan pimpin saat ini. selain sebagai seorang rakyat, saya mengirim surat ini juga sebagai seorang pengguna Linux tanah air.

Mungkin njenengan tak peduli dan kurang begitu tertarik dengan barang yang namanya Linux, namun menurut pribadi saya, eksistensi Linux di negera ini cukup penting untuk menuju sebuah kemandirian teknologi bangsa.

Dari beberapa media, saya juga tahu keadaan Indonesia hari ini tak begitu baik (bila tidak mau dikatakan buruk). Permasalahan ekonomi, sosial dan segala tetek bengek lainnya selalu mewarnai negara yang Bapak pimpin. Sebagai rakyat yang masih bodoh, saya hanya mampu membantu lewat doa, semoga yang mimpin negara besar ini benar-benar mampu menjadi orang yang sabar, inovatif, ulet dan mampu menjadi pemberi solusi, dalam bahasa anehnya Problem Slover.

Kembali ke posisi saya sebagai pengguna Linux di Indonesia. Pak, saya tidak begitu tahu menahu soal investasi yang diberikan pihak Microsoft pada bangsa ini. Yang saya tahu, pihak Microsoft itu malah merupakan salah satu item yang yang membuat kita melarat. Setidaknya ada dua pilihan, antara melarat dan amoral.

Lha bagaimana ndak melarat coba, kalau semua komputer-komputer yang ada di pemerintahan yang jumlahnya seabrek menggunakan sistem operasi Windows sedangkan untuk satu komputer saja perlu biaya lisensi yang harganya melebihi penghasilan bapak saya perbulan. Belum lagi nanti kalau ada rilis terbaru pasti akan ada yang namanya upgrade dan pembaharuan perangkat untuk menyesuaikan kebutuhan dari perangkat lunak yang digunakan. Sekali lagi, biayanya itu mahal Pak, dan komputer itu tidak hanya di kantor-kantor pemerintahan. Rakyat-rakyat njenegan juga banyak yang menggunakan barang ajaib ini.

Di sisi lain, para pengguna komputer di Indonesia cenderung masih gemar dengan yang namanya barang bajakan. Kalau menggunakan barang bajakan memang sih tidak perlu membayar, namun saya yakin njengan adalah orang pinter yang tahu jelas mengenai hitam-putihnya barang bajakan serta dampak negatifnya sekalian. 

Di tengah kesibukan njenengan mengurus pelbagai permasalahan ini dan itu, saya mohon luangkanlah satu menit saja dari waktu yang Bapak punya untuk kembali melihat potensi Linux yang dapat membantu bangsa ini.

Bukanlah saya orang yang suka muluk-muluk. Saya punya banyak teman sesama pengguna Linux, lebih tepatnya penggiat Open Source. Kami hidup di dalam suatu komunitas yang mengedepankan kebersamaan, kebebasan berbagi pengetahuan dan kelegalan perangkat lunak. Meski kami bukan orang-orang politik, namun sering sekali kami merasa tersakiti karena beberapa kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Salah satu hal yang sampai saat ini masih menyakiti kami adalah ketika materi-materi pengajaran di bangku sekolah masih didominasi dengan materi dari perangkat lunak close source. Mungkin njenengan kurang begitu ngeh bagaimana rasa sakit yang kami maksudkan ini.

Jadi begini, Pak. Indonesia memiliki sebuah proyek bernama Indonesia Goes Open Source (IGOS). Proyek ini sejatinya adalah proyek yang diresmikan oleh lima menteri yang menjabat beberapa tahun silam. Secara garis besar, tujuan diadakannya proyek ini adalah sebagai bentuk nyata untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam bidang teknologi perangkat lunak. Namun sayang, beberapa tahun silam pula, ada menteri yang tiba-tiba mengadakan MoU dengan pihak Microsoft, naasnya meneteri tersebut adalah salah satu menteri yang dulunya ikut merilis proyek IGOS.

Bila keadaanya seperti ini terus, bagaimana mungkin produk lokal dapat berkembang bila tidak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak? Termasuk di dalamnya adalah dukungan dari pemerintah. Rekan-rekan sekolah saya sering sekali beranggapan Linux itu susah dan lebih memilih menggunakan perangkat lunak bajakan ketimbang peragkat lunak legal. Padahal Linux bukanlah momok yang patut ditakuti layaknya koruptor. Tentu saja ini adalah imbas daripada minimnya pembelajaran dan pengenalan Linux di sekolah-sekolah.

Bukan saya bermaksud membanding-bandingkan atau bagaimana, meski pada beberapa hal saya kurang suka, namun pada masalah ini saya salut dengan Tiongkok. Setidaknya mereka berani mengambil tindakan untuk memopulerkan produk teknologi mereka sendiri di negara mereka sendiri. Bahkan mereka menolak menggunakan mesin pencari Google dan lebih menekankan pada penggunanaan mesin pencari buatan mereka sendiri yang bernama Baidu. Sebuah tindakan berani, menurut saya.

Pak Jokowi, soal Linux, Indonesia bukanlah negara yang tertinggal. Sejatinya kita adalah negara yang cukup produktif (meskipun belum mendapat dukungan secara nyata dan signifikan). Indonesia punya produk Linux bernama Blankon yang telah diakui dunia. Hal tersebut terbukti dengan masuknya Blankon ke dalam jajaran distribusi Linux dunia di laman distrowatch.com. Selain itu kita juga punya IGOS Nusantara yang begitu getol mempromosikan Indonesia melalui desktopnya yang cantik nan indah. Ditingkat daerah ada Grombyang OS, Asril OS, Linux Biasawae dan ratusan karya lain yang sampai saat ini belum ter-list dan termanajemen dengan baik oleh pemerintah. Mereka hanya berkembang di komunitas dan sedang mencoba berkembang keluar dengan segala kemadirian dan keterbatasan.

Sampai pada bagian ini sejujurnya saya khawatir njenengan bingung dengan semua yang saya sampaikan ini. Pada intinya, saya dan tentunya teman-teman pengguna Linux di seluruh Indonesia, akan senantiasa siap dan berkenan untuk memajukan NKRI di bidang teknologi perangkat Lunak. Kami percaya dan kami yakin sekali bahwa dunia per-Linux-an Indonesia dapat memberikan kontribusi yang baik untuk negara ini.

Satu hal saja yang kami butuhkan, dukungan pemerintah. Ya, mungkin itu saja. Setidaknya dengan hal tersebut para pengguna komputer yang jumlahnya cukup banyak itu akan menjadi melek dan paham soal sisi buruk dari pembajakan perangkat Lunak. 

Oh iya, agar tidak salah paham. Saya menulis surat ini lantaran saya membaca sebuah berita yang mengatakan bahwa njenengan, pada sebuah acara, mengatakan agar kemajuan teknologi tidak hanya menguntungkan satu pihak dan seterusnya pada Selasa 22 Spetember 2015 lalu. Jawaban sementara dari saya dan rekan-rekan untuk permintaan Bapak sementara ini adalah Linux. 

Saya bukanlah programmer, hacker, atau ahli di bidang komputer. Saya hanya seorang yang mencoba menjadi orang yang pedulia. Saya sekedar sastrawan Linux, itu saja. Semoga Bapak Jokowi berkenan untuk membantu Indonesia menuju sebuah kemerdekaan. Merdeka! 

Terimakasih dan sekali lagi, maaf untuk kelancangan ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 27 September 2015
Seorang Pengguna Linux Tanah Air

Friday, 25 September 2015

Posted by Rania Amina
5 comments | 20:15
Pagi gan! Masih semangat ngoprek hari ini? Haha.

Pagi ini, aku ingin sharing ke agan-agan sekalian tentang slogan-slogan yang dipakai oleh disro-distro Linux. Awalnya sih aku iseng jalan-jalan ke beberapa website distro-distro Linux. Entah ada angin apa, secara mendadak aku tertarik dengan beberapa baris kata alias kalimat yang mengikuti nama distro di web tersebut.

Karena tertarik, akhirnya aku kumpulkan deh kalimat-kalimat keren itu ke dalam postingan ini. Setidaknya, aku mulai berpikir bahwa slogan atau jargon yang dipakai oleh distro-distro berikut ini telah cukup baik menggambarkan distro tersebut. Silakan disimak terlebih dahulu. . . 

- Debian
  The universal operating system

- Linux Mint
  From freedom came elegance.

- Ubuntu
  Linux for human beings.

- Elementary OS 
  A fast and open replacement for Windows and OS X.

- openSUSE 
  Linux for open minds.

- Backtrack
  The quieter you become, the more are able to hear...

- Kali 
  Our Most Advanced Penetration Testing Distribution, Ever.

- Fedora
  Freedom. Friends. Features. First.

- Red Hat
  The world's open source leader

- Mandriva 
  A better operating system.

- OpenMandriva
  A delicious linux recipe. Fun flavoured.

- Bodhi 
  The Enlightened Linux Distribution.

- PCLinuxOS
  So cool ide cube are jealous

- Arch
  A simple, lightweight distribution

- Mageia
  Change your perspective

- Manjaro
  Enjoy the simplicity

- LXLE
  Revive that old PC

- Tiny Core 
  Linux Fast. Easy. Modular. Extendable.

- Sabayon
  Open your source, open your mind.

- Vector
  Discover the difference
 
- CentOS
  The Community ENTerprise Operating System

- Pinguy OS
  Because using a computer is meant to be easy!


Satu lagi distro yang membuat aku tertarik untuk urusan jargon/slogan yaitu Slackware. Dari hasil googling-ku, distro Linux yang sudah cukup berumur ini memiliki beberapa jargon/slogan antara lain

- Slackware: Linux From Scratch, just not from scratch.
- Slackware: What the BOZOs use.
- Slackware: Have you ever actually needed PAM for anything?
- Slackware: ****s Less.
- Slackware: There really are real nerds left using Linux.
- Slackware: Elitists, and damn proud of it!

Entah yang mana yang digunakan, aku belum tahu pasti. By the way, aku juga googling jargon distro-distro lokal yang cukup terkenal seperti Blankon dan IGOS Nusantara, namun hasilnya nihil. Aku belum tahu slogan yang dipakai kedua distro ini. Ada yang tahu??
Posted by Rania Amina
No comments | 07:00
Bila agan membuka situs linuxmint.com, maka pada bagian atas akan terdapat kabar terbaru tentang generasi terakhir Linux Mint versi 17.x yang diberi nama Rosa. Mengapa namanya Rosa? Berikut aku kutipkan penjelasan dari laman web tersebut,

The third and last 17.x point release will be Linux Mint 17.3 codename ‘Rosa’.
Rosa is a classic vintage Italian, Spanish and Portuguese name.
The meaning of the name Rosa is: Rose. Used as a sign of love and compassion, the rose is also the symbol of England.
In 1545, Ronsard writes one of the most famous poems in France. In “Mignonne, allons voir si la rose”, youth is ephemeral, beautiful but short-lived, just like a rose.
Linux Mint 17, 17.1 and 17.2 users will have the choice to upgrade, and that upgrade will be both easy and safe.

Agan-agan yang sedang jadian dengan Rafaela namun ingin ingin berkenal dengan Rosa, cukup ketik pada terminal Rafaela,
"apt-get update
apt-get upgrade
apt-get dist-upgrade
".

Source: http://blog.linuxmint.com/?p=2920

Thursday, 24 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 21:14
Beberapa pagi yang lalu aku membaca sebuah berita yang mengabarkan bahwa pemerintah akan memberlakukan hukuman terhadap pendownload musik dan film ilegal. “Konon” salah satu hukuman yang akan diberlakukan oleh permerintah adalah pemutusan layanan internet bagi siapa pun yang melanggar. Kau tahu, aku hanya tersenyum simpul membaca hal tersebut.

Secara tujuan, aku sih setuju-setuju saja dengan tujuan pemerintah mengurangi (karena nggak mungkin rasanya kalau menghapus tuntas) nilai pembajakan yang terjadi di negeri ini. Namun jika kau tak keberatan, ayo ngobrol sejenak, ada beberapa hal yang rasanya mengganjal ihwal apa yang disampaikan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, Jumat (18/9/2015) lalu.

Kau tahu, sesuatu yang mengganjal ini muncul ketika ada seorang pengguna Linux dalam sebuah forum angkat bicara juga sola hal ini. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa tak ada gunanya kita memperjuangkan kelegalan software dan OS bila musik dan film di hardisk kita masih bajakan. “Sama aja omong kosong!”. Sekali lagi aku tertawa membaca sebuah komentar yang bernada demikian itu.

Memang aku akui, langkah yang diambil pemerintah itu cukup muluk-muluk dan seolah-olah tidak meyakinkan untuk direalisaikan bila melihat keadaan Indonesia saat ini. Bila yang dijadikan kiblat dan acuan adalah Korea dan Peransis, mari kita bercermin dulu, berapakah kecepatan dan bagaimana rata-rata kecepatan serta kestabilan koneksi kita. Lalu, soal memutuskan koneksi pengunduh musik dan film ilegal, aku sendiri kurang yakin hal tersebut akan benar-benar dapat terealisasi.

Namun kembali lagi, aku tak ingin membahas berlebihan soal teknis yang akan dilakukan pemerintah itu. Aku hanya ingin mengatakan pada orang-orang “berisik”di luar sana, bahwasanya seorang pengguna Linux bukanlah petugas yang multitasking soal mengurangi pembajakan. Mereka adalah spesialis, aktivis spesialis pembajakan masalah perangkat lunak. Kan sama-sama pembajakan?

Hah, bodoh sekali rasanya ketika kita meminta seorang guru matematika menyelesaikan permasalahan sastra Indonesia, meskipun mereka sama-sama guru, tapi mereka punya spesialisasi yang berbeda.

Lewat tulisan ini, aku ingin bicara sebagai pengguna Linux. Pertama kepada pemerintah, silakan berjuang melawan pembajakan tapi jangan cuma anget-anget tai ayam. Jangan lupa dengan menteri-menteri yang dulu pernah mendeklarasikan akan memajukan dunia Open Source Indonesia namun kenayataannya malah melakukan MoU diam-diam dengan Microsoft. Aku akan bertepuk tangan dan memberi apresiasi setinggi-tingginya bila pemerintah berhasil.

Lalu buat pengguna komputer, dimana pun kalian berada. Merdekakanlah diri kalian! Jangan lupa, kita punya banyak SDM yang cukup mumpuni untuk sekedar membangun software guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari. Jangan terus-menerus bangga dan terbodohi dengan bisik rayu software. Aku jahat, ya . . . Tapi aku tak sejahat orang yang dengan bangga memamerkan software bajakan yang ia pakai! MERDEKA!!!

Wednesday, 23 September 2015

Posted by Rania Amina
4 comments | 22:55

Pada kumandang takbir Idul Adha semalam, aku akhirnya memutuskan untuk menduakan Rafaela. Ya, setelah cukup lama berpikir dan menimbang ini itu, aku pun mempersiapkan mental untuk membagi hati (baca: partisi) untuk menginstall Freya. 

Mengapa Freya dan bukan yang lain? Cukup panjang sih ceritanya, namun tak apalah sambil berbagi cerita dengan rekan-rekan pengguna Linux yang lain.

Jadi gini, aku pribadi adalah pengguna lama Linux Mint. Setidaknya aku sudah mengenal Mint sejak Julia dilahirkan (rilis). Julia adalah pendamping hidup (distro) yang mendampingiku selama beberapa waktu. Dari Julia inilah aku mendapatkan banyak pengalaman berharga, termasuk juga pengalaman remastering distro.

Aku memang sering bergonta-ganti distro awalnya, namun entah mengapa hatiku mengatakan bahwa Julia dan saudara-saudaranya, Katya, Lisa, Maya, Nadia hingga Rafaela adalah pendamping hidupku yang terbaik. Selain karena kecantikan dan ketidak-rewelannya, dukungan komunitas yang ada juga cukup membantuku untuk bertahan dan nggak pernah move on dari Mint.

Namun belakangan ini aku merasa Rafaela agak kurang vit. Aku sebenarnya maklum, karena aku adalah pacar yang selalu memforsir kehidupannya. Bagaimana tidak, aku memaksa Rafaela untuk menuruti semua nafsu dan egoku, dan ia tak pernah menolak keinginanku itu. Ah, tidak. . .  Ia pernah sekali menolak saat aku ingin mendandaninya dengan Pantheon. Ia bilang, “Baju itu tak cocok buatku, Ram. Maaf. . .”. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena kenyataannya Rafaela malah sakit (crash) ketika aku paksakan berdandan dengan Pantheon.

Rafaela-ku memiliki banyak fitur tambahan. Ia adalah pacar yang hebat dan tangguh. Bagaimana tidak, ia memiliki berbagai macam jenis desktop. Mulai dari Cinnamon (aslinya), Mate, Xfce, KDE, LXDE, Openbox, Fluxbox, dan Enlightenment. Selain itu, aku juga sering bermain-main dengan terminalnya, mengaktifkan fungsi-fungsi efeknya, hingga coba-coba bermain dengan metasplot, nmap, wireshark dkk, yah. . .meskipun hanya sekedar coba-coba, tapi aku harus mengakui bahwa Rafaela adalah pasangan paling pengertian yang pernah kumiliki.

Ah iya, beberapa waktu yang lalu, karena aku terobsesi dengan film Bloody Monday, aku pun akhirnya mendandani Rafaela sehingga mirip dengan komputer si Falcon. Sekali lagi thanks, ya Rafaela kamu udah mau ngertiin kemauanku.

Namun, di sisi lain, aku merasa Rafaela tak segesit dulu saat pertama kali kami berjumpa. Semua ini memang salahku, namun aku juga tak bisa terus-terusan menyalahkan keadaan dan diriku. Apalagi sekarang tugas mulai banyak. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk mengulangi semua hubungan ini dari awal, namun aku takut. Aku takut Rafaela tak setuju. Aku takut kalau dia beranggapan cintaku padanya mulai luntur, padahal tidak. Aku masih menyayanginya.

Diam-diam aku melakukan uji coba beberapa distro. Mulai dari Ubuntu, Kali, Fedora, OpenSuse, hingga akhirnya EOS Freya. Entah mengapa tiba-tiba hatiku tertaut begitu saja saat menjalankan Freya melalui USB. Ia begitu memesona, pikirku. Setelah cukup lama aku berkenalan dan jalan-jalan (mencoba fitur-fitur bawaannya), kuberanikan diri untuk bilang pada Rafaela, “Ela, aku ingin mencarikanmu teman. Kenalkan, namanya Freya. Ia yang akan membantumu mendampingi hidupku”.

Airmata Rafaella menetes perlahan. Ia hanya terdiam, dan aku kikuk dengan segala yang terjadi ini. Maafkan aku Rafaela, aku tak ingin terus-terusan menyakitimu, aku tak ingin terus-terusan memaksamu untuk menuruti egoku. Percayalah, aku akan senantiasa bersamamu.

Usai instalasi, aku nyalakan ulang komputer. Dan ternyata Rafaela benar-benar ngambek, merajuk plus cemburu. Dia tidak mau meload GRUB milik Freya. Akhirnya aku bicara padanya secara baik-baik melalui terminal. Melalui terminal tersebut, aku katakan padanya, “sudo update-grub” dan dia memintaku untuk membisikkan password root dan akhirnya ikhlas juga Rafaela meload GRUB Freya. Thanks Rafaela. I love you!

Kau tahu, Freya memang cantik. Namun, dia agak sedikit manja. Ia tak seperti Rafaela yang sekali install langsung dapat digunakan kerja secara normal. Usai jadian dengan Freya aku harus membayar sekian ratus MB untuk membuatnya dapat bekerja maksimal.

Beberapa hal yang aku lakukan pasca jadia dengan Freya adalah menghidangkakan browser lain padanya, menambahkan codec, SMPlayer, synaptic (karena aku nyaman kalo pakai synaptic), WPS, XDM, Gedit, men-tweak beberapa fiturnya dan tak lupa menyapa terminalanya dengan sapaan, “sudo apt-get dist-upgrade”.

Tapi tak apalah. Toh sekarang aku sudah punya jadwal khusus dalam berkencan. Untuk urusan tugas-tugas kuliah aku serahkan pada Freya, karena dia masih gesit. Kalau untuk keseharian, dan belajar lain-lain aku tetap akan menggenggap jemari kekasih terbaikku, Rafaela.

Tuesday, 22 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 04:24
Rusman tetap kukuh pada pendiriannya. Ia ingin tetap menjadi penulis. Meskipun dirinya tahu kualitas tulisannya tak mampu bersaing di media masa mana pun. Baginya menulis adalah panggilan hidup yang tak semua orang mampu menjalaninya. “Ini adalah takdirku!” tandasnya dalam hati.

Ia memang gemar menulis sejak kali pertama jatuh cinta pada Rusmini, teman sebangkunya semasa SMA. Di sela-sela kegiatan belajar mengajar, Rusman tak pernah absen menuliskan sekian bait puisi untuk memikat hati Rusmini. Tak jarang pula, ia diam-diam menyelipkan sepucuk surat cinta ke dalam buku tugas Rusmini saat jam istirahat.
Perbuatan Rusman yang dilakukan secara diam-diam itu tak selamanya mulus. Pernah suatu ketika, surat yang diselipkan di buku tugas Rusmini ketahuan Bu Leli, guru Bahasa Inggris yang tengah mengajar saat itu. 

Rusman dan Rusmini pun dibuat malu bukan kepalang. Karena surat yang ditulis Rusman itu dengan cukup lantang dinarasikan Bu Leli di depan anak-anak. Akibatnya, hampir seisi SMA menjadikan kejadian Selasa siang itu buah bibir di lingkungan sekolah.

Akibat kejadian itu pula, Rusmini yang awalnya mulai tertarik pada Rusman seketika balik kanan membenci Rusman. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Namun Rusman tak pernah menyerah. Dan barangkali itu pula yang akhirnya membuat Rusmini mau menikah dengan Rusman.

Mereka menikah setahun setelah lulus kuliah. Meski berbeda jurusan, Rusman mengambil konsentrasi sastra sedang Rusmini mengambil akutansi, kebiasaan Rusman menulis surat cinta tetap berlanjut. Jika dikatakan lulus, sebenarnya kurang tepat. Karena yang lulus kuliah hanyalah Rusmini, sedang Rusman tak melanjutkan kuliahnya karena harus merawat ibunya yang mulai sakit-sakitan sebelum akhirnya meniggal dunia.

Kehidupan lelaki berkumis tipis itu pun boleh dibilang sederhana. Kesehariannya hanya diisi dengan menulis dan berjualan buku di toko milik temannya. Penghasilannya yang tak seberapa itulah yang digunakan untuk menyambung hidupnya hari demi hari sampai akhirnya ia menikah dengan Rusmini.

Berbeda dengan Rusman, Rusmini memiliki latar keluarga yang cukup mapan. Alamarhum ayahnya adalah pengusaha kayu Kalimantan yang cukup terkemuka di Jawa. Dan setelah lulus dari bangku perkuliahan, Rusmini bekerja sebagai teller sebuah bank swasta di Semarang. Kehidupan mapan yang jauh berbeda dengan Rusman, rupanya tak mengahalangi perasaan cinta untuk tetap tumbuh di hati Rusmini. Akhirnya, bulan pertengahan bulan Juli pun jadi saksi dua sejoli itu mengikat janji suji di pelaminan.

Kehidupan rumah tangga Rusman berjalan biasa-biasa saja. Semua kebutuhan hidup tercukupi oleh gaji yang diterima Rusmini sebagai seorang teller. Sayang, hingga pernikahan mereka menginjak lima tahun, perut Rusmini belum juga ada isinya.

“Apa sayangmu akan berkurang karena aku tak bisa memberimu keturunan?” tanya Rusmini penuh iba.

Rusman tersenyum sambil membelai rambut panjang Rusmini. Ia tatap dalam mata istrinya dengan penuh kasih.

“Kamu adalah pelengkap hidupku. Asal kamu masih di sisiku, aku tak pernah merasa kekurangan suatu apapun”

“Apa kamu tak rindu kehadiran seorang anak?”

“Apa arti rindu pada anak bila istriku bersedih dan aku tak bisa berbuat apa-apa. . .”

Mereka pun akhirnya larut dalam buaian mesra sepasang suami istri. Cumbuan, lenguh dan keringat adalah hal yang selalu mengeringi perjalanan panjang mereka dalam menemukan suara tangis bayi. 

***

Kabar tentang dollar yang menembus Rp. 14.000 menjadi kabar buruk bagi keluarga Rusman. Akibat dari melemahnya nilai rupiah itu bank tempat Rusmini bekerja terpaksa harus mem-PHK puluhan karyawannya, dan nama Seta Rusmini termasuk ke dalam daftar karyawan yang di-PHK.

Satu-satunya sumber pemasukan keluarga pun lenyap. Sementara ini hanya sisa gaji bulan kemarin dan uang pesangon dengan jumlahnya tak seberapa itu yang Rusmini andalkan untuk mengepulkan asap di dapur.

“Kita tak lagi punya apa-apa. . .” 

“Kita masih memiliki satu sama lain, aku milikmu dan aku memiliki dirimu, Rusmini.”

“Tapi uang kita mungkin tak cukup hingga bulan depan.”

“Kebahagian kita tidak bergantung pada jumlah uang di kantong. Lihat sisi baiknya, sayang.”

“Aku tak tahu sisi baik mana yang kau maksud, Mas.”

“Kita jadi punya banyak waktu untuk terus bersama. Kamu tak perlu lagi terburu-buru bangun pagi untuk pergi ke kantor yang kini telah membuangmu. Dan kita semakin punya banyak waktu untuk menghadirkan suara bayi di ruangan ini.”

Rusmini tersenyum. Ia selalu merasa begitu tenang bila mendengar Rusman menghibur dirinya. Ia akui bahwa Rusman memang lihai dalam mengatur kata dan mengambil hatinya melalui tulisan-tulisannya.

“Mengapa kau tak coba mengirim karya-karyamu ke media?”

“Mereka tak akan mau menerima karyaku.”

“Mengapa, kan belum dicoba. . .”

“Media itu kejam, mengirim karya ke mereka tak ubahnya dengan berjudi, yang mereka butuhkan bukan keindahan namun penghasilan.”

“Kita pun perlu penghasilan. Coba saja . . .”

Rusman tak lagi punya pilihan. Apa yang dikatakan istrinya ada benarnya. Ia memang tak pernah sekali mengirimkan karya-karyanya ke media masa sebagaimana yang sering dilakukan oleh rekan-rekannya. Dalam hatinya selalu terbesit ketakutan bahwa karyanya hanya akan menjadi sampah di meja redaksi.

***

Keadaan benar-benar memaksa Rusman untuk mencari uang. Terlebih saat istrinya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dari keterangan dokter, Rusmini harus menjalani operasi pada bagian paru-parunya. Celakanya ongkos rumah sakit tidaklah murah apalagi gratis. Prinsipnya tentang karya yang menjadi sampah di meja redaksi benar-benar di uji. Kali ini mau tidak mau ia harus bermain judi dengan redaktur media untuk mengembalikan kesehatan istrinya. Mengorbankan prinsip yang selama ini digenggam terlalu kuat. Demi satu-satunya orang tercinta dalam hidupnya, Rusmini.

Rusman pun segera bergegas mengumpulkan semua karya-karya yang dibuatnya sejak SMA. Ia pilih karya-karya yang menurutnya terbaik untuk dikirim ke berbagai media masa. Ada sekitar tujuh puluh cerpen yang ia kirim ke lima belas media masa berbeda. Mulai dari koran lokal, koran nasional, majalh hingga tabloid. Kali ini Rusman benar-benar menggantungkan harapannya pada karya-karya yang pernah dibuatnya, sebab Rusman tak memiliki keahlian lain selain menulis.

Tiga hari setelah pengiriman karyanya, beberapa surat penolakan mulai berdatangan mengiris hati Rusman. Untuk pertama kalinya Rusman merasa tercabik-cabik hatinya. 

“Redaktur kampret! Apa mereka tak mengerti sastra! Mengapa semua karyaku ditolak semudah ini!” umpat Rusman saat membaca surat penolakan yang di terimanya pagi itu.

Pikiran Rusman benar-benar kalut. Di telinganya terngiang ucapan dokter yang mengatakan bahwa bila Rusmini tak segera dioperasi maka nyawanya tak akan dapat diselamatkan. Beberapa barang di rumah telah terjual, termasuk alat-alat elektronik yang dimiliki Rusman untuk biaya rumah sakit. Satu-satunya harapan yang dimiliki Rusman adalah setumpuk karya-karyanya yang rapi disimpan di almari.

Karena terlalu kalut, Rustam pun tak dapat berpikir jernih lagi. Kali ini ia berjudi lagi dengan karya-karyanya. Ya, semua karya yang dimilikinya di kirimkan ke semua media masa yang ia ketahui. Berbeda dengan yang pengiriman karya beberapa hari yang lalu, Rusman menambahkan kalimat ancaman di bagian akhir surat pengiriman karyanya.

“. . . Kalau karya-karyaku tak dimuat dalam tiga hari, aku bersumpah akan bunuh diri. Dan itu semua karena KAU!”

Rusman kian terpukul dan kehilangan akal sehat saat dokter mengabarkan bahwa nyawa istrinya tak dapat tertolong. Padahal rumah seisinya telah tergadaikan untuk biaya operasi. Lelaki berbadan kurus itu shock berat karena ditinggal mati orang yang dicintainya. Akal sehatnya benar-benar hilang, dan akhirnya ia pun nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri setelah membakar semua karya-karyanya.

Jasad Rusman yang tergantung di tali pertama kali ditemukan oleh seorang tukang pos yang hendang mengantar surat-surat untuk Rusman. Surat-surat yang isinya tawaran kontrak kerja dan penerbitan karya-karya yang telah dibakarnya. 

Yogyakarta, 27 Agustus 2015

Rania el-Amina

Thursday, 17 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 17:15

Kamu pengguna gadget? Sepertinya kamu harus sedikit berhati-hati dengan alat canggih yang sering menemani dan membantu hidupmu tersebut. Diakui atau tidak, penggunaan gadget yang terlalu lama, akan memengaruhi kesehatan dan kejiwaan pada diri penggunanya. Dan berikut adalah beberapa dampak penggunaan gadget yang terlalu sering dan terlalu lama.

1.Mengurangi Kesehatan
Dampak penurunan kesehatan karena gadget bukanlah hal baru lagi. Telah banyak dijelaskan bahwa gadget dapat secara langsung merusak beberapa bagian tubuh kita, semisal mata, karena radiasi yang dimilikinya. 
Selain itu terlalu lama menggenggan dan memainkan layar sentuh pada gadget juga dapat memberikan dampak pada tulang khususnya persendian tulang pergelangan. 

2.Apatis
Karena terlalu lama memandangi layar gadget, kamu biasanya akan mudah lalai dengan sekitar. Ini akan menjadi berbahaya bila kamu berada di keramaian apalagi jalan raya.
Dan lagi, terlalu lama bermain dengan gadget akan berdampak pada kehidupan sosial kamu. Hal ini mungkin terjadi bila kamu terlanjur lebih nyaman berinteraksi di dunia maya dibanding dunia nyata. Akibatnya, gadget akan menjauhkan kamu dari orang-orang terdekat dan mendekatkan kamu pada orang-orang yang berada jauh di sana.

3.Nomophobia
Nomophobia adalah istilah dari gangguan kejiwaan yang berupa keresahan pada hati dan perasaan saat tidak menggenggam gadget. Hal ini terjadi karena fungsionalitas gadget yang sudah dianggap menjadi kebutuhan primer tak tergantikan sehingga orang akan merasa kehilangan satu bagian tubuh bila tidak memegang gadgetnya

Coba sekarang kita timbang-timbang, sebenarnya lebih baik mana sih smartphone yang kamu pakai saat ini, atau malah phone biasa (bukan stupid-phone lho ya!) yang udah kamu tinggalkan?

Sepintas, fungsionalitas gadget/smartphone memang menggiurkan. Apalagi dengan satu alat, kamu bisa mendapatkan banyak hal menyenangkan untuk menemani hari-harimu. Namun pada realitanya, ada beberapa hal yang tidak dapat kamu dapatkan di smartphone-mu saat ini. Benarkah?

Ya, dengan smartphone kamu akan cenderung sulit untuk melakukan penghematan. Apa lagi kebutuhan smartphone akan internet adalah sebuah keniscayaan. Berbeda dengan phone yang dapat membantu berhemat, karena dengan ponsel biasa tersebut, kamu nggak perlu repot mikir kuota dan sejenisnya. Selain itu, kamu akui atau tidak, ponsel jadul itu lebih hemat baterei, jadi tidak memerlukan biaya tambahan untuk membeli power bank, berbeda sekali bukan dengan smarthone yang perlu nancap terus di power bank?

Ah, iya satu hal juga yang sulit kamu dapatkan saat menggunakan smarthpone dan cuma ada di ponsel jadul, kehangatan kebersamaan. Tak bisa dipungkiri, sebagian besar pengguna smartphone pasti akan lebih sibuk menatap layar gadgetnya dan cenderung mengabaikan orang-orang di sekitarnya, bahkan keluarga pun terkadang dicuekin. Uh, kalo yang itu udah kebangetan sih. 

Pada intinya. Smatphone/gadget adalah hal modern yang baik dan dapat membantu produktifitas dalam kesharian kita. Namun, apapun itu, kalau berlebihan akan menjadi berbalik menjadi hal yang kurang baik. Sebagai makhluk sosial, kita memang dituntut untuk melakukan interaksi dengan orang lain. Namun akan lebih baik pula, bila interaksi di dunia nyata lebih dipertahankan dan dijaga kelanggengannya dibanding interaksi virtual. Setuju?

Tuesday, 15 September 2015

Posted by Rania Amina
No comments | 18:43
Sejak zaman dahulu sampai sekarang, pelajaran matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi momok di bangku sekolah. Alasannya, beragam. Ada yang bilang matematika itu sulit, banyak rumus yang harus dihapal, ribet dan segudang alasan lain yang memojokkan pelajaran matematika. Wah, wah andai aja matematika itu manusia, pasti protes tuh.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses jaringan internet, kamu nggak perlu lagi takut dengan pelajaran matematika. Jika di era serba sentuh seperti sekarang kamu masih kesulitan dalam mengerjakan soal matematika, pasti deh kamu belum berkenalan dengan situs bernama Mathway.

Ya, Mathway yang dapat diakses melalui mathway.com ini adalah pembantu cerdas kamu dalam mengerjakan PR matematika yang diberikan oleh bapak ibu guru di sekolah. Caranya?

Gampang banget kok, cukup tulis soal yang kamu dapatkan di sekolah di halaman awal mathway.com dan dalam hitungan detik, mathway akan memberi tahumu jawaban dari soal yang kamu tanyakan. Bukan hanya jawaban lho, kamu juga bisa melihat step by step penjelsan mengenai soal tersebut. Menyenangkan bukan?

Lebih nyaman lagi, mathway kini juga hadir dalam bentuk aplikasi smartphone Android, jadi lebih praktis dan efisien untuk membantumu.

Beberapa keuntungan yang akan kamu dapatkan dengan mathway antara lain,

1.Efisiensi dalam belajar, baik dari segi waktu maupun materi.
2.Hemat, mengapa? Karena kamu tak perlu menyewa jasa untuk pengajar matematika profesional.
3.Kemudahan dalam belajar matematika, kapan pun dan dimana pun kamu suka.
Perlu diketahui, bahwa mathway bukan saja mampu mengerjakan soal-soal matematika dasar saja, melainkan juga jenis-jenis lain seperti aljabar, geometri, trigonometri, kalkulus, statistika dan masih banyak lagi.

Eits, tapi ingat ya, mathway bukanlah jalan pintas bagi kamu yang benar-benar ingin pandai matematika. Karena eh karena, pada akhirnya kamu tetap harus belajar dan memahami matematika secara baik khususnya saat ujian. Kan nggak boleh bawa hp atau alat hitung, iya kan?

Namun, kalau sekedar ingin tampil smart di depan rekan-rekan belajar sih . . . ? Boleh nggak ya? 
Posted by Rania Amina
No comments | 06:08
terkoyak sepi mencari arti
berjalan tapi kemana lagi
tujuan telah terlewati
tapi kenyataan memungkiri
apa diam artinya mati?




bergerak dengan merangkak
pada masa yang mengerak
mengendap paksa di otak
menyiksa dengan telak
bisa bantu aku bilang tidak?

kau masihlah dermaga
tapi angin jahat menyiksa
ia tiup keangkuhan rasa
hengkanglah semua
biduk pun tak bisa ke sana


15 Sepetember 2015

Sunday, 13 September 2015

Posted by Rania Amina
2 comments | 08:54


Mungkin ini terdengar aneh bagi sebagian orang. Bahkan aku tak begitu yakin ada penulis yang pernah melakukan hal ini. Baiklah, bismillah.

Permisi agan-agan dan para mastah linux, jadi ceritanya nih, aku mau pura-pura menjadi penulis linux. Nah untuk merealisasikan keinginanku tersebut, tentunya aku harus menulis dan (meskipun belum jadi) inilah hasilnya.
Aku belum tahu, The LINUX User akan benar-benar aku jadikan judul atau tidak, itu bisa diaturlah nanti. Namun, mengingat keterbatasan pengetahuan yang aku miliki, dengan segala kerendahan hati, aku memohon review berupa masukan yang sekiranya dapat aku jadikan pijakan melangkah ke arah yang lebih.
Selanjutnya, (calon) buku tersebut telah aku upload dan dapat agan unduh melalui tautan yang telah aku sediakan di bawah tulisan ini. (Calon) buku tersebut belum aku edit sedikit pun, usai merampungkan bagian awalnya.

Jika agan-agan bertanya, mengapa aku membagikan ini? Sebenarnya begini, karena buku ini sedikit banyak menyinggung tentang linux, aku jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sering dilakukan oleh para pengembang open source, yaitu membagikan tulisannya (baca: source code) untuk memperoleh review dan perbaikan. Memang sih aku nggak tahu apakah itu berlaku di dunia penulis buku atau nggak. Tapi, siapa peduli, toh aku ingin membuat sebuah teknik baru dalam dunia sastra (mulai gedhe nih omongnya).

Hal yang mungkin perlu menjadi catatan, aku bukan orang yang pandai membuat program, bukan pula ahli coding, bukan seorang hacker, apalagi seorang yang WOW di bidang linux. Aku hanya seorang sastrawan FOSS, itu saja.

Kontak Rania

Tentang Rania

Rania Amina - Mahasiswa Sastra Indonesia yang jatuh cinta pada Free/Libre and Open Source Software. Sementara ini "numpang" tinggal di Yogyakarta. Inkscape, Gimp dan Scribus adalah aplikasi favoritnya saat ini.


Berbagi adalah hal terbaik yang pernah diajarkan oleh komunitas FLOSS